Rabu, 13 Juli 2011

Hal-Hal Penting di Minggu Pertama Masuk Sekolah Dasar

Saking enaknya, tak terasa liburan sekolah hampir usai. Sebentar lagi tahun ajaran baru 2011/2012 segera dimulai. Bagi para orangtua, pasti merasa istimewa mempersiapkan buah hatinya masuk sekolah, apalagi buat si Kecil yang pertama kali mulai kenal sekolah formal (Sekolah Dasar).
.............................................
Beragam sekali respon seorang anak menghadapi hari pertama bahkan hingga hari keenam di sekolahnya. Menjelang hari pertama masuk sekolah, biasanya sikap anak berubah. Ada yang menyambutnya dengan riang gembira, bahkan beberapa hari menjelang masuk sekolah sudah tidak sabar menanti datangnya hari H, tapi ada juga yang malah jadi rewel, bahkan mogok tidak mau berangkat sekolah di hari pertamanya.
Apa saja yang biasanya terjadi pada murid baru sekolah dasar di awal tahun ajaran baru?
Pre-Visit
Hal yang wajar buat si Kecil jika ia bereaksi terhadap lingkungan dan suasana baru. Bila anak bersikap rewel, atau menangis keras saat hari pertama sekolah, bisa jadi disebabkan ia merasa takut berada di suatu lingkungan yang baru. Lingkungan itu termasuk guru dan teman yang baru pertama kali dilihatnya.
Apalagi lingkungan sekolah, merupakan sebuah dunia luar pertama baginya, yang sebelumnya hanya mengenal lingkungan di sekitar rumahnya saja. Atau di Taman Kanak-kakak yang lingkupnya lebih kecil. Ketakutan ini juga bisa akibat ia merasa tegang, karena harus bertemu dengan teman-teman dan pelajaran baru.
Untuk menetralisir kondisi ini adalah dengan mengenalkan sekolah barunya terlebih dahulu sebelum masuk di hari pertama. Orangtua bisa ajak si Kecil untuk jalan-jalan ke area sekolah barunya. Mengenal lebih dekat lingkungan di sekitarnya sambil memberikan penjelasan kepada si Kecil tentang calon tempat dia belajar nanti. Atau saat pendaftaran, anak diajak melihat-lihat sekolah atau berkenalan dengan beberapa guru.Atau berkenalan dengan calon temannya.
Memperkenalkan pelajaran yang akan dihadapinya nantinya, juga merupakan salah satu persiapan yang harus diperkenalkan sejak awal. Sehingga saat masuk nanti, ia tidak akan kaget dengan pelajaran yang tentunya berbeda dengan saat ia di kelompok bermain atau TK.
Hindari Menemaninya Belajar
Kadang-kadang justru orang tua yang sering tidak tega atau merasa kasihan meninggalkan si Kecil sendirian di kelas. Orangtua pun kerap bersikap permisif untuk tetap tinggal dan menemaninya belajar. Itu terjadi di hari pertamanya bersekolah.
Hal ini seebaiknya dihindari oleh orangtua. Adalah hal yang wajar bila saat hari pertama di sekolah, si Kecil merasa kehilangan orangtuanya saat akan ditinggalkan. Namun dengan menemaninya, akan berarti mengganggu proses adaptasinya dengan lingkungan baru. Hal ini juga menghambat proses sosialisasi dengan lingkungan dan teman-teman barunya.
Apalagi bila orangtua menemaninya belajar di kelas. Ini tentunya akan menghalangi proses kemandiriannya dalam beradaptasi dan menghadapi situasi yang terasa baru baginya. Bisa jadi di keesokan harinya, anak akan rewel dan tidak mau ditinggal. Selain itu, peran dan kerja keras para guru juga diperlukan agar ia mampu mendapatkan perhatian dan kepercayaan anak muridnya.
Yang paling penting dilakukan oleh orangtua adalah memberikan perasaan aman dan mengurangi gelisahannya saat akan masuk sekolah. Caranya, perkenalkan anak dengan lingkungan, guru dan mencarikan teman baru. Ini akan membantunya menghadapi hari pertama yang menegangkan ini.
