Kamis, 16 Februari 2012

Ingin Lulus, Guru Harus Belajar

50 Ribu Peserta Uji Kompetensi Dipastikan Gugur!
Ini kebijakan baru. Sebelum mengikuti sertifikasi 2012, para guru harus diuji kompetensi dulu. Uji kopetensi ini digunakan sebagai Gate-way (pintu gerbang) memasuki sertifikasi guru. Pelaksanaannya dijadwalkan pada tanggal 25 Februari 2012.
............................................
Pelaksanaan uji kompetensi bagi calon peserta sertifikasi guru semakin dekat. Ujian ini bakal digelar 25 Februari 2012. Badan Pengembangan Sumber Daya Pendidikan dan Penjamin Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) sudah menyebar 300 ribu kuota peserta uji kompentensi. Dari jumlah ini ditetapkan kuota kelulusan sebesar 250 ribu. Artinya 50 ribu guru peserta uji kompetensi dipastikan gugur.
Kepala BPSDMP-PMP Syawal Gultom mengatakan, uji kompetensi tahun ini adalah pelaksanaan yang pertama. Ujian untuk mengukur tingkat kompetensi para guru sebelum ikut sertifikasi ini ditetapkan digelar serentak seluruh Indonesia pada 25 Februari 2012.

Sistem Peringkat
Gultom menerangkan, pada pelaksanaan uji kompetensi periode perdana ini, pihak-nya menggunakan sistem pemeringkatan. Jadi, seluruh peserta dari penujuru Indonesia adakan diperlakukan sama dalam peni-laian. Selainjutnya, mereka akan diranking dari mulai yang tertinggi hingga terendah.
“Peserta di urutan 251 ribu ke bawah, tidak lolos ujian,” katanya. Ini merujuk pada kuota sertifikasi guru tingkat nasional sebesar 250 ribu orang.
Pihak BPSDMP-PMP sendiri memang memberikan kuota peserta uji kompetensi lebih besar dibandingkan daya tampung sertifikasi guru. Alasannya, kata Gultom, sehingga ada kompetensi yang terjadi antar sesama guru.
“Jika jumlahnya disamakan, berarti seluruh peserta uji kompetensi lulus semua,” katanya. Jika peserta uji kompetensi lulus semua, Gultom mengatakan tidak bisa mengukur seberapa besar kemampuan guru.
Dalam pelaksanaannya nanti, Gultom mengatakan hampir sama dengan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Dimana peserta akan mengikuti ujian di beberapa ruang kelas yang sudah disiapkan LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) provinsi bekerja sama dengan perguruan tinggi. Selain itu, kata Gultom, panitia di tingkat daerah juga sudah menja-lin kerjasama dengan kepolisian setempat. Dia menegaskan akan menggunakan sistem pengamanan berlapis untuk melindungi dari potensi kebocoran soal.
Soal yang akan dikerjakan nantinya tidak sama antar semua guru. Soal dibagikan sesuai dengan mata pelajaran yang diampu guru bersangkutan.
“Bagi guru bidang studi matematika, ya soalnya matematika,” ucap Gultom. Begitu pula dengan guru kelas di tingkat SD, soal akan disesuaikan dengan kurikulum kelas yang diajar setiap hari.
Gultom mengatakan, meski akhirnya penilaian menggunakan sistem pemering-katan, tetap akan mempertimbangan penye-baran guru. Dia menjelaskan, peserta yang lolos nanti tidak hanya fokus di pulau tertentu saja. “Peserta yang lolos harus menyebar, sesuai dengan kondisi pendidikan di daerah tertentu,” katanya. Gultom juga menjamin pelaksanaan uji kompetensi ini jauh dari praktek KKN.

Harus Belajar
Gultom meminta para guru tidak perlu menanggapi dengan berlebihan uji kompetensi ini. Dia mengakui jika selama ini banyak penolakan terhadap pelaksanaan uji kompetensi ini. Alasannya, uji kompetensi dianggap upaya menghambat guru untuk mengikuti sertifikasi guru. Kekhawatiran ini terutama bakal dihadapi guru-guru senior.
Sementara itu Mendikbud, Muhammad Nuh meminta agar para guru tidak perlu resah dan galau. Saat menggelar telekonferensi dengan tujuh provinsi sekaligus di Situation Room Kemendikbud Jakarta, belum lama ini, ia menegaskan, guru yang selalu memberikan ujian untuk siswanya tidak perlu takut jika diuji balik.
Mulai saat ini, jika ingin lulus, guru-guru calon peserta sertifikasi guru harus mulai rajin belajar. “Guru yang selalu memberikan ujian untuk siswanya tidak perlu takut jika diuji balik.” ujarnya. Siapa yang mau terus mengajar, maka harus belajar.
Dalam uji kompetensi ini, akan diukur empat kompetensi yang harus dipenuhi guru. Yaitu kompetensi akademik, pedagogik, sosial, dan profesi. Dengan kondisi ini, Nuh menjelaskan Kemendikbud bersikukuh melaksanakan uji kompetensi. Mereka menghiraukan desakan dari organisasi profesi guru yang menginginkan uji kompetensi dibatalkan. Nuh berujar uji kompetensi ini akan dihentikan jika di kemudian hari ditemukan alat yang tepat untuk mengukur kompetensi guru.
Ia juga menuturkan, para guru tidak perlu khawatir untuk ikut uji kompetensi ini. Sebab, jika dalam pelaksanaan uji kompetensi perdana ada guru yang tidak lolos, akan diberi kesempatan ujian ulangan hinggal empat kali. Di sela-sela ujian ulangan ini, para guru akan dibimbing intensif.
(agus ponda/ganesha/jps)

