Minggu, 08 Juli 2012

Antara “Samen” & Wisuda Sekolah


Acara kenaikan kelas dan perpisahan sekolah makin meninggalkan istilah lama bernama samen. Kini sekolah makin pede dengan istilah “Wisuda Sekolah”. Sudah tepatkan, istilah itu?
......................................................
Dulu, dalam masyarakat Sunda  dikenal istilah samen. Samen bukanlah kata yang asing buat mereka. Samen adalah kata yang menggambarkan ketika seluruh siswa merayakan kenaikan kelas dan merayakan kelulusan setelah mereka belajar selama tiga tahun di SLTP/SLTA atau 6 tahun di SD.
Acara samen biasanya kental dengan tradisi atau seni Sunda. Dalam samen terdapat pementasan kreasi seni siswa dalam rangkaian acara perpisahan dan kenaikan kelas. Intinya hampir seluruh rangkaian acara pementasan bernuansakan etnik Sunda. Kesannya, kental Sunda-nya, tradisional,  bersahaja, namun sakral dan mengesankan.  
Lalu ketika muncul istilah wisuda sekolah, dulu sebagian besar orang tertawa bahkan mencibir melihat anak TK/SD lulus menamatkan kegiatan belajar dengan prosesi wisuda. Demikian juga ketika anak SMP/SMA diwisuda ketika hendak meninggalkan sekolah, rasanya janggal dan tidak pas.
Anak TK diwisuda? Anak SD-SMA diwisuda? Seperti naif, terlalu berlebihan dan mengada-ngada.Belum pantas dan memang tak layak. Begitu kira-kira penilaian orang tentang kemunculan acara wisuda di TK, sekolah dasar, menengah pertama  dan menengah atas.
Sekarang tengoklah, di mana-mana sekolah lebih pede dengan acara wisuda bagi siswanya.  semua siswa kelas 3SLTP/SLTA atau kelas 6  SD berdandan bak seorang sarjana yang baru merampungkan studi S1- S3. Para siswa duduk dalam barisan ‘wisudawan/wisudawati’. Beberapa saat kemudian, satu persatu naik ke panggung dan mereka turun kembali dengan berkalung toga. Kepala sekolah punya kebiasaan baru: mengalungkan toga di atas samir para siswa sebagai tanda lulus, plus ijazah.
Mengapa muncul istilah wisuda sekolah? Apakah wisuda hanya cocok untuk acara pelepasan sarjana di Perguruan Tinggi?

Makna Wisuda
Istilah serupa dengan makna "Wisuda" dalam Bahasa Inggris biasanya yang sering digunakan adalah "Graduation". Ada yang meyakini bahwa kata wisuda berasal dari bahasa Sansekerta yaitu, “wisudda” yang berarti bersih, murni, atau habis sama sekali. Misalnya dalam kitab Ramayana, sebagaimana dikutib oleh P.J. Zoetmulder, ada ungkapan “Wisudha malilang langit” yang kira-kira artinya “langit sedang cerah dan terang benderang”. Agaknya dari kata ini kemudian orang Jawa mengambil bagian suku kata terdepannya saja yaitu “wis” sedang orang Melayu mengambil bagian dua suku kata terakhirnya yaitu “sudda” yang lantas menjadi “sudah”. Kini kita tahu dua kata itu artinya sama yaitu selesai atau berakhir.
Secara  khusus menurut orang Jawa, bahwa kata wisuda berasal dari dua suku kata yaitu ‘wis’ dan ‘sudah’. Kata ‘wis’ merupakan kata  yang berarti ‘sudah’, ‘ya’, ‘baiklah’, dan sebagainya. Kata ‘sudah’ merupakan kata yang berasal dari bahasa Indonesia yang berarti ‘sudah’ itu sendiri. Jadi jika digabung berdasarkan makna masing-masing kata yang telah saya jelaskan diatas, maka kata ‘wisuda’ dapat memiliki definisi ‘ya sudah’ atau ‘sudah’. Namun jika didefinisikan berdasarkan makna yang lebih bebas atau tergantung dengan konteks pemakaiannya, maka dapat berarti ‘ya sudah selesai’. Jadi ketika seorang mahasiswa/mahasiswi yang telah menyelesaikan pendidikannya menjalani wisuda, maka sebenarnya pihak kampus atau universitas hanya bermaksud berkata kepada mereka, ‘ya kalian sudah selesai belajar di sini’. 
Wisuda' dalam bahasa Indonesia biasanya lebih mengacu pada acara kelulusannya (graduation ceremony) daripada kelulusan itu sendiri (graduation).  Istilah wisuda mengandung makna pernyataan simbolik tentang berakhirnya suatu proses pemurnian atau pencerahan. Dengan demikian, mereka yang akan diwisuda ini adalah ibarat berlian yang sudah dimurnikan dari bongkahan batu cadas yang semula tak berharga. Ibarat lempengan besi yang kini menjadi keras dan bertuah, karena sudah ditempa dan diasah. Itulah yang sebenarnya di balik makna wisuda.
Secara harfiah wisuda berarti bersih, cermat dan jernih merupakan penganugerahan gelar akademis kepada mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan studinya dengan baik. Pada upacara wisuda diberikan ijazah atau sertifikat tanda kelulusan. Wisuda pertama kali diselenggarakan oleh  universitas-universitas di Eropa pada Abad Pertengahan. Dalam History Church Scotch karya Spottwold, disebutkan bahwa upacara wisuda (graduation) ini pertama kali diadakan pada tahun 1639.
Dengan demikian memang pada awalnya acara wisuda (graduation), diperuntukan bagi para mahasiswa bukan untuk siswa sekolahan. Wisuda bagi para mahasiswa merupakan prosesi akhir berupa penganugerahan gelar akademik setelah menamatkan studi dengan bobot SKS tertentu, tugas akhir dan sejumlah persyarakat lainnya di pergguran tinggi. 
Di sebagian besar universitas atau perguruan tinggi para wisudawan dan wisudawati mengenakan toga atau jubah, yaitu baju panjang berwarna hitam, lengannya lebar sebagai pakaian jabatan bagi Senat, Hakim Sarjana dipakai pada acara khidmat tertentu. Selain toga, juga mengenakan peci akademik. Sesuai tradisi, toga dan peci, yang bagian atasnya berkuncir berwarna hitam. Warna kuncir menandai gelar yang mereka terima. Para wisudawan dan wisudawati juga mengenakan kerudung di punggung untuk menunjukkan gelar tertinggi yang telah mereka sandang.
Pakaian ini berbentuk jubah dan membutuhkan sebuah kain panjang yang berukuran antara 2 sampai 6 meter. Kain ini dililitkan di tubuh. Toga dipakai oleh pria, sedangkan wanita menggunakan stola. Warga lain dilarang menggunakannya.
Dewasa ini toga hanya dikenakan pada kesempatan-kesempatan resmi dan pada lembaga-lembaga tertentu. Bentuk toga juga berubah menjadi semacama jubah tertutup. 
Di Indonesia sekarang ini, toga digunakan antara lain oleh para rohaniawan Kristen, hakim pada saat persidangan, dan mahasiswa-mahasiswi pada upacara wisuda dan juga para anak RA/TK hingga  SLTA saat acara perpisahna sekolah.