Peran serta pihak sekolah juga sangat dibutuhkan, untuk membantu para balita yang menghadapi hari pertama sekolahnya. Akan lebih baik bila pihak sekolah juga mau memberikan kesempatan bagi murid baru untuk memberikan satu hari khusus perkenalan bagi anak yang baru masuk sekolah. Jadi hari pertama masuk sekolah tidak diisi dengan materi yang berat, cukup perkenalan dengan lingkungan sekolah, guru dan teman baru tentunya. Image awal yang terbentuk cukup berperan penting untuk menambah percaya diri si Kecil di hari berikutnya.
Kurangi Kecemasan Si Kecil
Untuk meminimalisasi kecemasan anak, Charles E. Schaefer, Ph.D., Direktur Pusat Pelayanan Psikologi Farleigh Dickinson University dan Theresa Foy DiGeronimo M.Ed., ass., guru besar bahasa Inggris William College, New Jersey, memberikan saran-saran penting untuk orangtua:
1. Perencanaan
Anak-anak perlu mengetahui dengan tepat apa yang akan terjadi di sekolah nanti. Karena itu, ceritalah hal-hal yang akan ditemuinya di sekolah. Bila mungkin ajak dia mengunjungi calon sekolahnya. Sehingga ia mendapat cukup informasi mengenai guru-gurunya, ruangan kelas, dan murid-murid lain calon teman-temannya.
2. Ceritakan Apa yang Akan
Dilakukan Anak di Sekolah
Berikan penjelasan yang spesifik pada anak, “Kamu akan belajar dan banyak main di sekolah”, terlalu kabur dan kurang bisa meyakinkan anak. Perjelaslah keterangan Anda. Kalimat seperti, “Semua anak akan masuk kelas, meletakkan tasnya di tempatnya masing-masing, lalu guru akan menjelaskan pelajaran seperti membaca, berhitung dan bernyanyi,” membuat ia mempunyai gambaran yang lebih jelas.
3. Lama Sekolah
Umumnya, waktu adalah aspek yang menakutkan bagi anak-anak. Terutama karena mereka belum bisa memahami berapa lama sebenarnya ‘beberapa jam’ itu. Perkataan ‘Ibu akan menjemputmu 3 jam lagi’, sama artinya dengan ‘Kamu tidak akan bertemu ibu lagi’.
Mempersingkat waktu dengan mengatakan ‘Kamu akan berada di sini sebentar saja’ pun bukan langkah yang bijak. Lebih baik katakan yang sebenarnya, ‘Kamu akan senang bersama teman-temanmu sampai tak terasa Ibu datang untuk menjemputmu lagi’.
4. Mencemaskan Perpisahan dengan Orangtua
Anak-anak sering mengalami kecemasan ketika harus berpisah dengan orangtua yang mengantarnya. Sebagian anak membayangkan dirinya dalam bahaya karena ayah-ibunya tak ada. Sebagian lain mencemaskan keselamatan orangtuanya. Untuk itu orangtua perlu menjelaskan mengenai keberadaan Anda. Beri informasi mendetail seperti, “Ayah akan pergi ke kantor setelah mengantarkanmu ke sekolah.”
5. Mengurangi Ketakutan Anak
Anak-anak yang ketakutan mungkin akan mengekspresikan ketakutannya lewat berbagai kemunduran perilaku, seperti mengisap jempol, ngompol, merengek-rengek, atau mungkin juga mereka malah menarik diri, cemberut, suka marah tanpa sebab, dsb.
Jangan balas perilaku tersebut dengan emosi, anggap saja ini sebagai tanda bahwa ia membutuhkan kata-kata yang menenteramkan. “Ibu tahu kalau kamu tidak akan mengemut jempolmu lagi, sebab kamu kan sudah besar.” Jangan katakan, “Kamu tidak boleh ngompol lagi. Gurumu dan teman-temanmu pasti tidak suka dengan kebiasanmu ini’.
Persiapan menjelang masuk pertama kali ke sekolah dasar bukan cuma untuk si Kecil saja, orangtua dan guru juga berperan penting untuk memberikan dukungan moral pada si Kecil. Ciptakan image masuk sekolah menjadi hal yang sangat dinanti-nanti dengan tidak sabar oleh si Kecil. Selamat tahun ajaran baru! (gns/adc/nt)