Kelola Gaji, Kurangi Hutang

Menyoal Keuangan Keluarga Guru
Berbicara masalah gaji, seperti bicara masalah aurat. Memalukan bagi sebagian orang, namun membanggakan bagi yang lain. Semuanya tergantung persepsi masing-masing. Dan tentu saja kondisi riil Anda.
……………………………..
Bagaimana dengan masalah jumlah gaji PNS, terutama guru? Akhir-akhir ini gaji PNS guru sering menimbulkan kecemburuan sosial. Seorang tetangga yang biasanya tidak pernah ngurusin urusan tetangga sampai tergoda untuk bertanya, “Katanya gaji guru sekarang besar, ya?”
Lima atau sepuluh tahun yang lalu, profesi guru hanya menjadi cita-cita bagi sebagian kecil orang. Sekarang, tiba-tiba banyak orang ingin menjadi guru. Tentu saja ini kabar yang bagus sekali bila diimbangi dengan semangat guru, dan tentu saja pemerintah untuk memajukan pendidikan di Indonesia.
Karena kian bertambahnya gaji guru PNS, kini banyak orang tergelitik untuk mengung-kap rahasia gaji seorang guru PNS. Mereka ingin tahu rahasia dompet abdi negara yang satu ini. Lalu sebenarnya, berapa sih, gaji seorang guru PNS di Indonesia?
Pada tahun 1997, gaji pokok guru (pendidikan S1) dengan status Calon PNS bujangan (tidak ada tanggungan), golongan III/a masa kerja 0 tahun 0 bulan adalah Rp 120.160,- dengan tunjangan fungsional guru sebesar Rp 45.000. Pada tahun 1998, status PNS golongan III/a masa kerja 1 tahun 2 bulan mendapatkan gaji pokok Rp 241.800 dengan tunjangan fungsional guru Rp 55.000,-
Pada tahun 2000, status PNS golongan III/b masa kerja 3 tahun 2 bulan memperoleh gaji pokok Rp. 264.100,- dengan tunjangan fungsional guru masih Rp 55.000. Lalu pada tahun 2003 melonjak, status PNS golongan III/c masa kerja 6 tahun 2 bulan memperoleh gaji pokok Rp 1.051.400. Kemudian pada tahun 2006 status PNS golongan III/d masa kerja 9 tahun 8 bulan memperoleh gaji pokok Rp 1.288.600,- dengan tunjangan fungsional guru Rp.327.00,-
Pada tahun 2009 status PNS golongan IV/a masa kerja 12 tahun 8 bulan memperoleh gaji pokok sebesar Rp 2.260.400,- dengan tunjangan fungsional guru sebesar Rp 389.000. Nah, mulai tahun 2007, pemerintah membuat kebijakan untuk memberikan tunjangan profesi sebesar 1 kali gaji pokok bagi yang sudah tersertifikasi. Artinya khusus yang sudah lulus sertifikasi, pendapatannya naik 100%!
Kita bisa membaca perjalanan sang gaji dari tahun ke tahun, dan kita juga bisa menghitung kekayaan seorang guru PNS. Apabila seorang guru PNS mempunyai istri PNS juga, maka penghasilan mereka akan semakin besar karena selain mendapatkan gaji dobel (istri dan suami) masih ditambah dengan tunjangan istri 10% dan anak 2% dari gaji pokok.

Terus Berhutang?
Apakah gaji sebesar itu cukup, kurang, atau bahkan lebih? Masalah cukup atau kurang, sebenarnya tergantung pola hidup dan manajemen masing-masing keluarga, karena semua kekuasaan keuangan itu tergantung pada masing-masing. Masalah uang adalah bagaimana kita mengelolanya, dan semuanya ada pada pilihan masing-masing.
Namun dengan gaji sebesar itu, haruskah PNS berhutang? Atau justru harusnya mereka segera mengikis habis hutang-hutangnya selama ini?
Ada yang bilang seseorang punya hutang itu hal yang wajar. Manusia yang punya hutang, maka hidupnya akan tambah asyik dalam arti positif. Kalau mempunyai hutang, hidup terasa ada tantangan. Minimal lebih giat bekerja untuk membayar hutang.
Malah konon, sungguh aneh jika seorang PNS tidak menggadaikan gaji di bank, itulah anggapan banyak orang. Ada sebagian orang yang tidak menggadaikan SK di bank karena punya usaha lain sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak perlu berhutang. Ada sebagian yang memang pendapatan keluarga hanya dari pekerjaannya sebagai PNS, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya merasa “perlu” untuk berhutang. Akibat banyak yang menganggap, dari sekian banyak kelompok pegawai, kelompok pegawai guru PNS-lah yang paling “kacau” dalam mengelola keuangannnya.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk men-diskreditkan guru PNS yang “suka” berhu-tang, tapi lebih kepada sharing pengala-man. Dalam Islam kita coba memaknai salah satu hadits nabi yang berbunyi:
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, yang artinya: “Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung karena hutangnya, sampai ia dibayarkan.” (HR: at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih).
Seorang PNS dengan suami PNS yang berusaha hidup bersahaja dengan gaji yang didapat, dan mencoba untuk tidak terlalu melihat ke atas, tapi tidak juga selalu melihat ke bawah. Dan salah satu hadits di atas sebenarnya dapat kita pegang untuk tetap istiqomah dengan apa yang kita yakini.
Menurut Islam, hutang itu sungguh berat tanggung jawabnya, dan bisa merisaukan hati terlebih bila itu dilakukan bukan berdasarkan kebutuhan. Namun bila sudah berhutang, kata Rasululloh, membayar hutang itu ibadah.
Kalau orang hutang karena tidak punya beras untuk makan, itu bisa dimaklumi. Tapi kalau hutang untuk beli rumah bagus yang mahal, padahal sudah punya rumah, atau beli mobil tanpa jelas untuk apa terus-menerus naik mobil, dan beli barang-barang mewah, itu tidak termasuk dalam kriteria perlu berhutang. Bukankah nabi mengajarkan kita untuk hidup sederhana?
Zaman sekarang kehidupan cenderung materialistik. Kemajuan seolah diukur karena keberadaan wujud benda berupa kekayaan materi. Sandang, papan, bahkan pangan bisa dinilai dan mencerminkan tingkat ekonomi sebuah keluarga. Orang makin giat mengejar kekayaan dunia demi ‘kenikmatan’ hidup di dunia pula. Banyak yang tergoda mengejar kemudahan dan kenyamanan , bahkan gengsi hidup. Kalaupun tak mampu dalam waktu singkat, jurusnya berhutang bin kreditan. Kini, pilihannya tinggal pada Anda juga.

