Selasa, 25 Desember 2012

Siap-siap Menguji Kurikulum Baru

Mendikbud,  Mohammad Nuh mengklaim kurikulum baru 2013 yang disiapkan punya arah yang jelas. Dia juga membantah tudingan bahwa guru tidak dilibatkan dalam penyusunan kurikulum tersebut. Bahkan dalam waktu dekat semua pihak bisa menguji kurikulum  tersebut.
……………………………………………………………

Menteri Pendidikan Mohammad Nuh kembali memberikan penegasan terkait arah kurikulum baru yang akan diterapkan tahun ajaran 2013/2014 mendatang. Penegasan ini menjawab kekhawatiran sejumlah pihak yang belakangan menyangsikan kurikulum baru yang disiapkan pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tidak punya arah yang jelas.
Usai memberikan penghargaan kepada 24 guru se Indonesia yang menjadi pemenang lomba kreatifitas guru tingkat nasional di Kemdikbud, Selasa lalu, Nuh  menegaskan bahwa kurikulum baru yang dirancang pemerintah tidak muncul tiba-tiba. Tapi sudah disiapkan sejak tahun 2010 lalu.
“Apakah kurikulum yang kita kembangkan sekarang ujug-ujug muncul begitu saja? Saya kira tidak. Jadi kita sudah fikirkan penataan kurikulum ini sejak 2010, kita lakukan kajian. Alhamdulillah sekarang baru rampung, karena bentuknya sudah kelihatan,” kata Mohammad Nuh.
Menurut Menteri asal Jawa Timur itu, selama tiga tahun terakhir, penelitian yang dilakukan juga melibatkan guru. Namun bukan berarti harus mengikut sertakan semua guru yang jumlahnya 2,9 juta orang. Tapi guru yang diikut sertakan dalam penyusunan kurikulum baru hanya diambil beberapa guru sebagai sampel yang mewakili suara guru. Mereka juga ikut melihat kurikulum yang saat ini dijalankan, apa kelamahan dan kelebihannya, bagian mana yang harus disempurnakan.
“Arahnya pun sangat jelas. Kita ingin meningkatkan dan menyembimbangkan kompetensi dalam arti attitude, skill dan knowleadge, harus naik dan seimbang. Didasarnya tiga pilar, kreatifitas, inovasi dan produktif. Jiwanya adalah nilai-nilai ke-Indonesiaan,” tegas Mohammad Nuh.
Kemdikbud juga juga telah menetapkan bahwa Kamis (29/11) besok hingga tiga pekan berikutnya, uji public terhadap kurikulum baru yang telah dirancang pemerintah akan dimulai. Uji public itu akan dilakukan dalam dua bentuk, pertama dilakukan secara aktif dalam bentuk pertemuan langsung dengan audien yang terdari dari semua unsure masyarakat. Mulai dari para guru, orangtua, dewan pendidikan, pengamat, dinas kabupaten/kota dan unsur lain.
Tahap awal, uji publik akan dilakukan di 5 kota besar dan disusul di 33 Kabupaten yang ada di 33 Provinsi se Indonesia. Sedangkan melalui media online, Kemdikbud telah menyiapkan sebuah web khusus untuk uji public kurikulum baru tersebut. Web itu di desain interaktif, sehingga siapapun bisa mendownload draft kurikulum baru serta memberikan masukan untuk penyempurnaan.
“Kan waktunya tiga minggu, cukup lah untuk memberikan pandangan, dan ini akan bergulir. Bisa jadi nanti kelompok masyarakat tertentu, perguruan tinggi tertentu, guru-guru beri masukan. Salah satu contoh masukan untuk IPA dan IPS, apakah nanti masih dalam bentuk mapel di kelas 4,5,6, atau dilebur. Nah, di situ orang bisa beri komentar dan pandangan,” ujar Nuh.
Nuh menambahkan bahwa partisipasi dalam uji public ini dibuka untuk dua hal, pertama, menumbuhkan ownership dari partisipator, sehingga ada rasa memiliki. Kedua, untuk menyempurnakan, karena sebaik apapun kurikulum yang disiapkan, Nuh yakin masih ada yang tercecer. Itulah yang akan disempurnakan.

Belum Ciptakan Proses Belajar yang Asik
Sementara  itu anggota Komisi X DPR RI, Raihan Iskandar, menyatakan rancangan kurikulum baru pendidikan nasional 2013 yang akan segera diuji publik masih harus dikritisi bersama. Karena perubahan yang terjadi lebih pada materi ajar, bukan metode pegajarannya.
“Salah satunya adalah aspek pedagogik. Perubahan kurikulum utamanya hanya pada aspek materi ajar. Sedangkan aspek pedagogik atau metode pengajaran tidak berubah signifikan. Padahal aspek pedagogik yang menyangkut guru ini sangat penting, karena guru adalah pilar penentu keberhasilan kurikulum,” kata Raihan di Jakarta, Selasa (27/11).
Dia menjelaskan bahwa selama ini gurulah yang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Sementara sekarang dengan kurikulum baru, siswa yang dituntut untuk aktif. Tapi, bentuk kurikulum baru menurutnya masih sama dengan sebelumnya.
“Tapi bentuknya sepertinya masih dengan sebelumnya, yaitu tatap muka di kelas. Padahal metode tersebut kurang efektif dalam menanamkan karakter kepada peserta didik.” tegas Raihan.
Politisi PKS ini juga menyatakan, Mendikbud M Nuh mestinya menyadari jumlah jam belajar di Finlandia lebih singkat dari pada di Indonesia. Tapi di Finlandia, peserta didik dibagi ke dalam kelompok mentoring/tutorial. Dan guru di sana minimal lulusan S2. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan pendidikan di sana.
Metode mentoring diakui sangat efektif dari pada metode tatap muka di kelas. Metode mentoring, dengan pembagian siswa ke dalam kelompok belajar dengan anggota kelompok sekitar 10-12 siswa dan seorang guru sebagai fasilitatornya, menjadikan hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih dekat dan lebih kekeluargaan.
Selain itu siswa akan menjadi lebih nyaman dan asik dalam belajar. Sehingga tingkat penyerapan ilmu, nilai dan karakter siswa bisa lebih maksimal jika dibandingkan dengan metode tatap muka di kelas. “Dengan metode mentoring seperti itulah, kita tahu bahwa pendidikan Finlandia terbaik di dunia. Nah, apakah pemerintah sudah mempersiapkan pembinaan kompetensi guru untuk mengelola kelompok mentoring misalnya?” ujar Raihan mempertanyakan
Ditambahkannya bahwa pemerintah terkesan abai terhadap aspek kompetensi guru khususnya dalam hal pedagogik pada pembuatan kurikulum 2013 ini. Padahal Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28 ayat 3 telah mengamanatkan bahwa kompetensi yang harus dimilki oleh seorang pendidik meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.
(ganesha-agus ponda/jps/nt/)

Inilah Sejarah Hari Guru Indonesia


PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
..................................................
Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan huru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.
Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.
Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Namun, setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya , PGI kembali berkiprah. Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah – guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Repub-lik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 – seratus hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tangan bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan  yakni Mempertahan-kan dan menyempurnakan Republik Indonesia, mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan, dan membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Harapan Besar
Jiwa pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia. Dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen, dan tidak berpolitik praktis.
Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.
Akan tetapi di Indonesia, Hari Guru bukan merupakan hari libur nasional sehingga sekolah, instansi pemerintah, dan perusahaan swasta tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Hari Guru lebih banyak diperingati di sekolah-sekolah dengan cara mengadakan berbagai acara dan kegiatan sebagai bentuk penghargaan dan rasa terima kasih terhadap guru di Indonesia.
Tentu ada sebuah harapan besar di hari ulang tahun guru ini. Harapan besar itu adalah bersatunya para pendidik dalam satu wadah organisasi yang bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Suka atau tidak suka PGRI adalah salah satu organisasi pendidik terbesar yang diakui pemerintah, dan hari kelahiran PGRI kita peringati sebagai hari guru.
Mudah-mudahan para guru selalu mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. “Tidak ada guru, tidak ada pendidikan, tidak ada pendidikan mustahil ada proses pembangunan”. Hanya dengan sentuhan guru yang profesional, bermartabat, dan ditauladani, maka anak-anak bangsa akan menerima proses pembelajaran yang mendidik dan bermutu. Ada sebuah kalimat hikmah, “man yazra’ wa huwa yahsud”, artinya siapa yang menanam, dialah yang akan memanen. Jika kita menginginkan kebaikan bagi diri kita, maka mulailah dari diri kita untuk menebarkan kebaikan kepada orang lain. Dalam makna lain siapa yang menanam padi, dia akan memanen padi pula. Bahkan rumput pun akan tumbuh disekitar padi itu. Namun, siapa yang menanam rumput, jangan harap ada padi yang bisa tumbuh.
Oleh karena itu guru harus meningkat-kan customer service bagi anak didiknya. Karena jasa-jasa guru akan terpatri dan guru akan selalu hidup dalam setiap kenangan dan langkah kehidupan anak didiknya, sebagaimana sering dilantunkan peserta didik dalam lagu Hymne Guru.
Semoga PGRI, guru, dan bangsa Indonesia tetap jaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.Selamat Hari Guru Nasional dan Sukses untuk kita semua.
(ganesha/nt/)

Senin, 19 November 2012

Guru Ciamis Bisa Mengajar Siswa Sumatera

Kemendikbud Luncurkan Kelas Maya
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom), meluncurkan Kelas Maya, Jumat (9/11/2012). Kelas ini sebagai pengembangan program Rumah Belajar.
........................................
Dengan Kelas Maya, guru dan siswa tidak lagi dibatasi ruang untuk saling berinteraksi.
Rumah Belajar merupakan portal yang dibangun oleh Kemendikbud untuk memfasilitasi ketersediaan konten bahan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik.
Sejumlah konten yang nantinya tersedia di Kelas Maya Portal Rumah Belajar di antaranya bahan belajar interaktif yang dilengkapi dengan media pendukung gambar, animasi, video dan simulasi.
Kepala Pustekkom Kemendikbud, Ari Santoso, mengatakan Kelas Maya merupakan dukungan bagi proses pembelajaran yang lebih terintegrasi, baik dari sisi konten maupun proses interaksi antara guru dan murid.
"Kita tahu proses belajar mengajar tergantung pada peran guru. Karena terbatasnya jumlah guru, maka guru bisa mengadakan kelas maya, dimana muridnya bisa memilih guru itu dari mana saja, sehingga guru bisa mengajar murid dari semua pelosok Indonesia," ujar Ari di Kemendikbud, Kamis (8/11).
Sesuai dengan Permen 24 tahun 2012 tentang pembelajaran jarak jauh, memang diperuntukkan bagi perguruan tinggi. Namun, kata Ari, dalam Undang-undang Sisdiknas ada satu klausul yang mengatur tentang perlakuan khusus bagi daerah tertentu.