Selasa, 12 Juli 2011

Mumpung Siswa Tak Ada di Sekolah


Liburan saatnya sekolah berbenah
Bagi sebagian besar orang dianggap sebagai hari kebebasan. Bagi siswa liburan berarti hari-hari tanpa kewajiban masuk ke sekolah atau belajar di kelas. Bagaimana liburan bagi guru, kepala sekolah dan komponen sekolah lainnya?
.....................................................
Untuk beberapa hari, guru, kepala sekolah dan staff tata usaha bolehlah ikut larut dalam kenikmatan libur sekolah. Bersama keluarga, pergi ke obyek wisata, berkunjung ke famili di luar kampung halaman, atau bersantai ria di rumah. Liburan penting untuk penyegaran raga dan psikologis.
Dr. Agus Sumantri, M.Pd., mengatakan liburan adalah salah satu hak guru. Para guru berhak menikmatinya.”Itu sudah jadi hak guru. Liburan bisa dimanfaatkan untuk me-refresh-kan diri dari kejenuhanan, namun juga bisa digunakan untuk merefleksikan diri tentang kinerja yang telah dilakukannya.” Ujar Doktor Pendidikan lulusan UPI Bandung itu.
Namun lanjut Agus, menjelang tahun ajaran baru tiba, lembaga sekolah harus kembali bersiap untuk menjalankan fungsinya. Guru tak bisa berleha-leha lagi.
Idealnya bagi guru, liburan tak boleh dihabiskan tanpa hal-hal positif. Ini karena di tengah mepetnya sisa liburan, sekolah juga perlu waktu untuk mendesain kembali bagaimana kualitas pendidikan yang bisa diberikan kepada siswa semakin baik di tahun ajaran baru. Desain itu bukan hanya untuk siswa baru, tapi juga untuk siswa lama,” kata kepala sekolah SMPN 2 Ciamis itu.
Itu sebabnya, tambah Agus, khususnya di SMPN 2 Ciamis setiap menjelang tahun ajaran baru selalu ada program workshop bagi guru. Selama 2-3 hari, ibarat handphone, mereka kembali di-cash.
“Dengan cara itu guru-guru kami menjelang tahun ajaran baru telah siap dengan komitmennya untuk meningkatkan kinerja dengan segala persiapan yang maksimal seperti penguasaan materi ajar, metode pembelajaran dan juga administrasinya,” katanya.
Bukan hanya itu waktu liburan yang tersisa sejatinya harus pula dipakai sekolah untuk memperbaharui mental dan semangat semua komponen sekolah. Kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha, siswa dan bahkan orang tua serta pemangku kepentingan (stakeholder) sekolah lainnya mesti memperbarui mental dan semangat demi sekolah.
Agus setuju, di tengah ketatnya persaingan kualitas sekolah, sudah saatnya sekolah terus berbenah. Di tengah tuntutan masyarakat yang semakin kritis, sekolah, baik negeri maupun swasta harus kian nyata menunjukkan kualitas.
Performance Baru
Beraitan dengan kinerja guru, Yunizar dalam tulisannya di sebuah website mengatakan bahwa tahun ajaran seharusnya menjadi tantangan menarik bagi guru, terlebih bagi mereka yang sudah mendapat tunjangan profesi. Tekad untuk peningkatkan kinerja, peningkatan disiplin, dan peningkatan kualitas diri sepantasnya bergema di kalangan guru.
“Di tempat saya mengajar, biasanya ada iklim seperti itu. Sehingga apa yang mereka dapat (penghargaan) tentunya sebanding dengan yang apa mereka kerjakan,” ujar Yunizar.
Tahun ajaran baru adalah saatnya memulai langkah tanggung jawab dan hak baru. Tidak boleh ada lagi pelanggaran ketentuan dalam kesadaran atau di luar kesadaran seperti setahun atau selama bertahun-tahun sudah dilakukan.
“Guru-guru yang tidak melaksanakan tugas dengan baik, pegawai TU yang lebih suka bermain game di depan komputer dari pada menyelesaikan tugas-tugas administrasi, Kepala Sekolah yang lebih banyak keluar meninggalkan sekolah dari pada mengurus sekolah dan para siswa yang tidak ikhlas mematuhi ketentuan dan peraturan sekolah, itu tidak boleh lagi ada.”ujarnya.
Sementara itu Ismilah Ardianingrum, seorang guru di Kebumen menuturkan bahwa untuk membuat tahun ajaran baru nanti lebih baik dari tahun ajaran sebelumnya, dibutuhkan kerja sama solid serta kinerja yang baik antara pengelola satuan pendidikan dan para pemangku kepentingan pendidikan.
“Kerja sama itu mesti dibarengi semangat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu faktor yang berperan penting adalah pendidik. Pendidik diharapkan bisa mendayagunakan segala kompetensi, antara lain kepribadian, pedagogik, sosial, dan profesional.” Ujar Ismilah.
Kata Ismilah, beragam kompetensi itulah yang semestinya dapat memfasilitasi peserta didik untuk menjadi manusia pembelajar sekaligus generasi penerus pembangunan bangsa. Dalam pembelajaran, pendidik perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, pendidik mesti memahami karakter psikologis peserta didik dalam pembelajaran.” Jadi terjadi integrasi antara hati dan diri sehingga memotivasi siswa dalam pembelajaran.” tegasnya.
Ia menjelaskan, dalam buku The Power of Emotional and Adversity Quotient for Teachers, seorang pendidik dianalogkan sebagai air, udara , api, dan tanah. Ibarat air, guru harus terus menyejukkan dan memberikan kesegaran. Ibarat udara, guru harus terus melegakan dan memberikan nafas kehidupan. Ibarat api, guru harus terus menghangatkan dan memberi penerangan. Ibarat tanah, guru harus terus menopang dan memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang.
“Begitulah seharusnya guru, pendidik yang selalu memberi ruang bagi perkembangan potensi peserta didik. Selalu membekali peserta didik dengan kompetensi yang sesuai untuk menghadapi persaingan global.” kata Ismilah.
Tampilan Sekolah Baru
Sekolah-sekolah yang mudah dijangkau, nyaman dan selalu memberi inspirasi akan selalu di minati para siswa. Di tahun ajaran baru, banyak trik yang dapat dilakukan sekolah untuk memperbaharui penampilan sekolah. Contohnya penampilan fisik.
Sekolah bisa berbenah untuk ‘sedikit’ merubah suasana lingkungan. Bila misalnya selama ini kurang bersih, maka dibuat lebih bersih dan sehat. Bila gersang, maka perlu penghijauan. Bila ‘berantakan’, maka perlu penataan.
Sekolah-sekolah yang memiliki dana yang cukup bisa merubah warna cat bangunan, kelas atau melakukan perubahan di beberapa bagian saja. Perubahan tampilan ini, dapat memberikan penyegaran bagi guru dan siswa. Mereka akan bosan bila dari tahun ke tahun, sekolah tak mengalami perubahan termasuk dalam hal perubahan penampilan fisik bangunan dan lingkungan sekolah. Penataan lingkungan fisik yang efektif sangat mempengaruhi basis belajar siswa dan pencapaian tujuan pembelajaran.
Intinya liburan jangan dibiarkan berlalu begitu saja. Sekolah-sekolah yang dinamis akan memanfaatkan masa liburan untuk memperbaiki kualitas dan layanan pendidikan di tahun ajaran baru. Sebaliknya sekolah yang cenderung statis hanya akan sibuk merencanakan penyambutan seremonial untuk siswa baru saja.Tak lebih dari itu.
(apon/ganesha).