Jangan Berlebihan
Dengan demikian secara bahasa dan harfiah, wisuda sesungguhnya dapat dipakai untuk semua tingkatan pendidikan. Tradisi wisuda untuk prosesi penganugerahan gelar sarjana bagi mahasiswa yang telah selesai menempuh studi si Perguruan Tinggi, kini ditiru sekolah-sekolah, sah-sah saja.
Seorang kepala SMP di Ciamis mengaku mengadakan acara wisuda bagi siswa kelas IX, sebagai bentuk layanan kepada wali murid dan siswa.
“Tak ada maksud lain atau gagah-gagahan. Ini murni sebagai pelayanan terakhir dari kami pada mereka dan juga orangtua siswa.” ujarnya.
Menurutnya acara wisuda sebenarnya tak jauh berbeda dengan acara samen (istilah Sunda) atau perpisahan sekolah. Hanya bentuknya agak mirip wisuda sarjana.
Sedangkan konsekuensi ada penambahan biaya yang harus dikeluarkan secara pribadi oleh orangtua siswa, pihaknya mengaku tidak memaksanya.“Misalnya biaya pakaian, toga atau lainnya, kami tak mewajibkannya. Siswa sudah bisa hadir di acara puncak saja sudah senang.” katanya.
 Wisuda anak sekolah memang bukan wisuda mahasiswa perguruan tinggi. Maka bentuk acara, perak-perniknya sebaiknya jangan berlebihan. Memberi keriangan dan kebahagiaan pada anak didik yang telah selesai menempuh pendidikan selama 3 atau 6 tahun, adalah hal yang positif. Namun jangan sampai semua persembahan luar biasa dan wah itu ditumpahkan berlebihan di  sebuah ‘pesta wisuda sekolah”. 
Anak-anak sekolah harus diyakinkan bahwa nantinya bagi mereka akan ada kenangan terakhir yang paling besar dan lebih bermakna ketika mereka mampu menempuh pendidikan tinggi bernama wisuda sarjana. Kuncinya terus belajar, terus bersekolah di mana pun tempatnya. Jangan sampai kemeriahan wisuda sekolah menjadi yang terakhir bagi mereka karena selanjutnya mereka tak mau melanjutkan sekolah atau kuliah. Jangan sampai mereka berkata: “buat apa kuliah? Sekarang saja saya sudah merasakan bagaimana wisuda itu!”
Tentu kita harus yakinkan mereka bahwa belajar dan menuntut ilmu jangan  terhenti hanya karena mereka sudah merasakan bagaimana wisuda sekolah. Semewah, semegah, semeriah apapun acara wisuda sekolah, itu bukan akhir dari perjuangan menuntut ilmu dan keterampilan untuk bekal hidup mereka.
Nak, selamat bersekolah lagi! 
(agus ponda/ganesha)

Jadwal PLPG Belum Jelas, Para Guru Kian Penasaran


Uji Kompetensi Awal (UKA) guru hasilnya sudah diumumkan beberapa bulan lalu. Kini tiba giliran para guru yang lulus UKA mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) tahun 2012.  Benarkah jadwalnya belum jelas?
…………………………….
Sama halnya dengan UKA, PLPG 2012 juga dikomandoi oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
Kepala BPSDMP-PMP kemendikbud Syawal Gultom mengatakan pada pertengahan bulan April lalu pihaknya telah menandatangani kontrak pelaksanaan PLPG dengan seluruh LPTK (Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan). Kontrak ini perlu mengingat LPTK adalah fihak yang terlibat dalam pelaksanaan PLPG.
Setelah kontrak diteken seluruh guru yang lulus UKA 2012 siap untuk dididik dan dilatih, menurut Gultom durasi PLPG ditetapkan 90 Jam dan akan berlangsung dalam sembilan hari dan kegiatan ini tidak dipungut biaya bahkan peserta akan diberikan uang makan. Selain itu akan dipersiapkan tempat penginapan di masing-masing LPTK.
Sesuai dengan hasil UKA yang dilaksanakan akhir Februari lalu jumlah peserta PLPG adalah 249.001 orang. Diakhir masa PLPG akan diadakan Ujian Kompetensi Akhir, bagi peserta yang lulus akan mendapatkan.