Bersyukur
Syukur, itu yang ingin harus kita aplikasikan. Lalu kelolalah keuangan keluarga dengan baik dan cermat. Gaji harus membuat kondisi keuangan keluarga stabil. Pendapatan dan pengeluaran harus rasional. Dahulukan kebutuhan yang teramat penting dan hindari pengeluaran uang yang tidak perlu. Jangan besar pasak daripada tiang. Kalaupun hingga kini masih punya tanggungan hutang ke seseorang atau ke bank, segera lunasi dan mulailah ke roda ekonomi keluarga yang sudah sehat tanpa hutang di sana-sini.
Yang jelas, bahwa dengan mengelola yang Allah berikan kepada kita, dan merasa cukup dengan apa yang Dia berikan, kita bisa menjauhi hutang. Cukup dan kurang itu relatif. Kita bisa merasa cukup walaupun orang lain melihat kita kurang. Misalnya? Kita jalan kaki, bersyukurlah karena kita punya kaki yang sehat untuk berjalan. Ada orang lain yang kakinya patah, cacat, bahkan ada yang tidak punya kaki sejak lahir.Kita naik sepeda, bersyukurlah karena banyak orang hanya mampu jalan kaki. Kita punya motor, bersukurlah karena orang lain hanya mampu beli sepeda., dan seterusnya dan seterusnya. Tidak berarti kita harus selalu melihat ke bawah, sesekali juga kita boleh melihat ke atas untuk memacu kita agar lebih bergairah lagi untuk bekerja dan berkarya.
Jadi, seberapa besarpun harta yang kita punya, kalau kita selalu bersyukur, mudah-mudahan kita terhindar dari hutang. Malah dengan uang yang ada kita masih bisa bersedekah. Oke?
(agus ponda/mbkrt/ganesha)

Duh, Ribuan Guru Gagal Lulus Sertifikasi Rayon X

Sertifikasi guru 2011 di Rayon X Jawa Barat geger. Pasalnya sekitar dua ribu guru peserta sertifikasi dinyatakan tidak lolos sertifikasi. Para guru pun gusar.
...........................................
Ketidaklulusan ribuan guru di Rayon X Jabar dalam sertifikasi guru 2011, akhirnya dipertanyakan oleh guru-guru yang tidak lulus. Mereka rela berbondong-bondong mendatangi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai tim penilai uji sertifkasi, Rabu (18/1).
Sejak pagi, guru-guru yang berasal dari daerah ini berkumpul di UPI. Awalnya mereka akan audiensi di Sekretariat UPI. Namun karena jumlah guru yang semakin banyak, maka pertemuan dialihkan ke Gedung Gymnasium. Guru-guru tersebut bersikukuh meminta transparansi data ketidaklulusan mereka.
Ratusan guru itu mempertanyakan alasan ketidaklulusan pada panitia sertifikasi di UPI. Berdasarkan data UPI, dari sekitar 20.000 guru yang dinaungi Rayon X, sekitar 10 persennya dinyatakan tidak lulus, atau sama dengan 2000 orang guru, dan sekitar 70 peserta dalam status verifikasi, yang belum jelas statusnya. Jumlah peserta peserta sertifikasi 2011 ini totalnya 20.000 peserta dengan rincian 15.300 peserta yang berada di Rayon X ditambah dari empat Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) lainnya.
"Kami ingin agar panitia lebih transparan. Kenapa hanya di UPI yang bermasalah seperti ini sedangkan di rayon yang lain tidak? Kami menuntut untuk diluluskan semua," kata Ketua Forum Solidaritas Guru, Edi Ruhendi, saat dite-mui di Gedung Gimnasium UPI Jalan Setiabudi.
Ia menyebutkan salah satu alasan ketidaklulusannya adalah admisnistrasi. Namun kenyataannya, ketika mereka akan mengikuti diklat pun justru dipulangkan.
"Mereka yang tidak lulus administrasi itu kemudian dipanggil untuk diklat, tapi setelah verifikasi lagi malah dipulangkan karena secara administrasi tidak memenuhi. Bagaimana panitia ini?” bebernya.
Sementara itu bagi guru yang dinyatakan tidak lulus dalam seleksi tertulis kemudian mengikuti remedial. Namun ketika mengikuti ujian ulang itu mereka tetap dinyatakan tidak lulus kembali.
"Kami tidak mau didaftarkan tahun 2012, karena sekarang saja kuotanya sudah ada, Nanti bisa-bisa kami masuk kuota tahun 2013. Kami ingin lulus," harapnya.
Edi Ruhendi menilai, terdapat kesenjangan dan ketimpangan dalam proses sertifikasi di Rayon X Jabar.
“Ada yang tidak memenuhi persyaratan, tapi lulus,” ujar Edi saat ditemui di Kantor Sertifikasi Guru Rayon X Jabar, Kampus Universitas Pendidikan Indonesia.
Edi juga menyayangkan sikap panitia yang tidak meluluskan peserta karena masalah administrasi yang tidak lengkap, padahal peserta telah mencapai tahap PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). “Kenapa nggak dari awal, padahal sudah tiga kali seleksi,” kata Edi kecewa.
Dalam tuntutannya, para guru meminta pihak panitia pelaksana untuk meninjau dan mencabut keputusan yang menyatakan mereka tidak lulus. Mereka menilai banyak ketimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan seleksi.
Edi menilai pihak panitia selama ini tidak transparan. Dia mencontohkan saat peserta yang tidak lolos dalam syarat akademik meminta data ujian kepada panitia, namun tidak diperkenankan.
Hal senada disampaikan oleh Untung Harianto. Guru asal Indramayu tersebut mengatakan, selain masalah administrasi, pihak panitia juga dianggap tidak transparan dalam urusan nilai. Menurutnya, panitia tidak memperkenankan peserta untuk melihat nilai mereka.
Ia pun menyayangkan sistem yang ada, dimana kelulusan hanya ditentukan dari tes tulis. Padahal menurut-nya banyak aspek penilaian yang telah dilalui para peserta.
“Masa iya kompetennya seorang guru hanya ditentukan dalam sembilan hari,” tegas Untung.
Sekretaris Rayon X UPI Bandung, Prof. Dr. Uman Suherman, A.S. M.Pd., menyatakan akan menampung aspirasi para peserta yang tidak lulus, dan akan menyampaikan-nya ke dinas pusat. Namun, menurutnya ketidaklulusan peserta disebabkan nilai tes tertulis yang tidak memenuhi dan jumlah kehadiran yang kurang. “Tes tertulis itu yang nentuin di pusat dan bagi mereka yang tidak hadir diharamkan lulus,” kata Uman.
Beredar kabar bahwa ada dugaan penyuapan asesor dalam meluluskan peserta sertifikasi. Mengenai itu, Sekretaris Rayon X, Uman Suherman menilai, hal tersebut hanya bentuk kekecewaan para peserta seleksi, dan dia mempersilakan untuk mengusut masalah tersebut. “Biar ketahuan siapa dosen-dosen yang nakal,” ujarnya.