Maka kelas maya ini bisa dimanfaatkan, misalnya guru di Ciamis dapat berinteraksi dengan murid di Sumatera. Artinya murid bisa mendapatkan ilmu dari guru berbeda, bisa kolaborasi guru dan murid dimana saja dengan menggunakan program yang Ditambahkan dia, bahwa program ini sebenarnya sudah berjalan dan telah diterapkan di 16 sekolah di Indonesia, yang mengakses situs Rumah Belajar. Tidak hanya itu Portal ini tidak hanya untuk siswa dan guru mulai dari TK-SLTA, tapi juga dosen dan mahasiswa.
Sementara itu Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim mengatakan nantinya akan ada 100 ribu sekolah bisa meggunakan proses pembelajaran pakai TIK ini.
Dengan TIK kata dia,  proses belajar mengajar jadi lebih menarik. Karena semua proses pembelajaran bisa diakses lewat TIK. Siswa dan guru tidak lagi dibatasi ruang dan waktu dalam belajar mengajar.
"Kelas Maya menggunakan TIK yang tersedia dalam portal Rumah Belajar ini bisa diakses di mana-mana. Basis pertama adalah provinsi. Dengan pembelajaran TIK semangat anak-anak lebih meningkat serta terbukti meningkatkan efisiensi belajar mengajar," jelas Musliar.
Yang tidak kalah penting, lanjut Musliar, TIK memiliki fungsi untuk pembangunan karakter, karena TIK terkoneksi, TIK menyediakan semua konten pelajaran yang dirancang oleh guru-guru dari seluruh tanah air.
"Konten dalam TIK ini erat hubungannya dengan pendidikan karakter bangsa dengan berbagai fungsi lainnya," pungkas Musliar.
Katanya,  Rumah Belajar merupakan portal yang dibangun oleh Kemendikbud untuk memfasilitasi ketersediaan konten bahan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik. Sejumlah konten tersedia di Kelas Maya.

Belajar Mengajar Kian Mudah
Menurut Staf Bidang PTP Berbasis Web dan Multimedia, Pustekkom, Hasan Chabibie, S.T. , dengan adanya Portal Rumah Belajar aktivitas mengajar dan belajar bagi para guru dan siswa kini bakal makin mudah dan menyenangkan. Ini seiring munculnya terobosan baru dari Kementerian Pendidikan Nasional yang meluncurkan portal rumah belajar, Portal ini dapat diakses dengan alamat http://belajar.kemdiknas.go.id.  Sebuah Portal yang didesain khusus sesuai dengan kebutuhan stakeholder pendidikan dan diharapkan mampu menjawab ‘digital devide’ dalam dunia pembelajara.
Portal rumah belajar merupakan media belajar berbasis internet (on line) yang dibangun secara khusus untuk memudahkan guru dan siswa mendapatkan bahan atau materi untuk kepentingan mengajar siswa. Portal ini bisa diakses melalui: http://belajar.kemdiknas.go.id. Berbeda dengan situs internet pada umumnya, portal rumah belajar ini lebih menekankan sisi interaktivitas antara pengguna yakni guru dan siswa dengan portal rumah belajar itu sendiri. Lewat portal rumah belajar, para guru dan siswa bisa mengakses bahan belajar serta berkomunikasi dan interaksi antar komunitas pendidikan. Portal ini juga bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain yang punya kemauan untuk belajar.
 "Diharapkan pengguna portal rumah belajar terus meningkat dari waktu ke waktu sehingga mampu membentuk komunitas. Dengan terbangunnya komunitas belajar melalui portal rumah belajar, nantinya konten dari portal ini bisa terus dikembangkan secara mandiri oleh para guru dan siswa yang aktif memanfaatkannya." kata Hasan.
Sementara itu, seiring aktifnya pengguna portal tersebut, Kementerian Pendidikan Nasional akan bertindak sebatas inisiator, fasilitator, serta regulator.

 Fasilitas Kelas Maya
Sebagai media belajar yang berbasis on line, portal rumah belajar ini didesain untuk memudahkan lalu lintas aktivitas para penggunanya. Terdapat 3 (tiga) fasilitas yang bisa diakses oleh para guru dan siswa. Fasilitas itu adalah  Rancangan Pembelajaran,   Bahan Belajar, Aktifitas Belajar,  Bank soal dan Katalog Media.
Contohnya pada menu Rancangan Pembelajaran, guru dapat mendownload dan meng upload materi rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Silabus rancangan pembelajaran ini mengacu pada kurikulum inti, serta SK-KD yang dikembangkan oleh Pusat Kurikulum.
Untuk menu Bahan Belajar, guru dapat mengunduh multimedia pembelajaran seperti materi pokok, modul on line, animasi, simulasi, video, audio, dan buku elektronik. Tidak hanya itu, menu Bahan Belajar juga menyediakan katalog multimedia pembelajaran yang terdiri dari teks, grafis, foto, video, audio, dan animasi.
Contoh penggunaan fasilitas lainnya, yakni pada menu Bank Soal, para guru dan siswa bisa melihat berbagai macam soal sesuai mata pelajaran. Jika berminat untuk mengerjakannya, pengguna juga bisa langsung mengisikan jawaban untuk tiap-tiap soal. Seluruh pengerjaan soal nantinya bisa langsung dihitung nilainya secara real time setelah soal-soal selesai dijawab. Dari penghitungan tersebut, pengguna bisa segera berapa jumlah jawaban yang benar berikut durasi pengerjaannya. Inilah sisi interaktivitas yang ditawarkan oleh portal rumah belajar.
Semua menu dan fitur yang disajikan di portal ini memang dirancang khusus bagi para guru dan siswa untuk pengembangan aktivitas belajar dan mengajar dengan memanfaatkan kelebihan multimedia sehingga bisa menambah nilai interaktifitas pengguna.
Dengan adanya keterlibatan aktif penggunanya, portal kelas maya rumah belajar ini nantinya akan menjadi sarana yang sangat efektif untuk mendiskusikan beragam hal seputar dunia pendidikan. Semuanya tentu demi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Dan bila anda merasa bosan, atau ingin mencoba sesuatu yang baru dalam hal belajar dan mengajar kelas maya ini bisa dicoba.
                                                                                                          (agus ponda/ganesha)

Kisah Seorang Guru & Murid Istimewa

Film Taare Zameen Par, ceritanya sangat inspiratif dan menggugah hati. Kisah hidup seorang guru berhati mulia. Mulia bukan karena semata berprofesi sebagai guru, tapi justru karena perilakunya yang patut digugu dan ditiru.
...............................
Mengapa demikian? Profesi guru itu mulia. Kemuliaan itu semakin tampak ketika perilaku guru berkiblat pada kebajikan. Kehidupannya memberi inspirasi serta mampu menyentuh kehidupan murid-muridnya. Seperti yang dilakukan guru Nikumbh pada Ishaan. Mengubah jalan kehidupan Ishaan dari masa suram menjadi masa-masa yang membahagiakan.

Ishaan merupakan korban dari sistem pendidikan yang egois. Melihat kesuksesan melulu dari satu sudut pandang saja, prestasi akademik yang gemilang. Ketika nilai akademik Ishaan memprihatinkan, sistem seakan hendak menjatuhkan vonis bahwa Ishaan bermasa depan suram.
Kepala sekolah maupun guru Ishaan sudah angkat tangan dengan kondisi Ishaan yang sangat payah dalam soal prestasi akademik. Naasnya, orang tua Ishaan pun selalu membandingkan Ishaan dengan kesuksesan kakaknya yang memang pintar secara akademik.
Tak ada yang paham ada keistimewaan khusus pada diri Ishaan. Jika tereksplorasi, keistimewaan inilah yang justru akan mampu menjadikan Ishaan jadi sosok unik nan spesial. From nobody to somebody. Anak malang ini pun dikeluarkan dari sekolahnya. Ishaan begitu sangat terasing.
Ishaan adalah anak istimewa, sehingga memang perlu dididik guru istimewa pula. Di tengah rasa keputusasaan atas nasibnya, hadir sosok manusia biasa yang melakukan hal luar biasa. Guru Nikumbh mencoba menguak misteri yang terjadi pada hidup Ishaan.
Totalitas dan kecintaan pada murid, kunci sukses seorang guru bisa menjadi sosok spesial di mata murid-murid. Setiap kata dan perbuatan guru itu mesti bijaksana. Eloknya jika data serta fakta ikut dihadirkan dalam menyampaikan suatu hal. Guru Nikumbh sangat detil mencermati profil pribadi Ishaan.
Guru Nikumbh mengenali Ishaan sebagai siswa berkebutuhan khusus. Ishaan punya masalah disleksia. Hal itu ditemukan pada buku catatan dan apa yang terjadi di masa lalu Ishaan. Bukti yang cukup valid untuk mengetahui sumber persoalan utama yang dihadapi Ishaan.
Salah satu episode menarik dari film itu, ketika Nikumbh mencoba membahas persoalan Ishaan dengan orang tuanya. Nikumbh tak gentar untuk berdebat dengan orang tua Ishaan karena punya banyak bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
Dia tampilkan dirinya sebagai sosok yang tak sok tahu. Dia hindari sikap "merasa" paling benar. Argumentasinya cerdas dan bernas, lengkap dengan semua produk karya tulis dan hasil lukisan Ishaan. Berapa banyak guru yang bisa sadarkan orang tua untuk lebih kenal dengan kehidupan anaknya? Tak banyak, tapi yakinlah pasti ada.

Karena Cinta
Kalau bukan karena cinta pada sang murid, mustahil seorang guru datang ke rumah orang tua siswa yang jaraknya ratusan bahkan ribuan kilometer. Kalau bukan karena kesungguhan hati, sang guru pasti akan kehabisan akal serta kesabaran duluan sebelum persoalan berat yang menimpa muridnya dituntaskan.
Guru Nikumbh sadar sepenuhnya, Ishaan punya persoalan disleksia yang turut memengaruhi prestasi akademiknya. Satu lagi, Ishaan tetaplah sosok istimewa andai diberi kesempatan untuk menunjukkan potensi terbaik dari dirinya.
Guru itu hebat bukan hanya karena dia lulusan terbaik dari kampusnya. Guru itu hebat bukan karena melulu dia raih banyak gelar sebagai guru teladan. Belum tentu juga guru yang lulus sertifikasi digelari guru hebat. Jika dia tak mampu bakar semangat murid untuk belajar, tahan dulu anggap dirinya guru hebat.
Guru hebat, dia mampu memotivasi serta menyadarkan murid untuk apa dan untuk siapa dia belajar dalam kehidupan ini. Kesannya begitu melangit. Tapi bagi guru seperti Nikumbh, hal itu bisa dipraktikkan. Dia bercerita tentang sosok-sosok hebat semacam Einstein, Pablo Picasso, Leonardo Da Vinci, serta tokoh hebat lainnya.
Dia tak hanya sekadar bercerita tentang kisah sukses tokoh-tokoh itu. Tapi cerita tentang kepayahan mereka dalam hal membaca, menulis, berhitung, serta gagalnya menunjukkan prestasi akademik yang tak menghalangi kecemerlangan mereka menjadi bintang di bidang spesialisasinya. Itulah guru hebat. Ishaan, mulai tersadar hidup itu mesti terus berjalan. Perbaiki sisi lemah dari diri kita, dan berlatihlah terus untuk menunjukkan prestasi terbaik.
Guru Nikumbh menulis di papan tulis, satu demi satu huruf ditulis dari kanan ke kiri. “HMBUKIN RAKNAHS MAR IS EMAN YM”. Ayo dibaca apa? Bingung? Guru Nikumbh lantas membawa sebuah cermin dan mendekatkan cermin itu pada tulisan yang dibuatnya. Semua siswa girang bukan kepalang karena bisa membaca tulisan itu dengan jelas, “MY NAME IS SHANKAR RAM NIKUMBH”. Thinking out of the box, cara mengajarnya pun kreatif dan sangat kontekstual dengan kehidupan murid.
Di satu kesempatan, Ishaan begitu sangat dimanjakan dengan cara mengajar guru Nikumbh. Dia bisa jawab pertanyaan guru Nikumbh, lantas kata-kata tulus meluncur dari guru Nikumbh mengapresiasi jawaban Ishaan. Sesuatu yang sangat jarang diberikan oleh guru-guru sebelumnya. Dia merasa sangat istimewa di mata guru Nikumbh. Rasa percaya dirinya berangsur pulih. Terlebih ketika Nikumbh dengan segenap rasa cinta mengajari Ishaan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Hal istimewa yang dilakoni dua manusia spesial.
Adegan yang paling menguras emosi di film itu hadir, ketika Ishaan mengikuti lomba melukis di sekolahnya. Lama ditunggu sang guru, Ishaan baru datang di saat peserta lain sudah mulai melukis. Ishaan lalu mulai melukis, begitu pun dengan guru Nikumbh.
Setelah selesai melukis, Ishaan segera menyerahkan hasilnya ke guru Nikumbh. Guru Nikumbh sangat takjub dengan hasil lukisan Ishaan. Bahkan ketika Nikumb masih terpesona mencermati lukisan itu, Ishaan mencoba lebih dekat untuk melihat apa yang dilukis gurunya. Dia sangat penasaran akan hal itu.
Ternyata sebuah lukisan indah yang menampilkan sosok dirinya yang sedang tersenyum bahagia. Ishaan berdiri mematung tak mampu berkata-kata. Mereka saling bertatapan, tak ada sepatah kata pun meluncur dari bibir mereka. Hanya ada rasa haru yang membuncah. Rasa haru yang tak sempat membuat Ishaan menangis bahagia.
Semua hadirin berdiri dan bertepuk tangan, ketika nama Ishaan Nandkishore Awasthi dari kelas 3D disebut sebagai pemenang lomba lukis. Sang juara berjalan digandeng sang guru untuk menerima penghargaan.
Sesaat setelah menerima penghargaan, Ishaan langsung berlari memeluk Nikumbh. Mereka saling berpelukan dan menitikkan air mata. Pelukan dan air mata yang punya banyak arti bagi Ishaan dan Nikumbh.
Itulah saat yang paling mengharukan bagi siapa saja yang menyaksikan adegan tersebut. Adegan yang mengabarkan tentang kuatnya ikatan cinta yang melandasi hubungan di antara murid dengan guru.
Itulah perasaan cinta sang guru, yang bisa melakukan apa pun yang terbaik untuk muridnya. Dialah manusia pilihan, yang bersedia menjadi pijakan bagi kesuksesan dan kebahagiaan murid-muridnya. Kapan terakhir kita menyaksikan adegan mengharukan seperti ini? Saya sangat merindukan hadirnya sosok guru seperti Nikumbh. Bagaimana dengan Anda?
(dari tulisan Asep Sapa'at, teacher trainer di Sekolah Guru Indonesia)