Selasa, 05 Juli 2011

Manjakan Anak dengan Liburan Positif

Liburan: sebuah kata yang paling dinanti oleh anak-anak sekolah, orangtua juga para guru. Namun apakah anda sudah punya program khusus masa liburan? Mau ke mana? Mau apa? Mau diisi kegiatan apa? Apa ada tempat atau kegiatan terbaru, dimana, berapa harganya, sesuai budgetkah?
................................
Liburan sekolah akhirnya tiba. Sesuai kalender penddikan secara nasional liburan sekolah tahun ajaran 2010/211 seharusnya berlangsung selama dua minggu. Walaupun tiap daerah nampaknya berbeda, namun secara umum awal bulan Juli hingga minggu kedua/ketiga Juli, semua sekolah tutup dari kegiatan belajar mengajar.
Memasuki masa libur sekolah ini berbagai rencana sebaiknya sudah diskema sedemikian rupa oleh para orang tua untuk putra-putrinya. Liburan harus dapat memberikan pencerahan atau relaksasi pada mereka setelah satu tahun pelajaran mereka fokus pada rutinitas kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di sekolah. Di penghujung tahun ajaran para peserta didik ini merasa sangat kelelahan. Sepantasnya anak-anak ini “dimanjakan” dengan kegiatan liburan.
Agar liburan interpretasinya tidak berarti hura-hura, malas-malasan, penghambur-hamburan, kemewahan, maka liburan harus dibuat positif. Ada beberapa solusi agar acara liburan itu lebih bermanfaat, produktif dan tidak terkesan hura-hura. Berikut pilihan liburan yang bisa anda pilih untuk putra-putri atau kerabat anda:

1. Berlibur Bersama Kerabat
Menikmati liburan bersama keluarga lain atau kerabat atau masih ada hubungan keluarga, membuat orang tua tidak kawatir melepas anaknya untuk menikmati liburan. Akan lebih menyenangkan lagi, jika diantara sepupu ada teman yang sebaya. Ini adalah salah satu pilihan tempat liburan yang memiliki nilai positif dan mengandung muatan visioner.
Misalnya berlibur ke tempat tinggal kakek-nenek dan saudara lainnya di daerah, dengan tujuan untuk mempererat tali silaturrahmi. Dalam mengisi liburan ini dapat pula digali potensi-potensi alamiah yang perlu dikembangkan atau belum tergali sama sekali. Dengan liburan ini pula diharapkan bisa timbul sikap rasa ikut memiliki dan tanggung jawab atas tanah leluhurnya untuk bisa dilestarikan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kehidupan masyarakat banyak. Selama ini potensi orang-orang kampung hanya bisa dimanfaatkan suara konstituennya oleh mereka yang berambisi untuk meraih jabatan politis.
Berlibur bersama kerabat, di tanah leluhur, secara langsung berarti pula mengajak anak-anak belajar melihat kultur keluarga leluhur, keluarga lain, melihat daerah dan lingkungan lain, yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari.
2. Berlibur dengan
Mengembangkan Diri
Akan lebih bijak jika orang tua menggiring putra-putrinya, pada masa liburan sekolah ini untuk mendorong putra-putrinya agar mengikuti pendidikan dan pelatihan serta keterampilan lainnya yang disesuaikan dengan hobi, bakat dan minat anak demi pengembangan diri mereka.
Trend ini tergolong hebat. Bagi keluarga yang sudah terbiasa memprogramkan pengembangan diri putra-putrinya, sejak jauh hari biasanya mereka sudah sudah menyusun jadual liburan. Misalnya ingin menghabiskan liburan dengan kursus apa. Bisa kursus piano, renang, komputer, bahasa asing, sepakbola, dan lain-lain. Namun karena hari libur, tetap diupayakan agar anak-anak menikmati kursus dengan situasi santai. Akan lebih baik diantara waktu kursus mereka diajak ke toko buku, agar mereka bisa membaca sepuasnya dan memilih buku mana yang akan dibeli.