Hal yang Wajar (?)
Uman Suherman membantah ada kecurangan dalam penilaian. Menurutnya, sejumlah peserta administrasinya memang tidak lengkap saat dilakukan verifikasi ulang oleh UPI, antara lain masa kerja dan usianya yang belum memenuhi syarat.
Menurut Uman Suherman, sebagian besar dari mereka tidak lulus karena tidak memenuhi syarat yang ditentukan. “Baik dari syarat akademik maupun syarat administrasi,” ujar Uman. Maka, lanjut Uman, dalam pelaksanaannya jika ternyata data tidak lengkap, panitia langsung menyampaikannya, bukan saat diklat. “Meski dinyatakan tidak lolos mereka tetap ingin ikut dan tidak mau diminta untuk pulang karena sudah malu. Ikut diklat ternyata dipulangkan,” jelasnya.
Tambah, ketidaklulusan para peserta itu merupakan hal yang wajar, karena tidak memenuhi persyaratan, baik dari syarat administrasi yang tidak lengkap maupun akademik yang tidak memenuhi standar. Namun dia tetap mempersilahkan para peserta yang gagal untuk meminta kejelasan.
Menurutnya tidak ada cara lain untuk lulus sertifikasi setelah mereka gagal diremedial. Untuk itu pihaknya akan mengajukan mereka untuk mengikuti sertifikasi di tahun 2012.
(jps/isola/gns/nt)

Perlu Dukungan Berbagai Hal

Siswa SMK Ciamis Masih Belajar Merakit Mobil
Sejak beberapa bulan lalu SMKN 2 Ciamis berencana merakit mobil. Namun belum juga program itu terwujud, anak SMK di Solo sudah lebih dulu membikin kejutan dengan membuat mobil. Namanya mobil Kiat Esemka. Tapi anak Ciamis pun tak akan menyerah, meski masih ada kendala di sana-sini.
………………………………………..

Membuat mobil ternyata bukan hal yang mudah. Apalagi bagi anak SMK di daerah. Perlu berbagai hal agar mereka bisa membuat mobil hebat nan mempesona. Dan itu tak bisa dilakukan ujug-ujug.
Hal tersebut diungkapkan kepala SMK Negeri 2 Ciamis, Drs. Joko Maryoto. Menurut Joko, untuk membuat mobil seperti Mobil Esemka di Solo, Jawa Tengah, SMK di Ciamis hingga saat ini masih belum mampu.
“Selain memerlukan dana juga tentu saja Sumber Daya Manusia-nya juga harus dipersiapkan. Selain itu, perlu dukungan berbagai pihak dalam pembuatan mobil seperti itu. “ ujar Joko terus terang.
Menurut Joko, dia tahu persis SMKN 2 Solo, karena dirinya adalah alumni sekolah tersebut. Mereka tidak secara tiba-tiba bisa menciptakan sebuah mobil, tetapi memerlukan waktu dan proses. Mereka pun didukung dana yang luar biasa dan kerjasama dengan stakeholder lainnya.
“Saya tahu persis SMKN 2 Solo, karena Sekolah tersebut merupakan almamater saya,” terang Joko.
Untuk SMK Negeri 2 Ciamis, dalam pembuatan mobil saat ini baru tahap pembelajaran merakit mobil. Dirjen pun berencana memberikan bantuan kepada SMKN 2 Ciamis. Tetapi, itu pun bantuannya belum datang, masih di perjalanan menuju ke Indonesia, karena menurut sumber katanya mobilnya buatan Cina. Bentuk mobil yang akan dirakit adalah bak terbuka (pick up) dan mobil box.
“Kita akan menerima pretelan mobil yang siap kita rakit, untuk pembelajaran”, jelas Joko.
Lanjut Joko, jika program perakitan mobil akan berjalan, pihaknya memerlukan berbagai fasilitas pendukung. Seperti butuh lahan.Lahan dibutuhkan untuk ruang praktek perakitan dan showroom untuk memajang mobil hasil rakitan. Selain itu untuk suku cadang.