Minggu, 04 November 2012

Kisah Seorang Guru dan Dua Muridnya

Alkisah di sebuah negeri hidup seorang guru silat yang sudah sangat tua. Ia mempunyai dua murid yang masing-masing memiliki tingkat keseriusan, semangat, dan keuletan belajar silat yang sama.
......................................................
Untuk mewariskan perguruannya, ia harus memilih yang terbaik dari keduanya.
Pertandingan di antara mereka pun dilakukan. Namun, beberapa kali adu kekuatan selalu berakhir dengan seimbang. Mereka ternyata mampu menyerap ilmu yang sama dari si guru silat. Selain itu, keduanya juga sering berlatih bersama-sama sehingga masing-masing sudah mengetahui kelebihan dan kekurangannya.
Untuk mengetahui mana di antara mereka yang lebih baik dan lebih cerdik, guru tersebut terpaksa menggunakan cara lain.

Suatu tengah malam, guru tersebut memanggil kedua muridnya dan memberi mereka tugas,
"Besok pagi kalian pergilah ke hutan mencari ranting pohon. Siapa yang pulang dengan hasil yang terbanyak, dialah yang keluar sebagai pemenang."
Sambil menarik napas panjang sang guru memperhatikan kedua muridnya yang sedang mendengarkan dengan serius kemudian ia melanjutkan,
"Waktu yang tersedia untuk kalian adalah jam lima pagi sampai jam lima sore."
Kemudian guru tersebut mengambil sesuatu dari bawah meja dan berkata,
"Ini adalah dua bilah parang yang dapat kalian gunakan, ada pertanyaan?"
Karena merasa tugas yang diembankan kepada mereka mudah, mereka pun serempak menjawab,
"Tidak."
"Baiklah kalau begitu, sekarang, kalian cepatlah beristirahat dan besok bangun lebih pagi," Nasihat sang guru.
Mendapat tugas yang baru ini, di benak murid yang pertama langsung terbayang bahwa keesokan harinya ia harus bekerja lebih keras dan lebih serius karena waktunya terbatas. Ia terlalu terfokus pada waktu, yakni harus berangkat jam 5 tepat, tidak boleh kurang satu detik pun dan pulang jam 5 sore, tidak boleh lebih. Setelah yakin dengan waktunya, ia pun pergi tidur.
Dengan tugas yang sama, murid kedua lebih terfokus pada pekerjaan yang harus dilakukannya. Ia langsung memeriksa parang yang disediakan oleh gurunya, dan ternyata parang tersebut adalah parang tua yang sudah tumpul.
Maka, ia pun memutuskan, besok sebelum berangkat ia akan mencari batu asah untuk mengasah parangnya agar menjadi tajam dan siap digunakan. Dengan parang yang lebih tajam, hasil yang sama dapat diperoleh dengan upaya yang lebih sedikit, pikirnya.
Tantangan kedua yang terbayang di benaknya adalah bagaimana cara membawa ranting pohon lebih banyak secara efisien dan efektif? Sementara temannya sudah tertidur lelap, ia masih mondar-mandir di depan kamarnya, memikirkan cara terbaik untuk membawa ranting dengan jumlah lebih banyak. Setelah berpikir cukup lama dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, ia memutuskan untuk menyiapkan tali pengikat dan tongkat pikulan sebelum berangkat keesokan harinya.
Dengan memikul ranting menggunakan tongkat pikulan. Paling tidak, ia bisa membawa dua ikat besar ranting-satu di depan dan satu lagi di belakang, itu berarti dua kali lipat lebih banyak dibandingkan memanggulnya. Dengan perasaan puas, ia pun pergi tidur.
**
Keesokan harinya, murid pertama yang sudah berencana akan bekerja keras, bangun tepat waktu dan langsung berangkat ke hutan.
Sementara itu, murid kedua masih tidur karena terlambat tidur memikirkan strategi. Tepat jam enam pagi, murid kedua bangun. Sesuai rencana, ia segera mencari batu asah dan mengasah parangnya sampai benar-benar tajam. Kemudian ia mencari tali dan tongkat pikulan. Setelah semua perlengkapan siap, ia segera berangkat ke hutan, jam menunjukkan pukul tujuh lebih.
Ketika jam menunjukkan pukul satu siang, murid kedua sudah berhasil mengumpulkan ranting cukup banyak. Ia segera mengikatnya menjadi dua dan memikulnya pulang. Sesampainya di rumah, diserahkannya ranting-ranting tersebut kepada gurunya. Ia berhasil mendapat banyak ranting dan pulang lebih cepat.
Sementara itu, murid pertama, karena tidak mengasah parangnya, harus menggunakan waktu dan energi yang lebih besar untuk memotong ranting pohon. Dengan demikian ia juga memerlukan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat karena kelelahan. Belum waktu yang ia gunakan untuk mencari tali pengikat. Selain itu, dengan caranya membawa ranting kayu yang dipanggul di pundaknya, jumlah yang bisa dibawanya juga terbatas.
Apa yang bisa dijadikan renungan dari kisah tadi?
Terkadang para guru terbelenggu oleh kerutinan kerja sehari-hari, sehingga lupa "mengasah parang" yang berupa belajar, ikut pelatihan, training, mengadakan meeting, briefieng pagi dan lain-lain.
Padahal kegiatan di atas yang menurut kita "buang waktu" tersebut justru merupakan sarana ampuh untuk meningkatkan dan mengembangkan skill, knowledge, dan attitude kita.
Pelatihan, training, meeting, briefieng, pengarahan atau belajar pada dasarnya adalah bertujuan untuk "memudahkan" pekerjaan kita sehari-hari.
Bukankah mengasah parang selama 3 menit sangat tidak berarti saat kita harus menebang pohon selama 3 jam?!
                                                                                  (ganesha/sumber: Djodi I /andri W/nt)

Jangan Sembarangan Menghapus Pelajaran Bahasa Inggris


Rencana Kemendikbud menghapus pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar pada tahun  ajaran 2013/2014, menimbulkan kekhawatiran banyak guru Bahasa Inggris SD.
.............................................
Hal tersebut diungkapkan Dadang M. Rochlik, salah seorang guru SMP di Kabupaten Ciamis.
"Banyak guru yang mengadu ke saya soal rencana itu (penghapusan). Saya sendiri memang sudah pernah mendengar berita itu. Banyak guru SD yang terkejut," kata Dadang. 
Seperti diberitakan sebelumnya, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, mata pelajaran ini ditiadakan untuk siswa SD karena untuk memberi waktu kepada para siswa dalam memperkuat kemampuan Bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing.
Ia menegaskan bahwa aturan ini harus diikuti oleh semua sekolah. Namun, jika ada sekolah yang menjadi-kan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelaja-ran tambahan, itu merupa-kan persoalan lain dan akan dipertimbangkan lagi.
"Sekolah harus ikuti ini, kalau dijadikan tambahan itu persoalan lain. Akan tetapi, untuk sekolah negeri, jelas tidak boleh," ujar Musliar.


Perhatikan Dampaknya
Dadang mengingatkan, bahwa penghapusan Bahasa Inggris di SD tak boleh sembarangan.
"Persoalanannya tak segampang itu. Pemerintah pusat harus paham kondisi sebenarnya di daerah," kata lelaki yang akrab dengan panggilan Dang’Q ini.
Lanjutnya, di daerah banyak pelajaran Bahasa Inggris SD yang diberikan guru-guru sukwan, bahkan guru yang sudah bersertifikasi pun  mengajarkannya.
"Perhatikan itu, mereka misalnya para sukwan, sudah lama mengabdi salah satunya memberi pelajaran Bahasa Inggris, juga guru bersertifikasi." kata Dadang. “Mereka akan kehilangan jam ngajar,” sambungnya.
Dadang menghimbau sebaiknya rencana itu ditinjau ulang sebelum pusat memahami permasalahan di daerah.
”Efek dominonya akan besar. Mereka berharap, pejabat daerah memahami kekhawatiran itu dan memberi masukan ke pusat agar ada solusi terbaik jika itu terjadi,” pesan Dadang.

Tak Setuju
Reaksi ketidaksetujuan kepada pendapat Wamendikbud Musliar Kasim, bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris ditiadakan untuk siswa SD untuk memberi waktu kepada para siswa dalam memperkuat kemampuan bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing, juga datang dari daerah lain.
Dari Rengasdengklok Selatan, Jabar, Kepala SDN Rengasdengklok Selatan III, Mokh Khalimi, S.Pd., kepada Pasundan Ekspres mengatakan rencana penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris di kurikulum Sekolah Dasar (SD) kurang wajar dan perlu dipertimbangkan lagi. Pasalnya, dalam dunia serba modern, semua teknologi yang beredar dan semakin berkembang menggunakan bahasa Inggris.
“Bahasa Inggris yang saat ini menjadi bahasa dunia diperlukan siswa SD agar dapat mengetahui dasar-dasar bahasa tersebut,” ujar Mokh Khalimi.
Dikatakannya, memang benar ketika siswa mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris di bangku SD itu belum bisa menjadi suatu patokan bagi siswa tersebut. Sehingga banyak siswa yang memilih untuk kursus bahasa Inggris di luar jam pelajaran sekolah, namun semua itu belum tentu siswa yang ada di bangku SD mampu untuk kursus di luar jam sekolah.
"Ketika Kemendikbud ingin mengeluarkan keputusan tersebut, kami selaku pihak sekolah akan menjalankan keputusan tersebut. Hanya perlu dipertimbangkan lagi, karena untuk belajar bahasa Inggris jangan dilihat dari situasi atau failed project. Sebab tidak semuanya siswa yang ada di tingkat SD mampu mengikuti kursus.  Bagaimana dengan siswa yang keberadaan orang tuanya tidak mampu untuk membiayai anaknya?” ucapnya kepada Pasundan Ekspres.
Lanjut Khalimi, keberadaan pelajaran Bahasa Inggris yang ada di SD bukan membahas tentang Grammar, tapi hanya lebih mengutamakan pengalaman membaca atau kosakata dalam hal-hal dasar. Minimal ketika mendapatkan pengetahuan tersebut, ada kebiasaan yang terjadi saat berada di usia dini.
Seharusnya kata dia, sebelum diambil keputusan dilakukan penelitian. Jangan melihat dari kondisi sekolah dasar yang berada di pusat kota atau kecamatan-kecamatan yang berada di dalam perkotaan. Tapi harus dilihat bagaimana sekolah di pelosok desa.
"Khususnya di Jawa Barat saja, masih ada anak yang sekolahnya di pelosok desa. Baik itu di pinggir laut maupun di gunung. Sehingga jauh dari aktifitas yang ada di  kota. Jangkauan untuk menempuh ke kota pun memerlukan waktu yang banyak,” tuturnya.
Masih kata Khalimi, walaupun tidak lancar seperti yang didapatkan di tempat kursus, minimal dengan adanya pembekalan di sekolah dasar bisa memberikan nilai tambah.
“Saya rasa dengan adanya kursus itu bukan tanggung jawab sekolah tapi itu karena keinginan dari orang tua mereka sendiri. Kami berharap Bahasa Inggris yang saat ini sedang diajarkan di kalangan sekolah dasar tidak dihapus oleh Kemendikbud,” pungkasnya.