3. Rekreasi
Rekreasi tidak harus dilakukan pada tempat yang jauh, tetapi bisa dilakukan pada tempat-tempat wisata di sekitar kota tempat kita tinggal. Di Jawa Barat, di kota Bandung dan sekitarnya banyak tempat rekreasi yang jaraknya tak terlalu jauh, seperti Kebon Binatang, Taman Lalu Lintas, Boscha. Atau wisata alam perbukitan, pegunungan, dan perkebunan.
Sebaliknya di Ciamis ada wisata pantai Pangandaran, wisata bahari, waterboom, dan lainnya. Anak-anak harus ditemani agar bisa terjaga, terawasi, aman dan lancar menikmati liburannya. Saat rehat, keluarga menyiapkan makanan, atau membeli makanan di tempat wisata bila cukup biaya.
4. Liburan Aysik di Rumah Saja
Mengisi liburan tidak harus pergi ke tempat-tempat wisata atau keluar negeri. Mengisi liburan di rumah bisa asyik juga. Tak harus terus menonton TV, film dan bermain game Play Station. Di rumah anak bisa memilih permainan yang menghibur, seru, sekaligus mencerdaskan. Mulai dari permainan sihir-sihiran, membuat telur warna-warni, hingga permainan menggunakan uang logam. Permainan semacam ini dijamin seru dan aman untuk dimainkan. Untuk kelancaran permainan, orangtua dan anak butuh buku panduan. Biasanya di toko-toko buku telah tersedia buku panduan permainan anak. Setiap permainan dilengkapi dengan informasi tentang usia pemain, jumlah pemain, tempat bermain, dan sebagainya. Informasi itu dimaksudkan untuk mempermudah orang tua dan anak dalam memilih permainan yang cocok.

5. Kegiatan Out bond /Jelajah Alam
Kegiatan liburan yang diisi dengan kegiatan out bond juga sangat mengasyikan. Penyelenggaranya bisa sebuah oranisasi, lembaga atau membentuk panitia sendiri yang merupakan gabungan beberapa keluarga si anak. Dalam kegiatan out bond asfek pendidikan yang bisa diserap anak sangat komplek, seperti nilai kolektivitas, perkembangan motorik anak (olahraga), kecerdasan, kompetisi, spirit, optimisme dan lainnya.
Selain Out bond, liburan anak bisa diisi dengan jelajah alam. Anak-anak bisa ikut bersama kelompok pencinta alam yang pengalaman untuk menjelajahi alam. Bisa alam pegunungan, alam pesisir, perkebunan, hutan, atau jelajah desa. Atau melakukan jelajah alam di obyek wisata tertentu yang dilengkapi pemandu. Liburan sekolah dapat diisi dengan kegiatan belajar melalui jelajah alam yang menyenangkan karena alam memberikan berbagai macam pelajaran pada anak.
6.Berlibur untuk Kemandirian & Kedewasaan
Libur sekolah bukan berarti berhenti belajar. Setiap orang tua tentu memiliki kesibukan yang berbeda-beda dalam hubungannya dengan rutinitas dan tuntutan profesi. Adakalanya kita lalai dengan fokus perhatian yang hakiki, yaitu membina para putra putri kita sebagai titipan amanah dari Tuhan YME untuk dibentuk minimal sama dengan orang tuanya, atau lebih baik lagi kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu setiap orang tua tidak membiasakan putra-putrinya bermalas-malasan pada hari-hari lubur.
Ajaklah mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan dan sifatnya mendidik. Misalnya: membereskan pekarangan, bersih-bersih halaman, penataan rumah dsb. Perlu diingat bahwa putra-putri kita cepat atau lambat pada akhirnya akan mengalami jenjang berumah tangga. Dalam kehidupan yang baru itu mereka sudah siap dan terbiasa dengan pendewasaan dan kemandirian.
Pada masa libur sekolah, pembinaan dan pendidikan anak-anak didik menjadi tanggung jawab penuh pihak orang tua. Bahwa setiap orang tua, apapun latar belakang keahliannya tentu semuanya pernah mengenyam pendidikan. Pola-pola pendidikan dari pengalaman itu dapat diterapkan pada putra-putrinya pada saat liburan sekolah. Menjelang liburan sekolah para orang tua seyogyanya sudah merancang bentuk penugasan yang akan dibebankan pada anak-anaknya. Tugas tersebut tentu harus ada unsur mendidik dan logis serta memungkinkan untuk dapat diselesaikan dalam waktu yang tersedia.
7. “Berlibur ke Tanah Suci”
Salah satu tempat favorit dan ideal yang menjadi tujuan liburan bagi umat islam adalah Makkah dan Madinah.Namun tentu saja, berlibur dengan kegiatan umroh hanya dapat dilakukan oleh mereka yang berekonomi lebih.
Ustad Jefri Al Buchori menuturkan, banyak orang tua yang sengaja mengajak anak untuk umroh saat liburan tiba. Tujuannya untuk memperkenalkan sejarah Islam plus wisata religi. “Umroh liburan sangat baik untuk pertumbuhan anak dan edukatif. Karena itu, momen liburan tepat untuk anak,” terang ustad yang akrab disapa Uje ini.
Selama 10 hari di Tanah Suci, jamaah akan dihabiskan waktu untuk beribadah dan ziarah di dua tanah haram, Makkah Almukaromah dan Madinah Almunawarah. Anak juga akan mendapatkan pelajaran soal sejarah Islam dan perjuangan Rasulallah. Umroh Liburan bermanfaat bagi siswa daripada siswa diajak ke Malaysia dan Singapore. Selain itu umroh juga bisa menghapus dosa.
Umumnya anak-anak setelah pulang umroh banyak perubahan dari dirinya, terutama menyakut amal ibadah dan bakti kepada orang tua. Hal itu akan terjadi bila selama berada di tanah suci orang tua mengajak anak-anaknya melakukan perenungan diri dan edukatif.
Kini sudah saatnya para orangtua semakin cerdas untuk menimbang-nimbang azas manfaat biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan rekreasi dan hiburan dengan biaya yang dipakai untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan atau kursus anak.Tapi bila memungkinkan waktu dan biaya, kedua-duanya bisa dilakukan saat liburan. Semua itu demi kebaikan sang buah hati. Selamat memilih dan menikmati liburan sekolah.
(apon/ganesha)