Siapkan Kurikulum
Akan tetapi, kata Joko, untuk saat ini SMK Negeri 2 Ciamis sudah setingkat lebih tinggi dari SMK lain karena sudah siap untuk merakit mobil. SMKN 2 Ciamis masuk dalam pilihan SMK se Indonesia yang akan merakit mobil.
Menurut Joko, sementara ini langkah awal SMKN 2 Ciamis sedang menyusun kurikulumnya terlebih dahulu, dan mempersiapkan secara matang mengenai perakitan mobil tersebut.
Sedangkan menurut Ketua Program Keahlian, Agus Nurdin, S.Pd., bantuan mobil tersebut bukan untuk produksi atau diperjualbelikan tetapi hanya untuk pembelajaran. Adapun nanti, mobil rakitan tersebut akan menjadi asset negara.
“Walaupun mobil ini hanya untuk pembelajaran tetapi ke depan akan kita pikirkan, bagaimana kita bisa menjual mobil rakitan hasil sekolah ini” jelasnya.
Dengan adanya bantuan tersebut, merupakan bukti kepercayaan pemerintah pusat bagi SMK Negeri 2 Ciamis, karena hanya sekolah yang dianggap layak yang diberi bantuan ini. Bantuan tersebut sangat menguntungkan bagi pihak sekolah, karena selain menambah wawasan peserta didik, juga menambah kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sini.
“Kita pun pasti akan memegang kepercayaan pemerintah tersebut, dengan tetap melatih kedisiplinan peserta didik”, tambah Agus.
Agus melanjutkan, dengan adanya bantuan ini, para siswa SMKN 2 Ciamis nantinya akan dilatih oleh dua orang yang bertugas sebagai quality control. Kalau hasilnya bagus layak dilanjutkan.
“Untuk sekarang ini pembuatan mobil di SMK dianggap merupakan salah satu solusi ekonomi bangsa. Karena, selain mendidik siswa menjadi terampil, out put sekolahpun tidak nganggur karena mereka bisa berdikari dalam mencari nafkah untuk bekal hidupnya”, pungkas Agus.
(nung/ayu/ganesha)

Senin, 16 Januari 2012

Mulai 2012 ini,

Jadilah Guru yang Disukai Siswa
Sebagai seorang guru, manakah yang anda inginkan disukai siswa, ditakuti siswa, atau malah dibenci siswa? Pilihan ada pada diri Anda sendiri. Namun yang jelas semua guru pasti ingin dirinya disukai anak didiknya. Bila Anda belum merasa disukai anak didik, lakukanlah beberapa hal agar disukai mereka. Dan bila Anda sudah merasa menajadi guru favorit, jangan lengah, sebab bisa saja tahun ini predikat Anda diganti guru lain.
.................................

Walaupun ada anggapan, guru ilmu-ilmu eksakta cenderung tidak disukai para siswa, sebenarnya suka tidaknya para siswa pada guru bukan semata karena materi yang diajarkan.Atau tingkat sulit mudahnya sebuah pelajaran. Buktinya ada juga guru matematika atau fisika yang justru disayang dan dielu-elukan siswanya.
Banyak asfek yang menjadi sebab siswa bisa menyukai gurunya, diantaranya penampilan, model pembelajarannya (akting di depan siswa), dan semacamnya. Lalu bagaimana kiat-kiatnya? Ini ada beberapa hal yang sudah dilakukan berdasarkan pengalaman dan pengamatan, semoga, Anda bisa melakukan dan mengambil pelajarannya. Berikut ini tips-nya :

Pertama, ingat, guru bukan penjual kecap atau obat. Tapi guru ibarat penjual obat, maka harus pandai-pandai “menarik perhatian” calon pembeli obat (siswa).
Penyampaian materi pelajaran sangat terkait kehebatan bahasa yang Anda gunakan. Hebat bukan berarti selalu memakai bahasa ‘tinggi’ tapi bahasa yang gampang dipahami siswa sesuai tingkatan umurnya.
Di kelas, usahakan tidak monoton memperbincangkan masalah materi, namun juga masalah di sekitar kita, juga selingi dengan guyonan yang positif agar siswa tidak merasa tertekan oleh sulitnya materi pelajaran. Ketika perhatian anak mulai menurun, selipkan ‘senjata’ ini agar suasana dapat terkendali. Tak apa-apa beberapa saat keluar dari materi pokok atau kelas diisi tawa siswa. Selanjutnya siswa kembali diajak menikmati ‘dagangan’ pelajaran.

Kedua, guru merupakan “aktor/aktris” yang harus tampil sebaik mungkin di depan kelas agar penonton senang dan selalu menunggu aksinya, dalam film diibaratkan bintangnya. Namun ingat jangan sampai Anda berlaku over acting. Ingat penampilan juga harus dijaga. Guru harus memberi contoh berpakaian yang sopan dan tepat dengan situasi.
Penilaian siswa terhadap guru memang kerap diidentikkan dengan aktris sinetron atau penyanyi. Ada guru yang ganteng kalem berkacamata, dimiripkan penyanyi Afgan. Ada guru cantik, mirip artis Syahrini disukai karena memang guru yang hebat.
Tapi ingat ganteng atau cantik ternyata juga tak menjamin guru disukai siswa. Buktinya ada juga siswa yang sebel dengan gaya guru seperti artis. Lalu ada pula siswa sekolah lanjutan yang blak-blakan mengaku tidak bisa konsentrasi bila diajar oleh guru cantik bak artis.
“Habis Bu Ida cantik banget, saya sampai ngacay lihatnya! Gimana mau konsen ke pelajaran?” begitu kata seorang siswa kaki-laki.
Ini bukan bohong. Siswa SLTP di Ciamis ada yang berkata begitu. Setiap diajar guru cantik, bawaannya bengong melulu. Dan ternyata ia punya alasan yang sepintas mengada-ngada tapi sebenarnya masuk akal. Anak SLTP/SLTA sedang berkembang, baik dari segi psikologis, maupun biologis.
Artinya hati-hati, mengajar anak SD beda dengan mengajar di tingkat SLTP/SLTA. Penampilan guru, dandanan, sikap dan gerak-gerik harus terjaga dengan baik.