Uji Publik Dulu
Menanggapi rencana penghapusan pelajaran Bahasa Inggris di SD, Mendikbud Muhammad Nuh, mengaku hingga kini sebenarnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) belum menentukan sikap.
Rencana tersebut baru tahap wacana. Namun, Mohammad Nuh mengisyaratkan akan menghapusnya karena mata pelajaran Bahasa Inggris di SD belum bisa jadi patokan.
"Masih diskursus. Tapi kemungkinan untuk itu ada dan terbuka. Sebelum diputuskan mata pelajaran dan kurikulumnya, kami uji publik dulu. Karena hasil diskusi kan belum bisa dijadikan pegangan," kata Mohammad Nuh di kantornya, Kamis lalu.
(Agus Ponda/jps/ganesha)

Ini Syarat-syarat Menjadi Wali Kelas yang Baik

Wali kelas memang bukan jabatan yang strategis, namun kinerja wali kelas akan berdampak besar bagi anak didik maupun sekolah. Untuk itu dalam menentukan guru sebagai wali kelas tentu seorang kepala sekolah maupun wakasek kurikulum tidak akan main comot saja. Guru calon wali kelas akan dilihat baik kemampuan administratif maupun faktor-faktor lain. Sayangnya tanggung jawab wali kelas yang begitu besar tidak mendapatkan perhatian artinya honorarium selaku wali kelas umumnya masih kecil.
................................................
Dari awal mengajar tahun  2000 sampai sekarang jabatan wali kelas di sebuah SMP negeri  selalu melekat sebagai tugas tambahan yang diberikan sekolah pada, sebut saja, Ibu Sinta.  Selama 11 tahun Ibu Sinta  telah banyak menjalani suka duka menjadi wali kelas. Dari yang terenak (misalnya diberi ikan karena mayoritas orang tua siswa adalah sebagai nelayan) hingga yang tidak enak (dicari orang tua siswa karena anaknya bandel, minta tolong dan nitip anaknya).

Menurut Ibu Sinta  selama itu ia banyak merenung, menelisik diri, belajar dan terus belajar bagaimana menjadi wali kelas yang baik.   “Sebelas tahun memberi banyak pengalaman bagaimana menjadi wali kelas yang baik,” ujar Ibu Sinta. Apa saja syarat menjadi wali kelas yang baik menurut Ibu Sinta?

1. Perasaan Sayang
Rasa sayang menjadi  hal yang sangat penting untuk menjadi wali kelas. Jika rasa sayang guru sebagai wali di sekolah tembus pada anak didik kita, maka akan timbul simpati dan empati. Hal ini akan sangat berdampak pada kejiwaan anak-anak. Dengan perasaan sayang mampu mengatasi permasalahan yang terbilang rumit bahkan kesulitan dan problematika anak yang tidak disampaikan ke orang tuanya karena berbagai alasan akan mampu dicurhatkan ke guru wali kelasnya. Problematika yang disembunyikan anak akan dapat teratasi karena kerja sama dengan walikelas melalui bimbingan dan arahan.

2. Bertanggung Jawab
Beraneka ragam tanggung jawab yang harus dipikul seorang guru wali kelas mulai dari manajemen administrasi kelas sampai dengan administrasi sekolah yaitu berupa limpahan tanggung jawab untuk menarik dan mengumpulkan iuran anak-anak misalnya uang untuk kegiatan kesiswaan. Guru wali kelas mendapat mandat dari sekolah untuk mengelola kelas serta dari orang tua untuk ikut memimbing dan mengawasi selama mengikuti kegiatan KBM di sekolah. Jelas tidaklah ringan yang harus dilakukan seorang wali kelas. Untuk itu tanpa memiliki rasa tanggung jawab akan menjadi mustahil terciptanya harapan sesuai dengan keinginan sekolah serta orang tua.

3. Terbuka
Untuk menciptakan suasana keterbukaan, maka seorang wali kelas harus mampu membawa permasalahan yang dihadapi kelas diselesaikan secara terbuka dengan mengkaji permasalahan yang dihadapi. Menyelesaikan masalah tanpa membedakan anak satu dengan yang lainnya serta tanpa menutup-nutupi, artinya yang benar dikatakan benar yang salah dikatakan salah. Apabila berlaku tidak adil, maka akan terdapat kelompok-kelompok siswa yang biasanya akan sulit mengambil keputusan bersama karena masing-masing kelompok akan mencari kebenaran sendiri- sendiri.

4. Disiplin dan Tepat Waktu
Menerapkan disiplin dan tepat waktu membutuhkan suatu sikap serta kesabaran. Bagaimana tidak? Di dalam kelas terdapat individu-individu yang terdiri dari karakter yang berbeda-beda oleh karena itu masing-masing siswa juga berbeda. Ada siswa yang sudah terbentuk kedisiplinannya di lingkungan keluarganya, namun tidak jarang yang terbiasa hidup bebas.
Rendahnya sikap disiplin pada siswa akan tercermin pada saat-saat guru wali kelas meminta biodata untuk diisikan dalam data siswa. Pada saat mengumpulkan buku rapot, pada saat kelas mengadakan iuran-iuran dan banyak hal yang dapat digunakan sebagai patokan pada anak yang disiplin atau tidak. Dengan sikap wali kelas yang selalu tidak memberikan ruang waktu /tenggang diharapkan mampu merubah sikap anak yang kurang disiplin atau tidak disiplin menjadi disiplin.

5. Konsisten dalam Mengambil Keputusan
Permasalahan di kelas sering muncul tanpa disengaja misalnya jadwal piket yang tidak diterapkan seperti yang sudah ditentukan bersama. Bahkan sering juga dijumpai adanya konflik dengan guru pengajar di kelas (biasanya disebabkan oleh suasana KBM yang kurang mendukung) sehingga guru tidak mau mengajar di kelas. Hal-hal seperti itulah yang harus dibicarakan bersama dengan anak-anak di kelas sehingga permasalahan tidak meluas. Apabila tidak ditemukan jalan pemecahannya, maka guru wali kelas harus mengambil keputusan secara adil, namun secara konsisten memegang teguh pada keputusan yang telah diambil.

6. Bijaksana
 Agar kita dapat bersikap bijaksana, maka dalam melihat setiap permasalahan dengan melihat dari banyak sisi, di mana terkadang dari sisi yang satu baik artinya tidak ada kendala, namun di sisi yang lain akan membawa dampak yang luas untuk masa yang akan datang. Misalnya kasus perkelahian antar teman sekelas, jika dilihat dari sisi manapun perkelahian tetap salah, namun selaku wali kelas harus mampu melihat sisi-sisi lain dari timbulnya perkelahian ini agar tidak terulang lagi.

7. Mau Mendengarkan
Dengan mendengarkan anak didik, maka akan menjadi jalan dalam menemukan titik terang dari adanya konflik-konflik kecil di kelas. Di samping itu adanya keinginan-keinginan anak yang perlu dibimbing dan diarahkan serta memudahkan dalam mencari solusi atas problematika yang dihadapi anak didik. Karena dengan menjadi pendengar yang baik, maka si anak akan terbuka dalam mengutarakan pendapatnya serta mau mendengarkan juga atas nasehat-nasehat yang kita berikan. Dengan mendengarkan keluh kesahnya, suka citanya, maka akan terjalin komunikasi dua arah yang saling menguntungkan sehingga rasa sayang layaknya orang tua kepada anaknya akan tumbuh dan berkemang, hingga mampu menjadi bahan evaluasi maupun perbaikan diri pribadi ke arah yang positif.

8. Mampu Memberi Wawasan dan Wacana
Minimnya pengetahuan, rendahnya kualitas sosial dan ekonomi mengakibatkan sempitnya wawasan dan wacana kehidupan ke arah depannya, sehingga akan cenderung memikirkan sesaat bukan sebaliknya yaitu dampak untuk masa-masa yang akan datang. Dengan minimnya wawasan dan wacana, maka akan timbul pola hidup yang simpel bahkan akan cenderung mudah pasrah dengan keadaan, tanpa suatu usaha dan kerja yang sungguh-sungguh. Misalnya rendahnya wawasan akan pentingnya pendidikan, akan mengakibatkan anak malas untuk sekolah dan rendahnya motivasi belajar anak.

9. Mampu Mengontrol, Mengevaluasi, dan Memperbaiki
Kontrol kepada anak didik tidak harus dengan mengintai tingkah lakunya sehari-hari, namun bisa dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan anak. Atau melihat perkembangan anak maupun menjalin komunikasi dengan orang tua.
Evaluasi dapat dilakukan dengan mengajak secara bersama-sama apa-apa saja yang telah dilakukan, dan apa yang harus dilakukan serta bagaimana cara melakukan  agar semua kepentingan yang berbeda-beda tercover semua. akhirnya semua dengan sadar akan melakukan penilaian guna perbaikan, baik itu bersifat personal maupun bersifat untuk kepentingan bersama.
                                                                                                            (ganesha/blogkepakus/nt)

Rabu, 24 Oktober 2012

Jadi Guru Sukses dengan Konsep Diri Positif

Pada suatu negeri antah berantah hiduplah seekor  elang muda dengan induk angkatnya. Kebetulan dalam cerita ini induk dan saudara angkatnya berjenis  ayam. Beberapa bulan yang lalu si induk ayam sedang mengais makan di pinggir hutan. Secara tidak sengaja si induk ayam menemukan sebutir telur. Rasa keibuannya mengerakkan langkahnya untuk mengerami telur tersebut. Beberapa hari setelah itu telurpun menetas dan lahirlah anak elang dengan segala perbedaan fisik. Tubuhnya  lebih besar dari anak-anak ayam pada umumnya.
.......................................................
Dengan rasa kasih dan sayang si induk ayam membesarkan si Elang. Anak elang tumbuh bersama keluarga ayam. Dia diajar cara mencari makan seperti ayam-ayam mencari makan, mengais tanah untuk menemukan cacing, biji-bijian dan sisa-sisa makanan. Induk ayampun mengajarkan si Elang berkotek-kotek, berjalan dan berlarian ala ayam. Singkat cerita anak elang itu kini telah menjadi ayam, mengais mencari makan, berkotek dan berjalan serta bermain seperti ayam pada umumnya.
Masa terus berganti. Anak elang kini tumbuh remaja. Kerap waktu mudanya dihabiskan bermain-main bersama saudara ayamnya dengan sukacita. Ketika asyik bermain, tanpa senggaja matanya menangkap pergerakan di udara. Seekor elang dewasa tengah menari di udara. Elang dewasa itu melakukan manuver indah, membubung, menukik dan meliuk-liuk di angkasa. Terasa asyik, bebas dan perkasa.