Peserta yang Gagal UKA
Bagi peserta yang gagal UKA kemendikbud sudah menyiapkan beberapa langkah, diantaranya bagi peserta yang tidak Lulus UKA akan mengikuti Diklat Khusus. Jika Guru yang tidak Sertifikasi pendidik profesional dan berhak memperoleh tunjangan profesi pendidik (TPP). Bagi yang belum lulus harus mengikuti PLPG susulan.
Jika berhasil lulus Diklat Khusus, maka tahun depan yang bersangkutan tidak perlu ikut UKA lagi dan bisa langsung ikut PLPG periode 2013. Sebaliknya bagi yang tidak lulus diklat khusus tahun depan harus ikut UKA lagi sebagai saringan masuk PLPG.

PLPG Harus Matang
Sebagaimana diketahui, jika dilihat dari kualifikasi pendidikan, mendikbud Muhammad Nuh, mengatakan bahwa  211.858 peserta UKA tempo lalu merupakan lulusan S1, 34.614 peserta lulusan D2, 19.039 orang guru lulusan SMA, dan sisa lainnya lulusan SMP, SMA, D1, D3, S2 dan S3. “Dari ratusan ribu guru yang mengikuti uji kompetensi yang lulusan S3 hanya 9 orang. Tapi mungkin saja jurusan S3 yang diambil bukan jurusan pendidikan,” kata Nuh.
Dengan adanya hasil tersebut, Nuh menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil distribusi nilai UKA 2012 perlu dirancang secara khusus untuk pendidikan dan latihan guru dalam rangka sertifikasi serta perencanaan yang matang.
“Yakni, mulai dari metodologi dan materi agar kompetensi guru setelah mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) memperoleh hasil yang signifikan,” tukasnya.

Jadwal Belum Jelas (?)
Sementara itu, di daerah hingga kini para guru masih belum mendapat kejelasan kapan pelaksanaan PLPG dimulai. Berdasarkan pantauan Ganesha, para guru Kabupaten Ciamis akan mengikuti PLPG di beberapa rayon.  Ada yang dekat ada pula yang cukup jauh.
Berdasarkan pengumuman dari BPSDMP-PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui http://sergur.kemdiknas.go.id/, guru TK akan mengikuti PLPG di Rayon 110 UPI Bandung, guru-guru SD  sebagian besar akan mengikuti PLPG di Rayon 111 Universitas Negeri Yogyakarta dan sebagian kecil di Universitas Siliwangi Tasikmalaya.
Untuk guru SMP mereka akan mengikuti PLPG di Unsil Tasikmalaya dan UPI Bandung. Guru SMA di UPI Bandung dan Unsil Tasikmalaya, guru SMK  juga di UPI Bandung dan Unsil Tasikmalaya, sedangkan guru SLB di UPI Bandung. 
Kepala BPSDMP-PMP kemendikbud Syawal Gultom, mengatakan sekitar awal Juni 2012 PLPG dimulai, namun justru sejak pertengahan Mei 2012, sudah ada beberapa Rayon yang memulai PLPG.
Rayon 111 Universitas Negeri Yogyakarta misalnya memulai PLPG gelombang I pada tanggal 19-28 Mei 2012 dan gelombang 2 pada tanggal  30 Mei – 8 Juni 2012. Gelombang 3 direncanakan tanggal 11 – 20 Juni 2012. Gelombang 4 tanggal 22 Juni- 1 Juli, gelombang 5 tanggal 3-12 Juli, gelombang 6 tanggal 14-23 Juli, gelombang 7 tanggal  25 Juli- 3 Agustus dan gelombang 8 tanggal 6-15 agustus 2012.
Jadwal PLPG di rayon 111 UNY gelombang 1-2, pesertanya baru guru-guru di wilayah provinsi Yogyakarta. Meski jadwal tersebut sudah ada, untuk kabupaten Ciamis belum ditentukan akan masuk pada gelombang yang mana. Itu sebabnya banyak guru penasaran. 
Anikah Soraya, · Guru Kelas di SLB Sindangsari misalnya mempertanyakan hadwal pasti kapan guru Ciamis mengikuti PLPG di rayon UNY. Guru lain juga sama.
“Saya mohon dengan sangat, jadwal PLPG untuk Kab. Ciamis segera ditayangkan, biar jelas,” kata guru lainnya, Hamim Mulyana. 
Tbagus SN asal Rancah, juga mempertanyakan jadwal PLPG guru Ciamis. “Kapan ya?” tanyanya.  
Hingga laporan ini diturunkan, dari Rayon UPI Bandung juga belum ada informasi khusus terkait Jadwal PLPG. Untuk Rayon 136 Unsil juga demikian. 
Menanggapi banyaknya pertanyaan jadwal PLPG, Disidik Kabupaten Ciamis, juga belum memberikan keterangan resmi. Kepala Sub Bagian Kepegawaian Dinas Pendidikan Kab Ciamis Drs. U. Sukiman pun mengaku belum menerima jadwal pasti untuk PLPG Kabupaten Ciamis. 
“Kami juga masih menunggu jadwal dari beberapa Perguruan Tinggi, jadi para guru mohon bersabar,” ujarnya.  
(agus ponda/ganesha/dnt)

Ranking di Kelas, Masih Pentingkah?