Guru Terus Mengajar, Tapi Malas Belajar!?

“Belajar lagi yang rajin ya…., supaya nilainya bagus.” Kalimat itu paling sering diucapkan seorang guru kepada muridnya. Ketika nilai ulangan anak didik jelek, atau terlihat motivasi belajarnya menurun, tak ada kata yang tepat, selain berujar seperti itu. Tapi pernahkah, kita kepikiran, suatu saat anak didik balik bicara,”Ibu, belajar lagi dong, biar ngajarnya oke!”
...................................................
Anda boleh tersenyum, atau mungkin ada sedikit kesal di hati, ketika murid menasehati gurunya supaya mau belajar lagi. Kata-kata polos dari seorang murid, jujur bermaksud baik, ibaratnya tamparan, namun mendarat amat dalam dan halus di lubuk seorang pendidik. Benarkah ia juga harus terus belajar?
Ada beberapa kemungkinan anak didik berani ‘menyuruh” gurunya belajar lagi. Pertama, guru ternyata tak mampu menguasai materi yang seharusnya diajarkan kepada siswa. Siswa cerdas dan kritis, langsung menangkap sinyal: anda mengajar ‘mulai ngaco’ tak jelas apa yang diajarkan atau malah membingungkan mereka. Kedua , anda menguasai materi ajar, tapi cara mengajar anda tidak pas, tidak menarik, monoton, nggak ‘keren”, intinya siswa sulit ‘terkoneksi’ pada maksud yang ingin anda sampaikan pada murid.
Dua-duanya gejala itu, menunjukkan ada yang ‘truble’ pada diri anda sebagai seorang pendidik. Intinya, ternyata guru pun harus terus belajar. Tak cukup merasa paling berkuasa untuk menasehati orang lain (murid) agar mau belajar, sementara dirinya justru malas belajar.
Seorang teman penulis pernah berkata, guru jaman sekarang cenderung terlena di dalam dirinya yang mogok untuk belajar lagi. Alasannya, sepintar-pintarnya murid, pasti tak bisa mengalahkan kepintaran gurunya, terutama tentang materi yang diajarkan saat itu.
“Ini keliru dan guru malah tak berpikir cerdas. Sekarang jamannya beda, lho. Dalam sejam saja anak bisa 10 kali lipat mendapatkan pengetahuan baru tentang sebuah materi/pengetahuan, sebaliknya guru statis dari hal-hal baru dan luas di sekitarnya.” Kata teman itu.
Untuk urusan belajar lagi, guru pun tak perlu egois dengan berlindung di balik senioritas atau prestasi belajar yang pernah dicapainya saat kuliah.
“ Jangan bilang karena sudah mengabdi sekian tahun maka sudah pengalaman dalam mengajar. Atau karena materi yang disampaikan itu-itu saja sehingga seorang guru sudah dipandang begitu kompeten sehingga tidak mau untuk belajar lagi.” Kembali ujar teman itu.