Bergegas elang muda menyudahi permainannya. Ada rasa ingin tahu tentang makhluk apa yang tadi terbang bebas di angkasa. Tanya ingin segera dijawab. Sampailah dia bertemu ibu ayamnya. “Ibu, baru saja aku melihat sosok yang luar biasa, terbang di angkasa sedemikian perwira. Seolah menguasai jagad raya?” Tanya elang muda. Sesaat, si Ibu mencerna maksud pertanyaan dan kemudian menjawab,” Oh makhluk itu elang, sang penguasa angkasa, anak ku.” Dengan nafas yang memburu, kembali elang muda bertanya,” bisakah aku terbang bebas, membubung, menukik dan meliuk-liuk seperti makhluk itu, ibu?”
Ibu ayam menghela napas panjang. Dia menatap elang muda sedalam-dalamnya tatap. “Anakku sayang, kita bangsa ayam telah ditakdirkan hanya sampai di tanah ini kemampuan kita. Kita mengais dan berkotek. Kita tidak akan pernah bisa terbang seperti makhluk penguasa angkasa itu.” Ibu ayam berkata sambil mengusapkan kepalanya ke elang muda sebagai tanda kasih dan sayangnya. Induk ayam menangkap kegalauan dari asa yang membubung tinggi di angkasa. Asa hilang lenyap sebatas mata memandang.
Elang muda kini menyadari bahwa terbang adalah suatu kemustahilan. Dia hanya menyadari bahwa dia adalah seekor ayam yang ditakdirkan hanya bisa mengais makanan dan berkotek. Dia lepas asanya daan kembali ke kehidupan ayamnya, bermain bersama teman-teman ayamnya. Sampai saatnya tiba, elang muda berangsur tua dengan perilaku ayam terus melekat sangat erat.
Walau elang muda dianugerahi oleh Sang Pencipta dua kaki dengan cakar-cakar yang kuat, bulu yang lebat anugerah itu berbuah kesia-siaan. Stempel ayam sedemikian melekat dan mematikan potensi diri yang sejatinya elang, penguasa angkasa.
Cerita tadi menyadarkan kita bahwa setiap siswa memiliki potensi yang luar biasa. Dengan modalitas yang berbada-beda pada hakekatnya mereka siap ditempa menjadi hebat. Tinggal sekarang bagaimana upaya kita menuntun mereka untuk memiliki konsep diri positif.

Konsep Diri
Apa kaitan konsep diri dengan keberhasilan?
Guru sejak awal hendaknya membangun komitmen untuk mulai berupaya membangun konsep diri positif siswa. Ini juga tugas kita sebagai guru.
Konsep diri adalah perasaan, pandangan dan harapan kita terhadap diri kita sendiri. Konsep diri terdiri dari 3 (tiga) bagian; Harga Diri, Citra Diri dan Diri Ideal. Harga diri adalah perasaan bahwa kita adalah pribadi yang cakap, mampu dan memiliki keunggulan dan kekuatan. Citra Diri adalah pandangan positif kita terhadap diri sendiri. Dan Diri Ideal adalah harapan dan keinginan kita untuk menjadi pribadi seperti apa di masa depan kelak.
Konsep diri positif akan membawa seseorang kepada pencapaian tujuan dan kesuksesan. Sebaliknya konsep diri negative membawa kita pada kegagalan. Dalam hal ini guru perlu berjuang agar setiap siswa di ruang kelasnya  memiliki konsep diri yang positif sehingga gairah belajar siswa tetap terjaga dan proses pembelajaran diri dapat dilalui dengan suka cita.
Siswa yang memandang dirinya tak berharga karena sering diabaikan dalam kehidupannya biasanya tidak percaya diri ketika belajar. Siswa yang meyakini bahwa dia tidak cakap dan mampu memahami semua pelajaran pun akan jauh dari kesuksesan belajar. Demikian juga halnya dengan siswa yang tidak jelas mau menjadi apa di masa depannya. Biasanya ketidakjelasan ini akan membuat mereka terombang-ambing dalam belantara kehidupan.
Guru perlu sering mengajak siswa berbincang-bincang di luar kelas tentang keistimewaan yang mereka miliki dalam upaya meningkatkan citra diri. Guru perlu menyampaikan kepada siswa bahwa mereka bisa mengerti pelajaran dan mendemonstrasikan keterampilan dalam pembelajaran asal mereka gigih dan sabar. Guru pun perlu memberi inspirasi kepada siswa tentang penting memiliki cita-cita. Everything is possible! Konsep ini perlu ditanamkan kepada mereka. Mereka bisa berates kali lebih hebat dari pada orang-orang terdekat mereka. Mereka bisa menjadi tokoh-tokoh yang tidak hanya sekedar berada di tingkat nasional tapi lebih tinggi lagi internasional.
Bayangkan kebahagian guru ketika mampu melahirkan orang-orang hebat yang akan menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara republic ini. Wow, amazing! Jangan menjadi seperti induk ayam yang telah mematikan potensi elang muda untuk terbang, membubung, menukik dan meliuk-liuk di angkasa. Walau si Elang muda punya potensi yang luar biasa potensi itu mati hanya karena perkataan. Hati-hatilah dalam berkata-kata terutama yang menyangkut stempel diri siswa. Jangan pernah menyebut siswa bodoh. Siswa itu bisa menjadi betul-betul bodoh karena ucapan kita. (diolah dari: Indra Muis/ganesha)

Senin, 22 Oktober 2012

Guru Inspirator, Seperti Apakah?


Perubahan kurikulum pada tahun ajaran 2013/2014 harus dibarengi peningkatan kualitas guru. Dengan kurikulum baru ini, guru tidak hanya jadi pengajar, tapi juga inspirator.
................................

Kehadiran sosok guru di tengah -tengah anak didiknya, bakal kian lengkap. Pasalnya, perubahan kurikulum pada tahun ajaran 2013/2014, menuntut guru lebih memaksimalkan perannya, tak semata sebagai pendidik, namun juga pemberi dan pemantik  inspirasi bagi anak didiknya.
“Guru sebagai inspirator ini akan menjadi lompatan penting dunia pendidikan ke depannya..” kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti.
Lanjut Wiendu  nantinya dengan bahan-bahan pelatihan yang ada diharapkan guru sebagai inspirator akan muncul. “Guru sebagai inspirator, bisa menerobos ruang waktu dan kurikulum bertahun-tahun," harapnya.
Artinya  tegas Wiendu,  perubahan kurikulum penting, tapi guru lebih penting. Seperti apa pun kurikulum yang dibuat kalau guru tidak maksimal, hasilnya juga tidak akan maksimal. “Maka perubahan kurikulum ini harus dibarengi peningkatan kualitas guru.” ujarnya.

Makna Guru Inspiratif
Selama ini ada banyak memang guru yang sudah mampu menjadi inspirator bagi murid-muridnya. Namun peran tersebut masih dianggap bukan hal yang utama. Cukup mendidik dan mengajar, memberi ilmu, guru merasa sudah memenuhi sebagian besar tugasnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata  “inspirasi” adalah kata benda yang berarti “ilham”. Sedangkan kata “ilham” sendiri memiliki tiga arti yakni  petunjuk Tuhan yang timbul di hati, berarti pula pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati atau  bisikan hati dan bermakna pula  sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dsb).
Dalam hal ini berarti seorang guru harus mampu membangkitkan pikiran atau angan-angan muridnya untuk melakukan sesuatu atau menjadi sesuatu yang positif (cita-cita atau keinginan). Guru juga harus bisa menggerakan hati anak didiknya untuk menciptakan sesuatu, membuat sesuatu, berusaha, berjuang dan mengikuti sesuatu yang diyakininya benar dan baik.
Ngainun Naim, dalam bukunya “Menjadi Guru Inspiratif “ menjelaskan bahwa guru adalah orang yang mengantarkan seseorang untuk mencapai kemulian. Guru begitu memiliki peranan penting dalam proses belajar siswa. Guru juga harus bisa memberikan pencerahan bagi siswanya dan mampu melahirkan siswa yang tangguh, siap menghadapi aneka tantangan sekaligus  memberi perubahan yang hebat bagi kehidupannya.
“Pencerahan itu pasti lahir dari guru yang inspiratif. Guru inspiratif adalah guru yang memiliki orientasi jauh lebih luas. Guru inspiratif memilih melakukan tindakan yang sangat strategis, yaitu bagaimana ia mampu memberikan perspektif yang mencerahkan. Guru inspiratif menawarkan perspektif yang memberdayakan, menghasilkan energi yang kreatif, “ ujar Ngainun.
Lanjut Ngainun,  guru inspiratif tidak hanya melahirkan daya tarik dan spirit perubahan terhadap diri siswanya dari aspek diri pribadinya semata, tetapi ia juga harus mampu mendesain iklim dan suasana yang juga inspiratif.
Penciptaan pola yang inspiratif akan semakin memperkukuh karakter dan sifat inspiratif yang ada pada diri guru. Perpaduan keduanya yaitu karakter diri guru dan suasana pembelajaran akan menjadikan dimensi inspiratif, semakin menemukan momentum untuk mengkristalkan dan membangun energi perubahan positif dalam diri setiap siswa.
Tambah Ngainun, dalam usaha untuk menciptakan iklim pembelajaran yang inspiratif, aspek paling utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana guru mampu untuk menarik dan mendorong minat siswa untuk tenang dan menyukai terhadap pelajaran.
“Penciptaan suasana pembelajaran yang inspiratif sangat penting artinya untuk semakin mengukuhkan dan mendukung kekuatan inspiratif yang bersumber dari diri pribadi guru. Dua aspek ini: pribadi guru dan suasana pembelajaran, pada gilirannya akan mampu mengakumulasikan potensi dalam diri para siswanya untuk semakin meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. “ jelasnya.
Katanya, modal inilah yang pada gilirannya dapat dilejitkan untuk melakukan perubahan menujuh arah pencapaian cita-cita hidup, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
“Dalam jangka pendek, para siswa mampu menjadi siswa dengan prestasi belajar yang memuaskan. Sedangkan cita-cita jangka panjangnya adalah bagaimana menjadi pribadi yang sukses dalam makna yang luas; sukses hidup, keluarga, profesi, social, dan kemasyarakatan.” ucap Ngainun.