Ketiga, guru ibarat pelawak, maka Anda harus pandai membuat suasana penonton senantiasa tertawa sumringah. Jika pelawak itu tidak tampil, maka penonton selalu menunggu-nunggu dan ingin sekali menyaksikan aksi kocaknya, tentunya dalam batas-batas kewajaran dan situasi yang sesuai.
Masalahnya, anda punya bakat melucu? Bila punya gunakan potensi itu. Bila tidak, jangan bilang susah melawak.
Banyak cara agar siswa tertawa atau tersenyum. Anda bisa mengoleksi kumpulan joke yang lucu-lucu tapi wajar. Hapalkan dan berikan pada siswa. Atau mengumpulkan pantun lucu, tebak-tebakan, SMS lucu dan sejenisnya. Internet, buku, dan koran bisa jadi referensi humor Anda.

Keempat, guru ibarat seorang ibu yang menggendong bayinya/anak kecil, kemanapun dan apa saja yang diminta, dimaui anak berusaha untuk memenuhinya. Mampu memahami keinginan anaknya, dan selalu menunjukkan rasa kasih sayangnya.
Jika ada siswa yang ramai, usil, dan suka membuat gaduh jangan dianggap anak itu nakal, anggap saja siswa tersebut “kelebihan energi”. Tinggal gurunya pandai-pandailah mengarahkan ke hal yang fokus/baik, yaitu KBM-nya, misalkan dengan meminta seluruh siswa memperhatikan “oknum” siswa tersebut. Dia pasti akan malu sendiri.
Janganlah cepat memarahi siwa kita dari pada memujinya. Jadi cepat-cepatlah dan seringlah memuji kita, baik dia mampu atau belum mampu mengerjakan soal. Jika belum mampu mengerjakan soal, cobalah kasih pertanyaan bimbingan (pertanyaan yang mengarah ke jawaban), sehingga siswa tidak merasa malu meskipun dia tahu jika belum bisa, tetapi justru yang diharapkan siswa yan belum bisa itu adalah bimbingan guru, bukan marahnya. hindari marah sebisa mungkin.
Jika terpaksa harus marah, segera meminta ma’af dan menjelaskan alasannya kenapa guru harus marah agar siswa lebih memahaminya.
Kenali gaya/model masing-masing anak dan jangan menyamaratakan. Cobalah sering memberi hadiah (baik itu verbal/pujian maupun nonverbal). Contoh nonverbal: menepuk pundak karena anak mampu menyelesaikan tugasnya.
Akan lebih bagus lagi guru sering memberi motivasi berupa benda meskipun kecil/murah harganya atau cash-money misalnya. Ini akan memotivasi anak dan meningkatkan antusias anak. Berilah hadiah tertentu kepada siswa yang mendapatkan nilai paling bagus, atau sesuai target guru yang ditetapkan sebelumnya.
Jika ada anak yang “bodoh” cobalah didekati, diajak curhat. Jangan melukai anggota badan siswa (ini prinsip), kecuali dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika siswa kita pendiam semua, tak ada yang mau bertanya, cobalah teori berikut ini:
Seluruh siswa diminta latihan mengacungkan jari berkali-kali, ingat ini hanya latihan dan bukan bertanya. Tunjuklah salah satu siswa “pendiam” itu dan diminta mencoba bertanya “sesuatu apa saja – tidak harus berkaitan dengan topik pelajarannya,” nanti lama kelamaan dia akan berani bertanya dan terbiasa mengacungkan jari. Intinya adalah melatih keberanian siswa menanggapi sesuatu.
Pada latihan yang ketiga, cobalah tunjuk lagi seorang anak untuk menanyakan soal sesuai topik, jangan dimarahi atau diejek/dicemooh, termasuk teman kelasnya. Bagi yang nekad mengejek, tunjuk aja dia suruh bertanya. Pada latihan ke-4, coba tanyakan kepada siswa kita “Siapa yang ingin bertanya tentang pelajaran ini?” Jika tidak ada yang mengacungkan jari, cobalah guru menanyakan soal sesuai topik.
Selamat mencoba. Bila kurang setuju silakan gunakan cara sendiri-sendiri, asal jangan sampai menggunakan kekerasan dan pemaksaan. Semoga tahun ini Anda terpilih menjadi guru yang paling disukai para siswa.
(agus ponda/ganesha/nt)