Makna Belajar ‘Lagi” bagi Guru
Murid, siswa atau pelajar, tugasnya belajar.Guru adalah pengajar, tugasnya mengajar. Namun sesungguhnya dunia guru juga adalah dunia belajar. Harus diingat, proses mendampingi peserta didik adalah proses belajar. Karena sekolah merupakan medan belajar, baik guru maupun peserta didik terpanggil untuk belajar. Guru terpanggil untuk bersedia belajar bagaimana mendampingi atau mengajar dengan baik dan menyenangkan, peserta didik terpanggil untuk menemukan cara belajar yang tepat.
Guru-guru yang dicari para siswanya jaman sekarang adalah guru-guru yang tanggap pada perkembangan zaman dan keilmuan yang diajarnya. Peka pada isu sosial dan lingkungan namun punya prinsip yang kokoh sehingga tegar dalam toleransi terhadap perbedaan.
Singkatnya amat jelas, guru harus mutakhir dalam keilmuan.
Banyak guru yang malas belajar, karena alasan tak punya waktu, sibuk, lelah dan merasa tak perlu nambah ilmu. Padahal cara belajar bagi seorang guru sangat beragam dan tidak sulit seperti bayangannya. Ada cara, ada startegi, dan banyak tips yang bisa dijalankan.
Seorang guru ketika berproses untuk belajar lagi pun tak perlu demonstratif. Sebab belajar bukan ‘riya’. Setiap saat bisa belajar, setiap waktu dapat menambah ilmu. Setiap kejadian adalah pelajaran.
Belajar-nya guru mensyaratkan beberapa hal penting, misalnya: Jangan gengsi! Di sekitar guru setiap hari ada anak-anak bangsa. Murid adalah salah satu sumber ilmu yang penting. Jika mereka mengoreksi kita, sebagai yang dewasa, kita harus mampu untuk melihat pesannya terlebih dahulu ketimbang cara mereka dalam menyampaikan pesan. Sekalipun caranya tak sopan, terimalah saran perbaikan yang datang walau bentuknya melukai hati.
Murid-murid yang berani, cerdas, kritis adalah ladang belajar buat guru. Setiap hari guru bersama mereka. Selalu belajar dapat benar-benar berarti setiap hari belajar. Ya belajar seperti anak muridnya. Mendalami kembali teori, melatih cara penyampaian, mengerjakan soal-soal, memeriksa kembali dari berbagai sumber yang fasih, dan menyiapkan bahan ajar dengan kata-kata paling sederhana dan alat dukung yang paling optimal.

Selalu belajar juga berarti pikiran serta hati yang terbuka: waspada terhadap kesalahan diri dan mau menerima hal-hal baru (walau tidak harus selalu setuju). Bersedia menerima kritik dan mau serta mampu mengevaluasi diri untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik setiap hari.

