Sabtu, 02 Februari 2008

Istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid Meninggal Dunia

Kabar duka datang dari Yogyakarta, setelah mengalami koma, tim dokter memastikan istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Kastian Indriawati meninggal dunia. "Beliau meninggal dunia pukul 00.49 WIB," ungkap humas PKS Hartono yang sedang berada di RS Yogya Internasional Hospital, Yogyakarta, Senin, 22 Januari 2008.
Hartono mengungkapkan, Kastian memang sudah lama menderita penyakit teroid dan menjalani perawatan secara rutin seminggu sekali di RSPAD Jakarta. "Penderita penyakit tersebut tidak boleh capek. Namun, usai ibadah haji, beliau sibuk mengurus anak-anaknya di Gontor," jelasnya.
Ketua MPR Hidayat Nurwahid bersama puluhan aktivis PKS berada di rumah sakit. Seluruh kader PKS berduka cita atas kehilangan istri mantan presidennya.
Kastian Indriawati akrab disapa Ummi Ina jatuh sakit pada Kamis (17/1). Diduga, Ummi Ina sakit karena kelelahan sepulang menunaikan ibadah haji. Sehari sebelum sakit, Ummi Ina sedianya ingin ke Ponpes Gontor, Ngawi, dan Ponorogo, Jawa Timur untuk menjenguk putri sulungnya Ina dan Ala Qoiru putra ketiga yang terkena musibah kebanjiran.
"Karena mendapat kabar putra putrinya kebanjiran sampai baju-bajunya hanyut, meski sudah kelelahan ibu memaksa ingin berangkat ke Gontor dan Ponorogo menjemput putra-putri-nya pada hari Rabu itu," urai Imam.
Ummi Ina sempat belanja dan membersih-kan rumah hingga pukul 21.00. Dari situlah, dia mengeluh sakit sampai akhirnya harus dibawa ke rumah sakit. Awalnya Kastiyan dirawat di RS Islam Kalasan. Karena kekurangan peralatan kemudian Kastiyan dipindahkan ke RS Yogya Internasional Hospital.
SBY Melayat
Presiden SBY me-nyempatkan diri menya-latkan jenazah Ny Kastian Indriawati (45), istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Salat diimami Hidayat sendiri.
Usai salat jenazah di rumah duka yang ber-lokasi di Dusun Kadipa-ten Lor RT 3 RW 8, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (22/1/2008), SBY sempat memanjatkan doa.
Dalam doanya, SBY meminta agar keluarga yang ditinggalkan tawakal, tabah menghadapi ujian yang maha berat ini. "Kami berharap tetap ada hari esok yang lebih baik," kata SBY.
Presiden SBY mengaku mengenal sosok almarhu-mah bukan hanya tekun dalam beribadah, tetapi juga dalam kegiatan sosial, pendidikan dan lain-lain.
"Kepergian beliau ten-tulah yang terbaik bagi Allah SWT, meskipun terus terang kami semua terkejut atas kewafatan almarhumah. Kami semua mendoakan almar-humah diterima di sisi Allah SWT, sesuai dengan amal ibadah, pengabdian dan apa yang dilakukan untuk umat, bangsa dan negara," katanya.
Sebelum salat jenazah, Hidayat sempat men-ceritakan kronologi sakit yang diderita istrinya hingga ajal menjemput. Hidayat menuturkan, sepulang menjalankan ibadah haji awal Januari lalu, istrinya menjalani kegiatan yang tidak henti-hentinya. Mulai menerima kunjungan tamu hingga menyiapkan rencana kunjungan mereka ke Ponpes Gontor.
Di ponpes ini, anak sulung dan anak ketiga Hidayat, Inayahzzilati dan Allakhoiri, menuntut ilmu. Saat banjir besar melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur, pondokan kedua putranya itu ikut kebanjiran. Kamis 17 Januari, kata Hidayat, rencananya mereka akan berkunjung ke Gontor.
Namun dini hari itu Kastian dirawat. Hari itu Hidayat Nurwahid sedang berada di Ciamis, Jawa Barat bersama Ketua PB-PGRI Prof.M.Surya, untuk memberikan materi pada sebuah seminar Imtaq di Islamic Centre.Bahkan para peserta seminar berdoa bagi kesembuhan Kastian, namun Tuhan berkehendak lain.

(uky/ap/ganesha)