Dulu nilai raport sangat dinanti banyak siswa. Setiap akhir tahun ajaran, mereka berdebar menunggu pembagian rapor. Di situ akan terpampang, berapa rangking yang diraih seorang siswa. Rangking 1, 2, 9, atau bahkan rangking terbuncit.
...................... 
Bila rangking terbaik diraih, betapa senang seorang siswa. Juga tak kalah senang dan bangga tentu dirasakan setiap orangtua yang anaknya berhasil menduduki rangking I di kelas atau bahkan di sekolahnya.
Itulah bukti hebatnya sang anak menorehkan prestasi belajar. Dan tentunya,’hebatnya’ orangtua membimbing anak pada jalur berprestasi.
Rangking di masa dulu sangat bermakna prestisius. Sebab, contohnya, ketika ada pertemuan keluarga mereka bertanya, “Bagaimana, anaknya Bude, ranking berapa sekarang?”
Kalau anak atau orangtua menjawab: ranking 1! Pasti senyum bangga dan memuji terkembang. Bentuk apresiasi verbal biasanya spontan keluar dengan sendirinya. Kalimat-kalimat seperti “Selamat ya Nak… kamu membuat Ibu bangga….” atau  “Kakak hebattt… kamu mampu memberi contoh adik-adik…” layak diucapkan dan penting. Lalu, kalau menjawab rangking 20, ya, payah deh.
Bagaimana pun dulu satu hal positif yang dapat kita ambil, ternyata ranking yang dulu kita lihat ditulis di depan papan tulis saat pengambilan raport atau diumumkan di pengeras suara saat kenaikan kelas, cukup penting.  Banyak siswa yang  merasa sangat tertantang mengejar nilai bagus, karena melihat namanya belum masuk 5 besar, atau baru bisa di rangking 2-3.
Bagaimana Sekarang?
Ada sebagian siswa bahkan orangtua beranggapan atau berkecenderungan rangking nilai di raport tidak menjadi sangat penting. Siswa cuek, berapapun nilai diraih di rapornya, yang penting naik kelas. Bahkan juga guru pun berpikir demikian (?) Benarkah?
Faktanya, mulai dari SD-SLTA, belakangan dalam rapor rangking tidak lagi dicantumkan.Siswa memang memproleh nilai bukti hasil belajar, tapi mereka tak tahu berada di posisi mana dirinya di sebuah kelas atau sebuah sekolah dalam hal nilai hasil belajar.
Ada beberapa sebab mengapa guru wali kelas kini banyak yang tak lagi mencantunkan rangking di rapor siswa. Ada kemungkinan guru tak sempat merekap nilai siswa sampai pada tahap perangkingan. Maka ketika rapor harus dibagikan, cukup hanya menuliskan deretan angka nilai bidang studi, tak ada rangking.
Di sebagian sekolah rangking atau peringkat nilai tetap menjadi catatan para wali kelas. Ini karena kebanyakan orangtua selalu ingin tahu rangking anaknya. Memang tidak tercantum di rapor, sehingga untuk mengetahui rangking harus menanyakan kepada guru. Ada juga walikelas yang memberikan tulisan rangking di sebalik salinan rapor, agar orangtua tidak perlu repot bertanya.
Namun sebaliknya, ada yang menilai bahwa tidak dicantumkannya rangking dalam raport sebagai sebuah kemajuan. Reasoningnya adalah untuk melahirkan kesadaran bahwa setiap anak itu istimewa. Anak yang pandai berhitung, belum tentu unggul di olahraga. Anak yang mahir di IPA, belum tentu merdu ketika diminta menyanyi di pelajaran seni suara. Walau demikian ada segelintir anak yang dianugerahi dengan multitalenta, maka pantas meraih rangking terbaik di sekolahnya.
Namun kenyataannya, anak-anak yang istimewa secara akademis, sering tidak akan berubah jauh rangkingnya. Artinya rangking 1-5 misalnya takan jauh dari si A, B, C, D, dan E. Siswa yang biasa-biasa, nampak sulit  meraih rangking terbaik. 
Menyadari potensi akkademis anaknya yang tak terlalu istimewa banyak juga orangtua yang tidak ngotot memaksa anaknya agar meraih rangking yang baik. Artinya berapapun rangking diraih, tak jadi masalah.
“Bagi saya sendiri rangking tidak begitu penting. Mengetahui anak sudah paham dengan pelajaran yang diberikan guru, itu sudah cukup. Melihat anak senang pergi ke sekolah, sudah membuat saya lega. Menyaksikan anak gemar membaca untuk membuka jendela dunia, adalah kenikmatan tersendiri. Membuat si kecil merasa aman dan bahagia serta  menikmati dunia dan kodratnya sebagai anak-anak, adalah sudah cukup,” ujar seorang ibu.
Pada akhirnya, rangking menjadi prioritas kesekian-sekian dan bukan yang pertama. Tidak ada target tertentu bahwa anak harus meraih rangking berapa. 