Alasan Nambah Ilmu Lagi
Dr. Mochtar Buchori, seorang pengamat pendidikan mengemukakan, banyak guru memiliki kewenangan formal sebagai guru profesional, akan tetapi mereka tidak memiliki kemampuan nyata untuk mendemonstrasikan profesionalismenya.
Mochtar mengatakan bahwa kesalahan konsep penguasaan ilmu pengetahuan yang harus dimiliki seorang guru perlu dikoreksi. Ketika perkembangan ilmu masih lamban, seorang guru dapat dianggap telah menguasai suatu bidang ilmu bila menyelesaikan pekerjaanya.. Akan tetapi untuk saat ini, setelah terjadi ledakan ilmu pengetahuan, seseorang hanya dapat dikatakan menguasai bidang pengetahuan bila ia dapat terus-menerus belajar tanpa bantuan orang lain. “Kemampuan ini tidak tumbuh dengan sendirinya tetapi harus dipupuk secara sistematis.” Kata Mochtar.
“Jika guru malas belajar, apa jadinya jika putra bangsa diajarkan ilmu yang ‘sudah basi’ karena –misalnya- ternyata sudah dibatalkan oleh penemuan/konsensus terbaru.” Kata seorang teman lagi.
Jaman ‘saiki’ bagi guru –guru terbaik, nambah ilmu sangat penting. Menbambah ilmu menjadi hal yang mendesak, trend, tuntutan dan kebutuhan untuk maju. Kemampuan eksplorasi dan pengembangan ilmu sangat penting untuk dapat memajukan sikap, pengetahuan dan keterampilan anak-anak negeri ini.
Ada beberapa alasan mengapa guru harus mau belajar lagi. Pertama, soal kurikulum. Kurikulum yang sering berubah. Kurikulum dibuat untuk memberikan batasan materi yang akan disampaiakan di KBM suatu sekolah. Kurikulum biasanya mengacu kondisi dan situasi sekarang ini dan memang sebisa mungkin sifatnya harus bisa menyesuaikan keadaan jaman sehingga nantinya bisa diterapkan di kehidupan nyata kelak oleh siswanya. Seorang Guru kalau tidak bisa menyesuaikan cara mengajarnya sesuai kurikulum yang dibuat oleh sekolah maka tidak menutup kemungkinan siswanya juga tidak bisa menyesuaikan keadaan jaman sekarang ini.
Kedua, soal strategi pembelajaran. Seorang Guru dituntut kreatif untuk bisa menyampaikan materi dalam berbagai penyampaian. Maka dari itu harus dibutuhkan strategi yang jitu supaya meteri itu bisa nyampai ke siswa. Karena kondisi kelas yang satu dengan yang lainnya pastilah berbeda karakteristiknya. Jadi jika seorang Guru tidak peka akan hal itu maka tidaklah mustahil mendapatkan hasil yang tidak maksimal dalam penyampaian materinya di kelas.
Ketiga soal penguasaan kelas. Materi akan lebih cepat nyampai ke siswa ketika KBM di kelas berjalan sesuai dengan RPP yang dibuat oleh masing-masing Guru. RPP akan berjalan normal manakala seorang guru bisa menguasai kelas saat KBM berlangsung. Misal saat guru sedang mengajar kelas ramai tak terkendali atau ada beberapa siswa yang keluar masuk ke belakang tapi tidak ditegur sehingga kondisi kelas tidak kondusif untuk KBM. Padahal penguasaan materinya bagus dan tertata dengan rapi. Terkadang ini juga dilupakan oleh seorang Guru pada saat mengajar.
Keempat, mudah berbagi (Sharring) dengan siswa. Siswa sekarang beda dengan siswa jaman dulu, dimana siswa sekarang lebih peka dan kritis dengan kondisi yang ada di sekitar mereka. Semisal ada seorang guru yang hanya membaca buku dalam menyampaikan di depan kelas mereka akan berkata “ wah gurunya saja baru membaca materi, gimana saya bisa…?” Aatau gurunya hanya menyuruh sekretaris kelas menulis di papan tulis pastilah para siswa memandang guru tersebut kurang kompeten. Maka dari itu guru dituntut bisa share ilmu, karena tidak menuntut kemungkinan siswa lebih tau informasi materi seiring dengan kemajuan TIK yang bisa diakses oleh siswa sekarang ini. Guru sekarang janganlah merasa paling pinter dihadapan siswanya.
Kelima, soal model pembelajaran. Diakui atau tidak, metode mengajar dengan hanya mengandalkan papan tulis (konvensional) adalah metode kuno yang sudah tidak jamannya lagi. Guru harus mahir membuat presentasi untuk disampaiakan dengan menggunakan LCD, harus bisa mengoperasikan Aplikasi powerpoint, dan aplikasi lainnya. Intinya seorang guru seharusnya bisa mengoperasikan komputer untuk kebutuhan mengajarnya. Oleh karena itu Bukan buku lagi yang ditenteng masuk ke kelas, tetapi Laptop yang ditenteng ke kelas yang didalamnya sudah terisi perangkat pembelajaran untuk siswanya.
Keenam, soal teknologi internet. Ketinggalan jaman rasanya jika seorang guru tidak tahu teknologi internet sekarang ini. Begitu banyak ilmu yang dapat diakses oleh setiap orang (tidak menutup kemugkinan siswa), dan banyaknya jejaring sosial yang bisa digunakan untuk share dengan orang lain (tidak menuntut kemungkinan siswa) sehingga siswa dapat tahu dulu sebelum materi disampaiakn gurunya. Oleh karena itu kalau seorang guru tidak bisa mengakses ilmu-ilmu dari luar (internet) bisa saja kalah informasinya dengan siswanya sendiri.

Jangan Berhenti jadi Guru
Menambah ilmu ibaratnya menambah napas kehidupaan.Jangan sampai guru kehabisan ‘napas’ karena tak ada lagi pasokan ilmu pada dirinya. Soal ilmu, guru tak baik bersikap statis, tertutup, pasif, egois, dan sombong.
Dunia guru adalah dunia baca tulis, dunianya membaca dan dunia-nya menulis. Guru idealnya rajin, membaca, rajin menulis. Membaca dan menulis apa saja, lebih-lebih yang ada kaitannya dengan tugasnya. Guru dipaksa lewat aturan wajib membuat karya tulis untuk naik pangkat pun sepertinya kelabakan. Kalau mempanpun sepertinya terpaksa. Tak terbiasa menulis, tak terbiasa membaca.
Singkatnya, banyak cara yang bisa dilakukan guru untuk belajar, seperti setiap hari guru belajar dari praktik pembelajaran yang dilakukannya. Setiap hari guru belajar melalui interaksi dengan guru lain. Guru pun bisa belajar melalui ahli/konsultan, Guru dapat sedikit berkorban untuk belajar melalui pendidikan lanjutan dan pendalaman dan guru pun dapat belajar melalui cara yang terpisah dari tugas profesionalnya.
Sekali lagi, adalah penting belajar lagi bagi seorang guru sekalipun ia mengaku sudah berpengalaman dalam mengajar. Guru tak boleh berhenti belajar dengan alasan apapun juga. Saat ia berhenti belajar, saat itu pulalah ia sebaiknya berhenti menjadi guru.
(apon/ganesha)