Tak Semata Naik Kelas
Sementara itu Lendo Nove, seorang pendiri Sekolah Alam di Bandung, mengatakan bahwa guru dalam bekerja layaknya tidak seperti tukang, namun bak seniman. Guru seperti ini tak semata berusaha mencetak  murid-muridnya naik kelas dengan standar angka-angka tertentu, namun mampu membekali anak didiknya dengan inspirasi yang tak pernah mati.
Guru adalah contoh terdekat bagi anak-anak didik di samping keluarganya di rumah. Maka guru harus mampu  menginspirasi siswa  dengan segala tindakannya. Guru bisa menginspirasi muridnya dari hal-hal yang kecil, misalnya jujur dalam bertindak, berkarya, menulis, dan berkata. Peran guru seperti itu bisa menghindarkan murid dari  sikap tak jujur, curang, dan sikap negatif lainnya.
Dengan demikian, nantinya kebahagiaan seorang guru lahir bukan semata-mata karena mampu mengantarkan anak didiknya lulus jenjang sebuah sekolah, namun kebahagiaan yang utama adalah ketika guru mampu mengantarkan anak didiknya tamat sekolah dengan membawa inspirasi yang besar. Dengan inspirasi itu, anak didiknya akan bisa hidup terhormat karena mampu berbuat sesuatu, kreatif, mempunyai keinginan untuk maju, pantang menyerah, cerdas, jujur, percaya diri dan tak mudah putus asa.
Semoga Anda bisa menginspirasi murid-murid Anda, mulai dari hal-hal kecil, lalu berlanjut ke hal-hal yang besar dan luar biasa.
                                                                                                  (agus ponda/ganesha)

Jam Belajar SD Direncanakan Ditambah

KTSP Akan Diganti

Bukan Indonesia, kalau bidang pendidikan tak pernah sepi dari perubahan atau hal-hal baru. Yang lama diganti dengan yang baru atau sebaliknya. Termasuk  jam belajar dan Kurikulum.
........................................
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang menggulirkan wacana ingin menambah jam belajar siswa Sekolah Dasar. Tetapi sampai saat ini, ketentuan jam belajar baru itu masih tahap penggodokan. Kemendikbud terus mengkaji dampak aturan baru ini dengan beberapa pakar pendidikan dan psikologi.
Plt Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Suyanto di Jakarta, Rabu (19/9) mengatakan, ada banyak konsekuensi terkait rencana penambahan jam belajar ini. Selain konsekuensi psikologis, juga ada konsekuensi teknis pembelajaran.  Contoh SD kelas 1, dari 26 jam seminggu akan ditambah jadi 30 jam sepekan.
Untuk diketahui, dalam Permendiknas No 22/2006 tentang Standar Isi Jam Belajar untuk SD/ MI kelas I adalah 26 jam pelajaran, kelas II 27 jam, kelas III 28 jam, dan Kelas IV hingga VI adalah 32 jam. Lama satu jam pelajaran 35 menit.
 "Jika nanti jadi ditambah (jam belajar SD, red), maka konsekuensinya ada mata pelajaran yang harus dikurangi," katanya. Dengan cara ini, bisa menekan potensi siswa SD kelelahan secara psikologis dalam mengikuti pembelajaran. Suyanto juga mengatakan jika nantinya jam belajar SD jadi ditambah, maka model belajarnya juga harus dirubah menjadi lebih tematik dan segar.
 Mantan rektor Universitas Negeri Yogyakarta itu menuturkan, saat ini jumlah mata pelajaran yang harus dihadapi siswa SD tidak bisa disebut sedikit. Dia mengatakan jika siswa SD saat ini menghadapi sembilan mata pelajaran. Selanjutnya untuk siswa SMP ada 12 mata pelajaran, dan siswa SMA ada 16 mata pelajaran.
 Merujuk pada pola pendidikan di negara-negara yang sistem pendidikan sudah maju, rata-rata jam belajarnya lebih banyak empat jam per hari dibandingkan dengan di Indonesia. "Itu adalah contoh kasus di negara-negara yang pendidikan maju secara progresif," kata dia.


Kurikulum Diganti Lagi
Wacara penambahan jam belajar siswa SD ini tidak terlepas dari rencana Kemendikbud mengganti kurikulum yang sudah ada. Seperti diketahui, kurikulum pendidikan saat ini bernama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pemerintah menargetkan kurikulum pendidikan yang baru ini keluar akhir tahun ini. Sehingga bisa dijalankan pada tahun ajaran baru 2013-2014 nanti.
Nuh menuturkan penambahan jam belajar siswa di sekolah adalah bagian dari revisi kurikulum. Dia menargetkan kurikulum baru akan rampung bulan Februari 2013.
Menurutnya, revisi kurikulum tidak hanya mengacu kepada salah satu negara. Misalnya, saat ini, pemerintah bersama praktisi pendidikan sedang mengkaji kurikulum yang dipakai negara-negara yang tergabung dalam Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Selain itu, kajian kurikulum juga dilakukan kepada negara-negara yang gigih mempertahankan karakter kebangsaan seperti Jepang dan Korea.
“Kita tidak kiblat ke mana-mana, tapi kita pelajari kurikulum di sejumlah negara,” ujar Nuh.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud Suyanto mengatakan pembahasan revisi kurikulum melibatkan satuan kerja, eselon I dan unit utama, Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemdikbud,  dan praktisi pendidikan dan budayawan seperti Anies Baswedan, Frans Magnis Suseno, Ratna Megawangi, dan Sofyan Djalil.
“Yang budayawan melihat dari aspek budaya, sedangkan seperti Anies Baswedan melihat dari sisi kepemimpinan, jadi kurikulum ini lengkap,” kata Suyanto.
Dia mengaku tidak menemui kendala berarti dalam pembahasan revisi kurikulum. Menurutnya, pembahasan dengan melibatkan tokoh-tokoh pendidik dan budaya sudah dilakukan selama sebulan.

Orangtua Tak Perlu Risau
Di bagian lain, Mendikbud Mohammad Nuh meminta masyarakat terutama orang tua yang memiliki anak usia SD tidak perlu risau. Dia menjamin jika penambahan jam belajar ini tidak akan menimbulkan beban psikologi kepada para siswa. Nuh menjamin demikian karena penambahan jam belajar ini tidak semata-mata dalam bentuk pengajaran di dalam kelas seperti pada umumnya.
 Lebih dari itu, penambahan jam belajar ini bisa berupa diskusi, menontot video-video pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler  olahraga, serta kegiatan keagamaan dan sejenisnya. "Intinya penambahan jam belajar ini bukan berarti harus ada penambahan jam untuk tatap muka di dalam kelas. Intinya kita jamin bukan menambah beban belajar formal," tutur menteri asal Surabaya itu.
Nuh menjelaskan bahwa pada intinya tambahan jam akan dimanfaatkan untuk pendidikan karakter, bukan menambah jam pelajaran siswa secara formal. Tujuannya adalah internalisasi nilai. Artinya skema baru penambahan jam belajar ini sejalan dengan penanaman pendidikan berkarakter.
Nuh menuturkan, rencana penambahan jam belajar ini muncul karena kondisi lingkungan para siswa yang sudah mengalami perubahan drastis. Dia mengatakan, saat ini banyak orang tua yang sudah sibuk dengan aktifitas pekerjaannya sendiri. Sehingga, anak-anak kurang mendapatkan sentuhan pendidikan di keluarga. Sebagai gantinya, kekurangan pendidikan di keluarga itu diberikan di dalam sekolah.
"Tidak apa-apa orang tua sekarang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tetapi pendidikan anak-anak harus diperhatikan. Terutama pendidikan soal moral dan akhlaq.” katanya
 Kembali Nuh mengingatkan, penambahan jam tidak serta merta akan jadi beban untuk anak. “Anak pukul 12 pulang, lepas, tidak ada yang kontrol, dia bisa tawuran dan sebagainya. Lebih baik lebih lama di sekolah. Dia bisa ikut ekstrakurikuler atau kerjakan PR,” kata Nuh di Jakarta. Penambahan jam belajar ini dilandaskan pada perlunya memproteksi para siswa dari lingkungan negatif di luar sekolah.
Nuh mengatakan tambahan jam belajar siswa di sekolah rencananaya akan diberlakukan mulai dari SD, SMP, SMA, sampai Perguruan Tinggi. Khusus untuk siswa SD, dia mengatakan tambahan jam bisa dipakai untuk aktivitas bermain.


Menguntungkan Guru
Nuh menjelaskan penambahan jam mengharuskan pemerintah menyiapkan fasilitas berupa ruang makan. Sekolah juga harus memikirkan kebutuhan makan siang untuk siswa. Namun, menurutnya, penambahan jam berdampak lebih positif karena guru bisa mengawasi siswa.
“Sekolah-sekolah yang bagus atau mahal hampir semua full day atau semi-full day. Anak baru pulang pukul 4 atau 5 sore, atau pukul 2 siang. Artinya apa? Orangtua lebih yakin, lebih mempercayakan anak-anak ditangani di sekolah daripada di rumah tidak ada yang urus,” ujarnya.
Mendikbud menambahkan penambahan jam belajar siswa juga menguntungkan bagi para guru. Guru yang kekurangan jam mengajar (minimal 24 jam seminggu) bisa mengambil dari tambahan jam tersebut. Menurut Nuh, tambahan waktu belajar siswa akan dihitung per minggu.
“Kalau sekarang anak SD 26 jam dalam satu minggu bisa jadi kita naikkan 30 jam sehingga dia tambah lama di sekolah, tetapi tidak dalam bentuk belajar secara formal tetapi penanaman nilai,” kata Nuh.
                                                                                                                 (jps/sp/nt/ganesha)

Wow, Soal UN 2013 Ada 20 Variasi?

Kisi-kisinya Akan Dilansir Oktober

Karena masih ada kecurangan UN, pemerintah berupaya lebih untuk meminimalkan hal itu tahun depan. Caranya, membuat soal dalam 20 variasi atau lebih.
........................................
Menurut Nuh, tingkat kelulusan UN memang meningkat dan kejadian menyontek terus turun. “Tapi, untuk meningkatkan proses kejujuran siswa dalam mengerjakan soal, harus terus dilakukan pembenahan.”
Namun rupanya tak mudah melangkah ke arah itu. Rencana pemerintah membuat 20 variasi soal Ujian Nasional untuk setiap mata pelajaran di setiap ruang ujian, memerlukan persiapan khusus. Diantaranya adalah panitia memajukan jadwal melansir kisi-kisi soal UN 2013. Melalui kisi-kisi ini, calon peserta UN bisa lebih dini mempersiapkan diri.
Kepala Badan Penelitian dan Pe-ngembangan (Kabalit-bang) Kementerian Pendidikan dan Kebu-dayaan (Kemendik-bud) Khairil Anwar Notodiputro di Jakarta kemarin (14/9) menjelaskan, pihaknya sudah menyelesaikan pembuatan draf kisi-kisi soal Unas. "Terutama yang untuk SMA sederajat," kata dia.
Dia menjelaskan, draf kisi-kisi soal itu harus lebih dulu dilaporkan ke Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Setelah mendapat pengesahan dari BSNP, baru kisi-kisi ini dilansir atau disebarkan ke masyarakat. Sehingga bisa dimanfaatkan para guru dan siswa jelang menghadapi UN tahun depan.
Khairil mengatakan biasanya kisi-kisi soal UN baru diumumkan menjelang akhir tahun. "Tahun lalu (2011, red), kisi-kisi baru kita keluarkan akhir November," kata dia. Untuk kisi-kisi soal UN 2013, Khairil menargetkan sudah bisa diumumkan kepada masyarakat Oktober mendatang.
Dia lantas mengatakan, kisi-kisi soal UN ini bukan disebarkan ke masyarakat dalam bentuk butir-butir soal ujian layaknya seperti di lembar soal unas. Sebaliknya, kisi-kisi ini disebar ke masyakarat dalam bentuk uraian.
"Contohnya untuk mata pelajaran mate-matika, ada kisi-kisi yang bunyinya mencari akar persamaan kuadrat," kata Khairil.
Melalui kisi-kisi soal UN ini, para guru maupun siswa bisa fokus dalam belajar. Pada guru diharapkan bisa membuat soal-soal latihan menjelang unas melalui kisi-kisi tersebut.
Dengan demikian, dia menghimbau masyarakat tidak tertipu dengan potensi praktek-praktek kejahatan. Misalnya, ada pihak yang mengaku memiliki butir-butir soal yang tingkat kemiripannya dengan soal UN mencapai 75 persen atau bahkan 100 persen. Praktek ini tentu tidak benar, sebab sampai saat ini pemerintah belum menyusun butir-butir soal UN.
Khairil juga menjelaskan jika kisi-kisi soal unas yang disebar ke masyarakat nantinya juga menjadi dasar bagi tim pembuat soal. Saat menyiapkan butir-butir soal unas, seluruh anggota tim pembuat soal nantinya wajib merujuk pada kisi-kisi soal tersebut.
"Jadi kerja tim pembuat soal dengan materi yang dipelajari siswa nyambung," ucap Khairil. Dia menegaskan, panitia menghindari kasus ada siswa yang merasa soal unas tidak pernah diajarkan selama di sekolah. Terkait keberadaan 20 variasi soal, Khairil mengatakan menjadi sebuah tantangan bagi panitia karena harus menyiapkan butir soal yang cukup banyak.