Rangking Tak Selalu Tentukan Masa Depan
Bagi orangtua  atau juga guru yang tidak lagi terlalu mengagungkang rangking di rapor siswa, mereka berpikir bahwa  rangking hanya segelintir urusan yang menyangkut kecerdasan akademik. Di luar itu, ada tugas lain bagi para orangtua dan guru untuk juga memacu urusan lain yang juga diperlukan di masa depan. Kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual,  life skills, dan kemampuan bersosialisasi, juga harus diasah sejak kecil,  bila ingin anak kita sukses di kemudian hari.
Sering ada refleksi yang agak lucu ketika reuni sebuah sekolah. Ketika kita  bertemu rekan-rekan SMP atau SMA  belasan atau puluhan tahun lalu. Mereka pasti akan saling bertanya, jadi apa teman-temannya sekarang? 
Anita yang ranking 1 jadi dosen. Rangking 2 jadi karyawan swasta yang biasa-biasa saja. Rangking 3 jadi PNS. Rangking 15 buka toko mainan dan punya usaha provider internet, sudah berhaji.
Anak-anak  pintar lainnya di level setelah ranking I-III: 
-Jadi guru (PNS)
-Jadi bidan (PNS)
-Jadi perwira polisi
-Jadi insinyur pertambangan
-Jadi pegawai Kantor Pajak
-Jadi pengusaha jual-beli emas, punya 3 toko besar di 2 kota.
Tapi  anak-anak yang rangkingnya tidak diketahui karena saking banyaknya, secara duniawi  juga tak kalah sukses:
-Jadi anggota dewan
-Jadi pengusaha jual beli kaca
-Jadi pengusaha toko material bangunan yang sukses,
-Jadi pengusaha besi
-Jadi istri pejabat
-Jadi istri calon bupati
-Menjadi pengusaha catering,
-Jadi ibu rumah tangga, dll.
Artinya, memang tetap ada efek positif pentingnya rangking di sekolah. Siswa yang secara akademis istimewa akan merasa dihargai dan diperhatikan sehingga terus akan menjaga prestasi akademiknya. Maka si rangking satu, Anita, yang pintar pantas meraih gelar Doktor dan kini jadi dosen. 
Tapi juga harus diperhatikan, bahwa sekolah tetap harus secara adil dan bijaksana melayani peserta didik bagaimana pun tingkat akademisnya. Siswa yang secara akdemis tak menonjol harus difasilitasi agar potensi sisi lainnya dapat berkembang dan jadi modal hidupnya di kemudian  hari.
Sekali lagi rangking itu penting. Namun melihat kenyataan di lapangan di kehidupan kita dan orang lain (teman kita),  pada akhirnya kita berkesimpulan, ternyata rangking tidak terlalu menentukan mau jadi apa kita di kemudian hari. Banyak faktor lain yang akan menunjang kesuksesan anak, yang sering dilupakan para orangtua hanya karena sibuk konsentrasi untuk membuat anak meraih rangking yang bagus. 
Tentu belajar harus dilakukan setiap anak sekolah. Namun terus menerus belajar hingga lupa bermain  dan bersosialisasi dengan lingkungannya, hanya akan menciptakan anak yang pandai secara akademis, namun kaku dalam bergaul dan rendah kepeduliannya terhadap lingkungan, serta lemah menghadapi suatu masalah dalam hidupnya.
Ada teman bertanya pada seorang rekan lainnya di Facebook, bagaimana cara mendidik, hingga anak saya bisa rangking I? Rekan kita dengan jujur mengatakan, “Cara mendidiknya biasa saja, belajar seperlunya untuk penguatan kalau ada ujian. Sehari-harinya menikmati waktu di sela sekolah dan istirahat untuk membaca buku cerita, bersepeda dan bermain dengan teman-teman di kampung.”
Menjadi anak yang happy, menikmati kodrat dan dunianya yang alami, adalah keharusan.
Rangking I  atau 2 adalah anugerah. Namun jangan sampai kita terpaku pada sistem ranking. Sistem pendidikan saat ini  yang terfokus pada membuat “ranking” bukanlah hal yang terlalu penting yang harus dicari seorang anak SD hingga SLTA bahkan Perguruan Tinggi. Sebab yang penting adalah bagaimana seorang anak ketika dewasa bisa hidup mandiri, dengan potensi yang ada  pada dirinya, bukan lagi potensi yang ada di nilai raportnya.
(agus ponda/edk/kmps/nt/ganesha)