Alhamdulillah... Tahun Ini Gaji Guru Takkan Dipangkas

Tahun 2011 sudah usai. Memasuki tahun baru 2011 seharusnya ada kabar sangat baik buat guru: gaji naik lagi! Tapi ternyata belum ada kabar soal itu. Yang ada kabar: gaji guru takkan dipangkas. Masih terhitung kabar baik juga kan? Daripada gaji dikurangi pemerintah?!?!
....................................................
Ini masih kabar baik bagi para guru. Pemerintah menjanjikan tidak akan pernah mengurangi gaji guru meskipun sejumlah pihak menilai gaji guru menyedot banyak anggaran di APBN setiap tahunnya. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, gaji guru yang layak sudah merupakan kewajiban negara yang harus diberikan kepada para guru.
"Gaji guru itu jangan dikurangi, karena akan merusak hak guru. Pemerintah tidak apa-apa harus membayar dengan jumlah yang besar, asal diimbangi dengan kinerja yang bagus dari para guru," ungkap Nuh kepada pers di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Kamis lalu.
Nuh menjelaskan, pemerintah punya cara tersendiri untuk dapat mengoptimalkan gaji guru yang telah disalurkan. Yakni dengan cara membenahi jumlah rasio guru. Disebutkan, saat ini rasio guru dan murid di Indonesia adalah 1 : 14. Sedangkan yang ditargetkan adalah 1 : 24.
"Bagaimana caranya? Caranya, para guru harus bisa multi grade teaching. Jadi, satu guru jangan hanya mampu mengajar satu mata pelajaran, tetapi minimal bisa mengajar 2 mata pelajaran. Toh waktu di S1-nya kan tidak diajarkan satu pelajaran saja toh? Kan ada matematikanya dan lainnya," jelas Nuh
Nuh mengatakan, jika cara optimasi guru itu bisa dilakukan, maka jumlah guru di Indonesia bisa direduksi hingga 50 persen. Maka populasi guru pun juga bisa ditahan. "Begitu bisa ditahan, maka gaji guru di dalam APBN tidak terus membengkak. Sehingga, kenaikan anggaran di APBN 20 persen tidak harus disedot ke gaji guru terus," tandasnya.
Seperti diketahui, APBN 2012 sebesar sekitar Rp 1.436 triliun, sedangkan anggaran untuk fungsi pendidikan dialokasikan sekitar Rp 289 triliun. Dari anggaran tersebut dirincikan, anggaran pendidikan di pemerintah pusat sekitar Rp 102 triliun, anggaran di pemerintah daerah sebesar Rp 186 triliun, dan dana abadi sebesar Rp 1 triliun.

55% dari Anggaran Pendidikan
Dari APBN 2012 yang mengalokasikan Rp 286,6 triliun untuk pendidikan, dana sebesar itu setara dengan 20 persen dari total APBN. Sayang, sebagian besar dana itu habis untuk gaji dan tunjangan guru.
Penggunaan dana pendidikan dibagi menjadi beberapa bagian. Di antaranya untuk tunjangan profesi guru PNS daerah yang belum lulus sertifikasi mencapai Rp 30,6 triliun. Dari anggaran di pemerintah daerah yang mencapai angka Rp 186 triliun, pemerintah mengalokasikan untuk gaji guru mencapai Rp 130 triliun, anggaran untuk Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan sebesar Rp 10 triliun , anggaran untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp 23,6 triliun dan sisanya untuk kebutuhan lainnya.
Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo menuturkan, komposisi atau porsi anggaran gaji dan tunjangan guru mencapai 55 persen dari total anggaran pendidikan.
“Sisanya baru untuk peningkatan mutu pendidikan dan dibagi lagi dengan proyek-proyek pembangunan,’’ terangnya.
Pria yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Provinsi Jawa Tengah itu menjelaskan, pernyataan Presiden SBY saat gebyar Hari Guru Nasional beberapa waktu lalu perlu dikoreksi. Menurut Sulistyo, pernyataan SBY bahwa anggaran pendidikan tahun 2012 naik adalah tidak tepat. Pemerintah harus memecah anggaran gaji dan tunjangan guru dari pos anggaran fungsi pendidikan.
Sulistyo lantas merujuk ayat 1 pasal 49 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Sudah jelas, dalam undang-undang itu dinyatakan bahwa anggaran pendidikan minimal 20 persen di luar gaji serta tunjangan guru dan pendidikan kedinasan,’’ tuturnya.
Dia lantas menceritakan, semula gaji dan tunjangan guru masuk dalam struktur anggaran fungsi pendidikan. Ketetapan ini diambil pada 2007 lalu. Tepatnya, setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memenangkan gugatan bahwa gaji guru termasuk dalam anggaran pendidikan.
Dengan melekatnya gaji dan tunjangan guru dalam struktur fungsi pendidikan, Sulistyo memperkirakan anggaran yang benar-benar untuk meningkatkan kualitas pendidikan hanya 10 persen dari APBN. “Bahkan, di beberapa daerah, anggaran pendidikan semakin kecil setelah dipotong gaji dan tunjangan guru,’’ ucap Sulistyo.
Organisasi profesi guru tertua itu berharap, pemerintah mengkaji lagi sistem pengucuran anggaran fungsi pendidikan. Sulistyo mengatakan, sikap PGRI masih tegas supaya gaji dan tunjangan guru dipisahkan dari anggaran fungsi pendidikan. Dengan demikian, pengembangan kualitas pendidikan bisa lebih meningkat.
Dia juga mengkritik kecende-rungan instansi-instansi pendidi-kan. Termasuk di antaranya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hingga dinas pendidikan provinsi, kota, dan kabupaten. Sulistyo menjelaskan, instansi-instansi ini kerap menggenjot penggunaan anggaran menjelang tutup tahun. Kecenderungan itu membuktikan bahwa anggaran fungsi pendidikan yang disalurkan belum sampai ke tingkat satuan pendidikan secara optimal. (gns/jps/nt)

Jumlah Guru Perempuan Masih Dominan

Wow, 335 Sekolah Dipimpin Kepsek Perempuan!
Setiap tanggal 22 Desember bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu. Berkenaan dengan peringatan Hari Ibu, Tabloid Ganesha menurunkan tulisan tentang guru perempuan dan tenaga kependidikan lainnya di Kabupaten Ciamis. Wawancara pun dilakukan dengan Kasubag Kepegawaian dan Umum Disdik Kabupaten Ciamis, Drs. U. Sukiman. Pejabat yang paling paham urusan kepegawaain, termasuk pegawai kaum hawa itu bertutur soal guru perempuan. Berikut liputannya.
....................................