Kinerja Pembuat Soal
Sementara itu Prof Djoko Suryo, pengamat pendidikan dan kebudayaan dari UGM, menilai, semakin banyak variasi soal, akan semakin meredam aksi penjual bocoran soal. Namun perubahan dari 5 variasi soal menjadi 20 varian memerlukan kajian tersendiri agar tidak menjadi beban negatif aspek lainnya.
Pemerintah juga harus memperbaiki kinerja panitia pembuat soal, mengingat selama ini masih banyak soal yang salah ketika dibagikan ke peserta ujian. “Jumlah tenaga pembuat soal harus ditambah, dan ini menyangkut biaya lebih besar,” kata dia.

Dikritik
Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto, menilai rencana pemerintah membuat 20 variasi soal ujian nasional sebagai hal yang mustahil. "Membuat dua soal yang sama saja sulit sekali, apalagi 20. Ini mudah dikatakan tetapi sulit dikerjakan," katanya kepada Tempo, Selasa, 11 September 2012.
Dikatakan Iwan, paket soal ujian nasional yang berbeda pun harus memiliki tingkat kesulitan yang sama. Tujuannya, agar tak ada siswa yang diuntungkan maupun dirugikan dari jenis soal yang berbeda.
Pendapat serupa juga disampaikan pemerhati pendidikan dari Education Forum, Elin Driana. Dia mengatakan variasi soal yang dibuat pemerintah untuk memperketat pengawasan Ujian Nasional 2013 harus dipastikan memiliki tingkat kesulitan yang setara.
Soal UN yang berdampak besar bagi siswa harus dibuat dengan berbagai pertimbangan.
“Setidaknya ada empat aspek yang harus diperhatikan yakni reliabilitas, validitas, tingkat kesulitan yang sama, dan tidak bias,” kata Elin.
Keempat aspek tersebut menurut dia perlu diperhatikan benar agar soal, meski berbeda paket, tetap setara.
“Pemerintah harus bisa menunjukkan bahwa meskipun paket soalnya berbeda, tetapi kedua puluh paket soal itu tingkat kesulitannya sama,” tutur Elin.
Rencana membuat variasi soal UN hingga 20 jenis disampaikan kemarin, Senin, 10 September, oleh Menteri Pendidikan Muhammad Nuh dalam rapat kerja dengan Komisi Pendidikan Dewan Perwakilan Rakyat. Pengetatan tersebut dilakukan terkait rencana pemerintah mengintegrasikan hasil ujian sebagai instrumen masuk perguruan tinggi.
"Jadi tak mungkin menyontek karena setiap peserta dalam satu kelas soalnya berbeda,” kata Nuh.
 (jps/kom/ganesha/nt)

Duh, Sebagian Besar Guru Tak Lulus PLPG...

Rayon 111 UNY “Terparah” (?)

Kabar ‘duka’ terhembus dari  kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) 2012. Tak seperti PLPG angkatan sebelumnya, kali ini banyak guru tak lulus PLPG. Mereka pun harus mengulang. Bahkan tak cukup sekali, karena juga tak lulus ujian ulangan. Adakah yang minus  dari mereka?
.....................................................
Setelah digeber sejak sekitar bulan Juli 2012, pelaksanaan PLPG berakhir juga. Setidaknya 46 Universitas di seluruh Indonesia sebagai penyelenggara PLPG 2012, sudah mulai mengumumkan hasi PLPG di rayon masing-masing. Dengan sistem online, para peserta PLPG bisa langsung mengetahui apakah dirinya lulus atau tidak.
Hasilnya cukup mengejutkan dan menyesakkan dada. Tak seperti sangkaan sebelumnya, yang seolah bisa dipastikan sebagai  besar lulus PLPG., kali ini ternyata banyak guru yang tak lulus PLPG.
Sebagai contoh Rayon 111 Universitas Negeri Yogyakarta yang diantaranya diikuti sekitar 848 guru-guru Sekolah Dasar dari Kabupaten Ciamis. Pengumuman di rayon ini telah membuat sebagian besar guru peserta histeris atau berduka. Bagaimana tidak, dari jumlah 848, hanya sekitar 306 guru yang lulus PLPG.  Sisanya  sekitar  64% tak lulus. Artinya hanya 36% yang lulus. Me-reka adalah peserta PLPG gelombang 5 - 8.
Melihat lebih banyaknya kata “Meng-ulang” daripada “Lulus” dalam pengumum-an hasil PLPG Rayon 111 UNY, membuat banyak guru bersedih. Para guru yang lulus juga mengaku prihatin dengan ‘nasib’ rekan-rekannya yang harus kembali balik ke Yogyakarta untuk mengulang.
“Alhamdulillah saya lulus, tapi saya tak menyangka banyak rekan saya yang tak lulus. Dan mereka itu banyak yang sebenarnya lebih senior,” ujar seorang guru yang tak mau disebutkan namanya.
Sebut saja nama guru itu Warsih. Menurut Warsih, yang memprihatinkan di banyak kecamatan, justru hanya beberapa orang saja yang lulus, sebaliknya lebih banyak yang tak lulus.
Sebagaimana diketahui, untuk menentu-kan seorang peserta PLPG lulus atau tidak didasarkan pada hasil Ujian Tulis, Ujian Praktek, Hasil Workshop, Partisipasi selama PLPG, dan penilaian Teman Sejawat. Peserta PLPG akan dinyatakan lulus apabila skor akhir = 65,00 dengan skor ujian tulis = 60,00 dan skor ujian praktek = 65,00.
Dari hasil pengumuman Rayon 111 tersebut, sebagian besar guru tak lulus harus mengulang dalam hal ujian uraian, sebagian lagi dalam hal ujian obyektif. Bahkan banyak pula yang double harus mengulang keduanya, obyektif dan uraian.
Hasil lainnya dari Semarang, Jawa tengah, lebih kurang 40% dari 11.000-an peserta Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Rayon 112 Universitas Negeri Semarang (Unnes) tidak lulus.
’’Ini tidak hanya di Rayon Unnes, tapi seluruh Indonesia. Kenyataannya memang seperti itu, banyak peserta sertifikasi profesi tidak bisa lulus,’’ kata Sekretaris Pelaksana Sertifikasi Guru Rayon 112 Unnes, Drs. Masugino, M.Pd., di ruang kerjanya Gedung H lantai I Kampus Unnes.

Lemah Analisis
Pertanyaan pun muncul, mengapa banyak guru yang tak lulus PLPG 2012?
Ketua Panitia Sertifikasi Guru  Rayon  114 Universitas Negeri Surabaya, Alimufi Arief, sementara menyimpulkan banyaknya guru yang tak lulus ujian utama PLPG beberapa waktu lalu karena tingkat kecerdas-an guru yang lemah. Mereka rata-rata tak lulus karena lemahnya tingkat analisis mereka.
Saat ditemui di sela-sela pelaksanaan ujian ulang PLPG, dosen Unesa ini mengaku prihatin. "Daya nalar dan analisis mereka lemah sehingga tak lulus," kata Alimufi Minggu (2/9/2012).
Lanjutnya, Panitia Rayon 114 mencatat dari hasil ujian utama PLPG akhir Juli lalu, sebanyak 4.537 guru tak memenuhi standar. Mereka diijinkan mengikuti ujian ulang. Bahkan ujian ulang pertama sudah digelar untuk guru TK dan SD. Dari peserta ujian ulang 2.136, yang tidak lulus 1.168.
“Yang lulus hanya 968. Yang tidak lulus tersebut diikutkan ujian gelombang kedua bersama ujian gelombang pertama guru bidang studi (SMP, SMA/SMK). Kalau diberi soal studi kasus yang memerlukan analisis, guru rata-rata tak cakap," kata Alimufi.
Konon, Panitia PLPG juga tak habis pikir. Bagaimana mungkin para guru yang biasa melakukan tindakan kelas tak bisa. Begitu juga sebe-lum ujian ada kisi-kisi materi ujian PLPG.  Ternyata semua bergantung kompetensi guru itu sendiri.
Jelas Alimufi, ada bebe-rapa mata ujian menyangkut kompetensi guru dalam PLPG. Yakni ujian prakik, ujian teknik (bidang studi) nasional dan ujian teknik lokal. Mereka juga harus membuat analisis. Namun di tataran inilah banyak kelemahan guru.
Dari 4.537 masing-ma-sing yang tak lulus di setiap mata ujian , ujian praktik tak lulus 12, ujian teknik nasional 406, ujian lokal 2.963, dan sisanya ujian gabungan.

Banyak Faktor
Dari Ciamis, Warsih mengatakan, salah satu faktor guru tak lulus  karena faktor  kurangnya penilaian dari rekan. Walaupun hanya sekitar 10% dari total penilaian, namun cukup menentukan.  Menurutnya banyak guru yang kurang dalam hal ‘sosialisasi atau pergaulan sehari-hari’ saat PLPG.  Dalam satu kamar saja, mereka seolah masih ada sekat. Padahal rekan terdekat akan diminta untuk memberian nilai tentang dirinya.
“Seharusnya kita berlaku sopan, familiar, terbuka dan tidak terlalu jaga imej, meskipun teman terdekat kita saat itu entah siapa dan dari mana.” ucapnya.
Hal lainnya, lanjut Warsih, banyak guru yang tak lulus dalam ujian cara mengajar. Ini mengherankan.”Masa cara mengajar saja kita tak lulus?” tanyanya.
Hal lainnya jelas Warsih, keaktifan atau partisipasi peserta juga turut menentukan nilai akhir. Selain itu yang juga penting, adalah dalam hal pembuatan Penelilitian Tindakan Kelas (PTK). “PTK yang dianggap baik oleh penilai, adalah PTK yang lebih ke proses pembelajaran, daripada menekankan pada peningkatan hasil belajar siswa.” katanya

Waktu tak Cukup
Sementara itu dari Surakarta Jawa Tengah, beberapa peserta PLPG yang tidak lulus ujian PLPG, mengeluhkan terbatasnya waktu mengerjakan soal ujian. Akibatnya mereka tidak bisa mengerjakan soal dengan benar.
Salah seorang peserta PLPG yang tercatat sebagai guru SDN Petoran, Jebres, Rochmat, mengungkapkan ia tidak lulus pada ujian lokal PLPG. Menurutnya, waktu mengerjakan soal ujian sangat mepet.
“Dalam waktu satu jam, kami harus mengerjakan soal esai dan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Padahal untuk membuat PTK, butuh waktu panjang,” kilahnya. Akibatnya Rochmat dan 152 guru lainnya harus mengambil surat tugas mengikuti ujian ulang PLPG, di Ruang Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK), Disdikpora Solo. Pasalnya mereka dinyatakan tidak lulus PLPG.
Rochmat menceritakan dirinya termasuk peserta tahap I rombongan belajar (Rombel) pertama. Dari 30 guru di Rombel tersebut, hanya lima orang yang lulus. Sementara pada Rombel II dan III, hanya satu guru yang lulus pada setiap rombel. Setiap Rombel terdiri atas 30 guru.
Peserta PLPG lainnya dari SDN Wonosaren, Lilis, menjelaskan faktor kelelahan kemungkinan menjadi salah satu penyebab ia dan teman-temannya tidak lulus PLPG. Ia menerangkan selama 10 hari mereka harus mengikuti PLPG di tempat tertentu. Selama PLPG, mereka mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) setiap hari mulai pukul 07.00-17.00 WIB. Malam harinya mereka masih harus menyiapkan beberapa perangkat untuk Diklat esok harinya. “Sebenarnya materi yang diujikan sudah disampaikan saat diklat. Tapi karena waktu belajarnya kurang dan lelah, banyak yang lupa,” ungkapnya.
Terlebih bagi guru yang tak lagi muda seperti dirinya, terang Lilis, tidaklah mudah untuk mempelajari banyak teori. Terlebih kebanyakan peserta PLPG sudah berkeluarga. Otomatis mereka juga memikirkan keluarga yang ditinggalkan 10 hari. “Bahkan ada yang mikir utang,” ujarnya berkelakar.