Sstt...! Saya Akan Lebih Baik dari Guru Lain


Bukan rahasia lagi, di Indonesia, minat baca guru sangat rendah. Padahal aktivitas pokok guru adalah membaca, mencari dan mentransfer ilmu. Kenyataannya setiap hari,  guru sudah merasa cukup dengan membaca satu bab saja materi ajar  saat berada di kelas.  Itu pun harus dilakukan karena di depannya ada para murid. Kalau tidak, ya tidak ‘membaca’ seharian.  Anehkan?
…………………………………………….
Dalam makna enteng,  membaca adalah sebuah kata kerja yang menyatakan keadaan subjek yang sedang merekam data tahap demi tahap, menandai atau mengenali huruf per huruf untuk dirangkai menjadi kata dan selanjutnya menjadi sebuah kalimat. Maka membaca dalam hal ini berarti aktivitas mata, hati dan pikiran ketika ‘memergoki’ sebuah tulisan.Mau tak mau Anda harus memaknai susunan hurup atau kata di depan mata dengan cara mengucapkannya atau cukup di dalam hati.
Namun dalam makna luas membaca salah satunya berarti aktivitas seseorang untuk mencari, menggali, menemukan informasi atau ilmu dari bahan bacaan.
Bagi guru membaca berarti  kegiatan dalam rangka memperoleh informasi, pengetahuan atau kualifikasi tertentu, baik yang berkorelasi langsung dengan materi ajar maupun tidak.Atau bisa juga hanya sebagai compensatory reading, yakni kegiatan membaca untuk kepuasaan pribadi atau dikenal dengan membaca bersifat rekreasi (hiburan). Namun intinya Anda memperoleh informasi, hal-hal baru atau terbarukan, menambah pengetahuan atau petunjuk dari apa yang dibaca.
Dalam hal ini baik dengan tujuan meningkatkan profesionalisme keguruan maupun hanya semata hiburan, minat baca guru sangat rendah. Padahal kata Andrie Wongso, membaca adalah sebuah aktivitas pengembangan diri (self improvement). Dengan membaca apapun jenis bukunya minimal ada satu pelajaran, satu pengetahuan, dan satu solusi atau manfaat di dalamnya 
Jika guru tak mau membaca, atau jauh dari kegiatan membaca, apakah membaca buku, jurnal, membaca media massa cetak (koran, majalah, taboid) atau media online (internet), maka ia sebenarnya ‘tidak mau’ menambah ilmu, pengetahuan, tidak mau mendapat solusi, tak mau mendapat hal-hal yang bermanfaat buat dirinya apalagi buat orang lain (murid misalnya).
Jadi kegiatan membaca sesungguhnya adalah kegiatan yang dikategorikan sebagai kegiatan orang-orang cerdas.Ia tahu dan merasakan manfaat dari kegiatannya, sedangkan mereka yang tak suka membaca, sesungguhnya  itu pilihan yang ‘kurang cerdas.’’ Yang membuatnya juga kurang cerdas mengkaitkan hal yang bersifat teoritis (dari bacaan) dengan kehidupan nyata.
Pengalaman juga mengatakan, siapa yang rajin membaca, maka ia akan kaya akan ilmu, namun bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru yang rajin membaca, otaknya ibarat mesin pencari google di internet. Bila ada siswa yang bertanya, memori otaknya langsung bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para siswanya dengan cepat dan benar.
Guru-guru tentu tak ingin dikategorikan sebagai kelompok professional yang justru ‘kurang cerdas.” Membaca jadi pilihan Anda untuk lebih cerdas, lebih pintar, lebih intelek dan lebih disegani rekan atau anak didik juga masyarakat. Dengan catatan ada makna positif dari hasil aktvitas membaca untuk diri dan orang lain.
Mulai saat ini jangan kasih tahu orang lain, bahwa Anda akan lebih baik dimulai dari kebiasaan membaca. Anda akan memperbaharui cara, gaya atau metode mengajar berkat manfaat membaca. Mulai hari ini Anda akan mengawali aktivitas di sekolah dengan lebih  baik, lebih fresh karena info dari sebuah buku, tulisan di tabloid, koran atau majalah. Jadi mulai hari ini Anda harus dapat melawan kebiasaan malas membaca agar Anda diam diam jauh lebih baik dari guru lainnya. Oke?
(agus ponda/ganesha)

Selasa, 29 Mei 2012

Menjadi Guru Sebenarnya Menyenangkan

Menjadi guru bukan impian saya, tapi impian teman saya sejak kecil. Juga mungkin impian Anda. Waktu kecil ia membayangkan berdiri di depan kelas, bermain dan berbincang bersama mereka sepertinya sesuatu yang menggembirakan. Dan, cukup menakjubkan bahwa angan-angan itu kini tercapai.
……………………………….

Dahulu teman saya itu tidak berani berbicara, apalagi di depan orang banyak. Itu saja sebenarnya cukup menutup pelu-angnya untuk menjadi guru. Sebab seorang guru dituntut pintar bicara dan harus bicara. Kalau bicaranya setengah jam sekali, siswa bisa pada tidur atau kabur dari kelas.
Sekarang pertanyaannya, dari mana ceritanya Anda jadi Guru? Tentu kisahnya beragam. Dari yang ujug-ujug, tanpa cita-cita bahkan mimpi, sampai yang benar-benar terobsesi jadi guru di kala kecil.
“Kalau saya memulai profesi ini dengan mengajar privat. Berawal dari satu anak, dua anak, kemudian kelompok berlanjut satu kelas dengan jumlah murid terbesar sebanyak 45 siswa. Bermula dari anak-anak usia 3 tahun sampai kemudian karyawan. Akhirnya jadi guru,” ujar teman saya itu.
Ia kini mengaku bahwa menjadi guru adalah pembelajaran yang sangat baik untuk dirinya. “Saya belajar bertanggung jawab, disiplin, sekaligus ketegasan,” ucapnya yakin dan tulus.
Konon, menjadi guru membuat dirinya belajar pula untuk mendengarkan, memper-hatikan dan memaafkan. “Tentu, sampai saat ini pun saya masih belajar untuk semua hal di atas.” katanya. Ya guru memang tugasnya mendidik dan mengajar, tapi ia juga jangan lupa untuk terus belajar. Biar ilmunya kian banyak dan berisi, biar ilmunya up to date dan tak basi  selalu.