Menurut data yang ada, di Kabupaten Ciamis guru perempuan lebih banyak jumlahnya dari pada guru laki-laki. Dari sekitar 13 ribu guru, lebih dari setengahnya adalah perempuan.
Saat ini guru perempuan banyak terse-bar di berbagai tingkatan sekolah mulai dari guru TK sebanyak 375, SD 7922, SMP 2008, SMA 772, dan SMK 330 orang sehingga totalnya mencapai 11.407 orang. Dari jum-lah itu, sekitar 335 guru perempuan berani mengambil pilihan menjadi kepala sekolah mulai dari tingkat dasar hingga SLTA.
Hal ini dikemukakan oleh Kasubag Kepegawaian dan Umum Disdik Kabupaten Ciamis, Drs. U. Sukiman, ketika ditemui di Ganesha di ruang kerjanya baru-baru ini. Menurut U. Sukiman, banyaknya guru perempuan bisa disebabkan jumlah pendu-duk di Indonesia kebanyakan kaum perem-puan. Komposisi ini berpengaruh pada jumlah guru perempuan termasuk di Tatar Galuh. Sukiman juga yakin, secara faktual, minat kaum perempuan menjadi guru cukup tinggi, bahkan cenderung meningkat.
“Itu bisa kita lihat datanya. Angka melanjutkan menurut data yang ada di FKIP beberapa perguruan tinggi di Ciamis, juga mencatat banyaknya jumlah perempuan yang meneruskan studinya di program keguruan dan ilmu kependidikan,” ujar Sukiman.
Ini menandakan di tengah makin baiknya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru, masyarakat pun banyak yang berpikiran bahwa profesi guru sangat cocok dijalani kaum perempuan.

Sama dengan Laki-laki
Terkait dominannya jumlah guru perempuan, Sukiman mengaku, tak ada perbedaan perlakukan pada guru perempuan dibanding guru laki-laki.
Contohnya dalam hal dalam pemenuhan kewajiban kerja sama saja. Beban kerja guru terutama guru PNS tidak berdasarkan perbedaan gender.
“Meskipun kebanyakan guru dari kalangan perempuan tetapi untuk pemenuhan kewajiban tugas pokoknya sama dengan laki-laki. Apalagi saat ini setiap guru dituntut untuk 24 jam tatap muka dan itu berlaku bagi guru perempuan maupun laki-laki,” ujar Sukiman.
Lebih lanjut Sukiman menuturkan dalam karier kepangkatan, guru perempuan juga tidak kalah dibanding dengan laki-laki. Hal ini bisa terlihat dari data yang ada bahwa-sannya dari 1046 SD, 330 orang diantaranya dipimpin oleh kepala sekolah perempuan, dan dari 110 SMP 4 diantaranya dipimpin oleh kepsek perempuan, sementara kepala sekolah SMK baru 1 orang dari kalangan perempuan. Artinya lebih dari 30% sekolah di Kabupaten Ciamis dinakhodai seorang guru perempuan.

Tertinggal di Struktural & Akademik
Sukiman menilai kepemimpinan guru perempuan di sekolah cukup baik dan secara umum sangat mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Ciamis. Namun jumlah tersebut ternyata tidak dibarengi peningkatan jumlah pegawai di tingat struktural. Di struktural sendiri khususnya di lingkungan dinas pendidikan, jumlah perempuan yang memangku posisi tinggi sangat rendah.
“Untuk struktural sendiri khususnya di lingkungan dinas pendidikan baru 2 orang yang menjabat kepala seksi dari perempuan, yaitu Kasi Kurikulum SMA/SMK dan Kasi PAUD,” imbuhnya.
Namun disinggung mengenai kualifikasi pendidikan, guru perempuan masih terting-gal dibanding guru laki-laki. Terlebih untuk kualifikasi akademik setara S2, Sukiman me-ngungkapkan baru beberapa persen saja guru perempuan yang sudah berkualifikasi S2. “Saat ini yang sudah berkualifikasi S2 baru 68 orang, tersebar di kepala sekolah SD sebanyak 11 orang, guru kelas 5 orang, 19 orang SMP, 15 orang SMA, 7 orang SMK dan 11 orang pengawas sekolah. Untuk melanjutkan ke jenjang S2 kebanyakan guru perempuan itu banyak pertimbangannya,” terangnya.

KUPTD Pendidikan Kosong
Selain itu, lanjut Sukiman, sampai saat ini belum ada perempuan yang menjabat seba-gai kepala UPTD. “Ini bukan berarti perem-puan tidak mampu, tetapi potensi ke arah sana ada. Hal ini terbukti dengan masuknya berkas-berkas untuk pengajuan penyelek-sian calon kepala UPTD. Dan dalam hal ini kami tidak membeda-bedakan gender, berkas yang masuk asal sesuai dengan kriteria akan kami ikutsertakan dalam seleksi calon kepala UPTD,” ungkap Sukiman.
Begitu pula dalam penempatan suatu jabatan, lanjut Sukiman, tidak membeda-bedakan gender, tetapi dilihat dari kemam-puannya. “Perempuan juga bisa menempati jabatan apapun sesuai dengan kemampuan-nya, di samping mampu juga harus ada kemauan untuk bisa menyelesaikan tugas-tugasnya. Dan yang terpenting harus mau membaca peraturan perubahan yang ada. Terus terang kami juga bangga karena memiliki trainer atau assesor PK Guru dari kalangan perempuan,” ujar Sukiman.
Menutup pembicaraan, Sukiman berharap guru perempuan tidak boleh manja. “Dalam segala hal guru perempuan harus bisa mandiri, jangan hanya ingin dilayani segala sesuatu-nya. Begitupun dalam peningkatan kualifikasi pendidikan untuk mendukung kualitas pendidikan jangan hanya asal-asalan saja. Karena bagaimana pun kita merasa bangga dengan peran ganda guru perempuan, selain mendidik siswa juga mendidik anak-anaknya di rumah,” pungkasnya. (ayu/agus ponda/ganesha)