Kelelahan
Peserta lainnya dari SDN Tunggulsari, Aminah, mengatakan selama mengikuti PLPG ia merasa kelelahan. Sehingga saat ujian, ada soal ujian yang tidak bisa dikerjakan dengan benar. Rochmat menerangkan setiap peserta PLPG harus mengikuti tiga kali ujian. Yaitu ujian nasional yang soalnya dari pusat, ujian lokal yang soalnya dibuat UNS dan praktik mengajar. “Soal ujian lokal memang lebih sulit dibandingkan soal ujian nasional. Sehingga banyak guru yang tidak lulus dan harus mengulang ujian lokal,” jelasnya.
Kepala Bidang PTK, Disdikpora Solo, Sulardi mengungkapkan setiap peserta PLPG seharusnya mempersiapkan diri dengan baik dan bisa mengatur dirinya. Manurutnya, hal itu menjadi salah satu kunci sukses PLPG. Ketika seorang calon peserta PLPG dinyatakan lulus uji kompetensi, terangnya, dirinya harus siap mengikuti PLPG kapan pun. Tak terkecuali jika guru tersebut harus mengikuti PLPG tahap I.
“Tak ada alasan ikut PLPG, guru belum siap,” tutupnya.

Dikembalikan ke Daerah
Sedangkan Sekretaris Pelaksana Sertifikasi Guru Rayon 112 Unnes Semarang, Drs. Masugino, M.Pd., menuturkan, banyaknya guru tak lulus PLPG menjadi terapi kejut bahwa ketika mereka mengikuti sertifikasi sudah pasti lulus. Itu hanya pandangan yang tidak benar. Ada proses ujian yang harus diikuti dan semua dilaksanakan secara serius.
’’Jangan sampai beranggapan begitu lolos bisa ikut PLPG dan pasti lulus. Tidak seperti itu. Kami melakukan proses ini sesuai dengan standar, sehingga yang dinilai tidak memiliki kompetensi mengajar secara profesional, tentu tidak lulus,’’ katanya.
Kini yang jelas  mereka yang tak lulus PLPG sedang berjuang kembali agar lulus ujian ulangan. Bila tak lulus mereka harus kembali mengikuti ujian ulangan gelombang 2 dan seterusnya. Namun tentu saja panitia tak mau terus menerus mengurus peserta yang berkali-kali tak lulus ujian ulangan.
“Di Rayon 112, peserta yang dua kali tak juga lulus ujian ulangan, terpaksa kami kembalikan ke daerahnya masing-masing.” tegas Masugino.*

Mengukur Ketulusan Hati Seorang Guru

Ada seorang guru mengabdikan diri dengan menerima murid-muridnya belajar selepas maghrib di rumahnya.  Secara berkelompok murid-murid belajar bersama sang guru. Dengan ikhlas, di sela waktu istirahatnya, sang guru memberi pelajaran tambahan hingga isya’ menjelang.
.......................................
Selang beberapa saat kegiatan berlangsung murid yang belajar semakin berkurang. Sang guru heran, apa ada yang salah pada dirinya? Mencoba bercermin mengupas diri. Tak ada yang keliru. Dia tidak memungut biaya atas apa yang dilakukannya membimbing murid di malam hari. Tidak pernah sekalipun kata kasar terlontar menghadapi murid yang beragam kepandaian, bahkan bila saat ia berlebih rezeki, ia hidangkan roti dan makanan kecil lain untuk murid-muridnya. Kenapa?
Salah satu murid akhirnya bercerita bahwa sebagian murid takut belajar tambahan di malam hari karena sepulang belajar mereka selalu diganggu hantu penunggu pohon besar di pinggir kampung.  Sang guru berang, merasa siswanya terganggu haknya untuk meraih ilmu. Akhirnya selepas isya, setelah semua murid pulang, sang guru mendatangi hantu penunggu pohon besar.  Ditantangnya setan berkelahi karena telah mengganggu muridnya. Perkelahian seru tak terhindarkan, semangat membela hak muridnya mampu memompa semua kemampuan lahir bathin sang guru hingga dapat mengalahkan hantu penunggu pohon besar. 
Sang guru pun menang, makhlus halus penunggu pohon besar segera akan diusir dari tempatnya tinggal selama ini. Namun makhlus halus itu merayu sang guru untuk tetap bisa tinggal di pohon besar. Dia berjanji untuk tidak mengganggu murid-murid sang guru dan akan memberikan setumpuk uang dan emas yang akan diberikan esok hari di bawah tempat tidur sang guru selepas memberi pelajaran tambahan pada muridnya. Karena kebesaran hati sang guru, setan penunggu pohon besar diampuninya. 
Esok malam selepas maghrib banyak murid datang, karena pagi hari sudah diberitahu, setan penunggu pohon besar sudah kalah dalam pertarungan.
Riang gembira, suka cita mewarnai suasana belajar mereka. Sang guru merasa sangat bersyukur murid-muridnya dapat belajar tanpa diganggu rasa takut.Selepas isya’ mereka berpamitan.
Saat sang guru akan tidur dan merebahkan diri di pembaringan ia tersenyum, teringat pertarungannya degan setan penunggu pohon besar.  Semakin lebar senyumnya mengingat kemenanggannya. Tiba-tiba sang guru teringat akan janji setan penunggu pohon besar yang akan memberikan harta kekayaan atas kemenangannya. Tapi setelah dilihat di bawah pembaringannya ternyata tidak ada satupun emas dan uang seperti yang djanjikan.  Sang guru marah besar!
“Dasar setan tukang bohong! Penipu!” makinya.
Tanpa berpikir dua kali sang guru mendatangi setan penunggu pohon besar.  Ditagihnya janji setan penunggu pohon besar. Karena tetap ingkar akhirnya perkelahian terjadi.  Seru dan sengit! Melebihi pertarungan sebelumnya. Tapi kali ini sang guru tidak beruntung. Nafsu amarah dan keinginan atas harta menutup ketulusan hatinya, ia pun kalah.
***
Kisah di atas hanya sebuah illustrasi, bagaimana ketulusan hati seorang guru tiba-tiba dapat diukur hanya karena godaan materi atau harta. Motivasi agar muridnya bisa memperoleh ilmu darinya sebenarnya tak kalah hebat dengan motivasi dirinya untuk memiliki materi. Namun sayang, “Yang di Atas” justru tak mengabulkan keinginan yang kedua itu.
Bagaimana dengan Anda?
Mungkin  Anda tak peduli apakah ketulusan hati seorang guru selama ini terukur atau tidak? Atau bahkan tak mau tahu apakah diri Anda punya ketulusan hati  sebagai seorang guru? Namun kisah semirip di atas, bukan tak mungkin pernah terjadi pada Anda. Pada saat itu ketulusan hati Anda bisa nampak atau sebalik tidak nampak. Bisa terlihat makin dalam atau sebalinya kian dangkal bahkan telah hilang.
Apa sih ketulusan hati itu?
Ada yang beranggapan bahwa suatu ketulusan tidak bisa diukur dengan kata-kata, maupun bentuk materi . Satu ketulusan itu sebenarnya memang sangat sulit untuk digambarkan dan dilukiskan, karena suatu ketulusan akan dirasakan oleh perasaan (hati) yang melakukan tersebut apakah dia punya kepentingan atau memang benar-benar tanpa pamrih (ikhlas). Namun dari kisah tadi, ketulusan hati bisa memiliki beberapa dimensi.
Pertama, seseorang bisa dikatakan tulus jika ia melakukan sesuatu dengan bersungguh-sungguh. Ia sungguh-sungguh dalam mengemban tugas mendididik dan membimbing siswa meraih ilmu, keterampilan dan nilai-nilai hidup.
Kedua, ketulusan hati bermakna melakukan sesuatu tanpa berharap pamrih atau balasan jasa dari manusia. Ia ikhlas dan tulus melaku-kan itu dengan niat mendapatkan pahala keba-ikan. Adapun balasan itu semata dari Allah.
Ketiga, ketulusan hati bermakna keikhlasan untuk melakukan sesuatu atau berbuat. Ia mengerjakan sesuatu tanpa merasa dipaksa, dibebani, disuruh-suruh, atau bahkan diintimidasi. Ia melakukan sebuah pekerjaan atau apapun dengan kemauan dari hati. Dorongan yang utama datang dari dalam dirinya bukan dari luar semata.

Tetap Jaga Ketulusan Hati
Di zaman sekarang banyak godaan pada guru agar membuang jauh-jauh ketulusan hati.  Tuntutan dan realitas kebendaan bukan tak mungkin mengikis ketulusan seorang guru. Tuntutan ekonomi, status sosial, bahkan gengsi kerap menyeret guru untuk mencampakan nilai-nilai itu.
Di samping masih banyak guru yang tulus, tak sedikit pula yang kian berani bersuara lantang menuntut “pamrih” berupa gaji atau penghasilan yang layak. Puncaknya lahir sertifikasi guru, penghasilan bertambah.
Di satu sisi, sertifikasi guru adalah buah keikhlasan sebagian guru dalam menjalankan tugasnya, di sisi lain ada yang beranggapan inilah hasil ‘jeritan’ guru yang tak tahan berlama-lama bekerja tanpa pamrih, agar diberi “balasan jasa” yang manusiawi.   
Maka kini seolah ketulusan hati telah mulai terkikis, tergantikan oleh keinginan mendapat ‘balasan jasa yang cukup. Serrtifikasi (baca: kenaikan gaji) hampir menjadi tujuan, membutakan ikrar pendidik untuk membawa siswa menuju cita-cita.
Sertifikat profesi menjadi akhir dari perjalanan pendidik dalam karirnya.  Bahkan kegagalan dalam sertifikasi menjadi seperti ‘ingkarnya setan penunggu pohon besar atas janjinya’ yang harus langsung di protes dan didemo.  Kegagalan tidak lagi dijadikan cermin evaluasi untuk lebih mengembangkan diri.
Meningkatnya kesejahteraan pendidik dengan sertifikat profesi seharusnya akan menjadi janji untuk selalu berbuat profesional dalam mendidik seperti amanat UU No. 20 tahun 2003. Kenaikan gaji dari sertifikasi hendaknya dijadikan senjata untuk memperkaya kompetensi,  supaya siswa merasakan kenikmatan belajar dalam suasana menyenangkan, aktif dinamis dan dialogis.
Walau sudah mendapat sertifikasi ketulusan hati seorang guru  harus tetap tergambar dengan memberikan layanan terbaik kepada peserta didik-nya. Mampu menjadi mata air bagi peserta didik untuk menghilangkan rasa haus dan dahaga akan ilmu. Jeli melihat kebutuhan dan kondisi siswa.
Ketulusan hati diperlukan oleh seorang guru karena guru menghadapi benda hidup yaitu manusia. Ketulusan hati diperlukan oleh seorang guru karena guru yang baik itu bukan hanya pengajar tapi juga pendidik. Bukan hanya pelajaran atau pengetahuan, tapi juga moral agama dan sosial, di mana kesabaran dan ketulusan hati ada di dalamnya.
                                                                                                                 (agus ponda/ganesha)