Sejak Hari Pertama
Pearl Rock Cane, seorang professor Pendidikan di Teachers College, Columbia University pernah mengatakan bahwa tidak seperti jenis pekerjaan lainnya, pegawai baru diberi tugas terbatas untuk tahun pertama ia bekerja sebelum kemudian ia dianggap cukup berpengalaman untuk memikul tang-gung jawab yang lebih tinggi atau membuat keputusan mandiri, maka seorang guru ha-rus melakukan itu semua sejak hari pertama ia mengajar. Dan seringkali guru baru justru mendapatkan kelas yang paling sulit. Ini betul sekali.
Menjadi guru kemudian menyadarkan bahwa tugas kita tidak hanya mengajar, tapi seringkali seorang guru pun terserap ke dalam kehidupan pribadi mereka (siswa).
Kelembutan, kasih sayang dan ketega-san adalah hal yang berbeda. Namun kita se-ringkali terjebak di dalamnya. Dengan alasan sayang kita membolehkan mereka mencontek, atas nama ketegasan kita melakukan hukuman fisik kepada anak, dan lain-lain.
“Saya cukup tegas untuk masalah yang berkaitan dengan moral. Memang itu jadi dilema tersendiri. Tapi saya berusaha meme-gang teguh keyakinan saya. Saya tidak sampai sih merobek ulangan anak yang mencontek,” ujar dia.
Ia mengaku dirinya sebenarnya terkadang ka-sihan melihat anak-anak kesulitan menjawab soal ulangan atau tes. Tapi menurutnya, ia akan lebih merasa bersalah lagi jika guru  membiarkan mereka berbuat kecurangan. “Saya tidak ingin anak-anak itu hancur ketika nanti mereka menhadapi dunia yang sesungguhnya,” begitu ia beralasan jauh.

Toleransi
Salah satu kebaikan yang ia pelajari selama menjadi guru adalah betapa anak-anak mempu-nyai toleransi yang tinggi terhadap sebuah kesalahan. Mereka sungguh pemaaf. Sung-guh tepat kata Pearl Rock Cane, “Ruang kelas menawarkan potensi untuk perubahan dan pertumbuhan bagi siswa dan guru.”
Guru dan siswa belajar bersama untuk menjadi lebih baik.
Teman saya ini, masih ingat ketika ia gagal menyampaikan pembelajaran di sebuah kelas, ketika anak-anak memusuhinya.
“Saya mungkin akan meninggalkan pekerjaan ini selamanya seandainya saat itu mereka tidak memberikan saya kesempatan. Saya begitu kagum dengan ketulusan mereka.” kenangnya.
Di tengah anak-anak, guru seharusnya selalu merasa belajar hal-hal baru yang menakjubkan, yang kadang tak mampu kita lihat sebagai orang dewasa.
Kini yakinkanlah bahwa menjadi guru tugas yang sangat mulia. Maka hari-hari di sekolah bakal terasa mengasyikkan. Pikiran Anda akan dipenuhi oleh keinginan untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan memudahkan bagi mereka. Kepuasan seorang guru adalah ketika mereka (anak didik) menikmati pengajaran yang saya berikan. Apalagi jika itu bisa memotivasi mereka.
Itu sebanya guru harus membuat suasana kelas menjadi menyenangkan. Ini adalah salah satu alternatif untuk mengoptimalkan proses belajar dan mengajar. Logikanya jika suasana di kelas menjadi menyenangkan akan mem-buat siswa lebih fokus pada kegiatan yang sedang berlangsung dan ketika fokus maka perhatian anak hanya pada satu kegiatan, tidak ada pikiran mereka untuk mengalihkan pada kegiaaan yang lain. Oleh karena itu dampak positif yang diperoleh, metari yang diberikan oleh guru akan lebih mudah dipa-hami dan diresapi anak. Dan itu akan berbekas seumur hidupnya.
Salah satunya kisah ini. Adalah mengharu-kan ketika suatu hari seorang anak berkata kepada seorang guru “Ibu Ani, saya sekarang kuliah di jurusan komputer. Saya juga mengajar design, seperti yang pernah Ibu ajarkan ke saya. Saya ajarkan pula ke anak didik saya. Terima kasih ya, Bu.
Anda mungkin bakal menangis haru bila menerima surat atau SMS dari murid Anda duku seperti itu.  Walau mungkin saja anak itu berlebihan, tapi itu kenyataan. Walau mungkin Anda hanya mengajari ia sedikit saja tentang design kala di SMK dulu.
Negeri ini membutuhkan guru-guru berkualitas untuk menjawab tantangan dalam mendidik generasi baru.
Dan jika Anda ingin membuat perubahan, kecil atau besar dalam kehidupan orang lain, menjadi guru adalah salah satu pilihan terbaik dan menyenangkan.
(agus ponda/ganesha/diadopsi dari enggarnt)

Ini Dia Empat Tipe Kepala Sekolah

Sebagai sebuah organisasi, sekolah merupakan lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang saling terkait dan menentukan. Berkembang tidaknya sekolah sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah. Ia seorang  pejabat formal, manajer,  pendidik, juga sekaligus sebagai staf.
………………………………………..

Sebagai pejabat formal kepsek diangkat melalui proses, prosedur dan peraturan yang berlaku. Artinya tidak sembarang guru dapat menjadi ‘orang nomor satu” di sebuah sekolah. Serangkaian proses seleksi harus dijalani, mulai dari persyaratan administrasi, tes hingga hal lainnya.
Berkembang tidaknya sebuah sekolah memang pertama-tama ditentukan oleh faktor pemimpin. Itu sebabnya  tidak bisa seseorang  ujug-ujugnya menjadi kepala sekolah. Salah-salah mengangkat kepala sekolah, sebuah sekolah malah bertambah buruk kualitasnya.
Jika diibaratkan tubuh manusia, pemimpin adalah otaknya. Otak adalah bagian utama yang membuat seluruh organ tubuh berfungsi. Otak memungkinkan seluruh tubuh melakukan suatu pekerjaan, menghasilkan sesuatu atau mencapai suatu tujuan sesuai ide sang otak. Bahkan selagi otak berfungsi dengan baik, seseorang dapat bepergian ke mana saja meski tidak memiliki tangan dan kaki.
Sebagaimana otak manusia yang dipilahkan ke dalam tipe genius, cerdas, normal dan bawah normal, kualitas pimpinan sebagai “otak sekolah” juga beragam. Ada pemimpin sekolah yang cerdas, kreatif, dan penuh tanggung jawab, tapi ada pula yang kurang kreatif, kurang cerdas dan kurang bertanggung jawab.
Pemimpin bertugas untuk membimbing dan mengarahkan bawahan agar bekerja sesuai tujuan sekolah. Oleh karena itu, pemimpin sekolah dituntut memiliki keberanian dan kemampuan menggerak-kan bawahan, siswa dan wali murid agar arahan dan instruksinya didengar dan dilaksanakan.
Secara sederhana, tipe kepemimpinan kepala  sekolah dapat dikelompokkan sebaga berikut ini:

1.Tipe Tim Leader/Pemimpin Profesional
Ini adalah tipe paling ideal. Pemimpin tipe ini fokus pada tujuan sekolah dan mampu menjalin hubungan baik dengan seluruh stake holder sekolah.
Team Leader sekolah haruslah orang yang paling paham tujuan, cara dan langkah-langkah mencapai target program dan target kerja secara terprogram, mensupervisi dan mengevaluasi, serta mempertanggung jawabkannya dalam bentuk laporan kerja.
Melalui seperangkat program kerja, tim leader berani dan mampu mengendalikan dan mengarahkan guru, pegawai, siswa dan wali murid untuk mencapai tujuan sekolah.
Kemampuannya menjalin hubungan baik dengan bawahan dan seluruh stake holder memungkinkan kerjasama yang kompak dan penuh kesadaran. Tipe ini mirip pola kepemimpinan tim sepak bola. Setiap tim biasanya memiliki kapten yang bertugas pengatur tim. Sebagai pemimpin, kapten sepakbola juga turut bermain dengan baik.
Karakteristik dan pola kepemimpinan team leader di sekolah tidak boleh asal bentuk. Team leader adalah guru terbaik di sekolah. Dia mampu memberikan contoh terbaik bagaimana menyusun program, rencana pembelajaran berikut instrumen yang diperlukan. Dia juga paling mampu memberi contoh pembelajaran terbaik.
Selain itu guru tersebut harus memiliki kelebihan itu memungkinkannya mampu mensupervisi dan mengevaluasi kinerja bawahannya.
Hubungan baik dan kesamaan panda-ngan memungkinkan semua orang bekerja sama secara kompak. Dia juga harus memi-liki kelebihan lain, terutama dalam hal ke-pemimpinan, managemen dan administrasi, sehingga mampu mengendalikan pengelo-laan sekolah sesuai garis kebijakan dan tujuan yang ditetapkan.
Tipe kepsek ini memerlukan kesamaan pandangan, kemampuan dan semangat juang seluruh tim, sehingga tugas dapat dibagi merata.

2. Tipe Pemimpin Idealis
Ini adalah tipe paling umum. Pemimpin idealis adalah orang yang fokus pada tujuan, hingga kadang kurang menjalin hubungan baik dengan semua komponen sekolah.
Kepemimpinan tipe idealis merupakan yang paling umum di sekolah-sekolah rintisan yang maju. Mereka mampu mencapai hasil bahkan lebih baik dari tipe tim leader. Ia fokus pada tujuan menjadikan guru dan pegawai harus bekerja keras. Akibatnya, mereka kadang merasa berat dan tertekan ketika berada di bawah pemimpin idealis yang sarat dengan target kerja betapaun kondisi dan kemampuan bawahannya.
Tipe ini mengacu pada tipe kepemimpinan birokrasi, militer dan perusahaan yang dihadapkan pada target kerja yang ketat. Tipe ini cocok untuk sekolah rintisan atau sedang bermasalah. Pemimpin yang tegas diperlukan ketika berhadapan dengan situasi yang tidak solid, tidak efektif atau terancam.

3. Tipe Kepsek “Nyantai”
Ini adalah tipe kepemimpinan yang buruk dan paling umum terjadi di sekolah-sekolah pedesaan. Kepala sekolah memiliki jalinan hubungan baik dengan bawahan, siswa dan wali murid tetapi bukan dalam konteks memuluskan tercapainya tujuan sekolah.
Kepala sekolah semacam ini biasanya paling disukai bawahan. Meski tidak efektif, suasana sekolah biasa terasa kompak, karena hubungan baik tersebut lebih menonjol dari segi hubungan pertemanan, bukan relasi profesional.
Ciri paling umum dari tipe kepala sekolah ‘nyantai’ ini adalah ia tadinya merupakan guru paling berpengaruh di sekolah karena kemampuan berkomunikasinya, meski sebenarnya bukan guru terbaik. Penguasaan konsep kerja sepenggal-penggal, tapi banyak berbicara meski sebenarnya tidak fokus.
Selain itu dalam penguasaan managemen, administrasi, dan didaktik-metodik rendah, bahkan di bawah guru kebanyakan. Akibatnya, dia tidak mampu melaksanakan tugas-tugas supervisi, evaluasi, apalagi membimbing guru yang lain.
Tipe kepsek nyantai umumnya mempunyai kualitas kepemimpinan (leadership) yang rendah dan instan, sehingga disertai dengan terjadi kepemimpinan terbalik. Kepala sekolah justru segan dan tidak berani memberi instruksi pada bawahan, padahal seharusnya bawahan yang segan kepadanya.
Akan tetapi kepsek tipe ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan guru, siswa dan wali murid yang baik, sehingga sering kali mampu menutupi kelemahan sekolah. Ciri lainnya, managemen sekolah kurang efisien, karena suka mengadakan kegiatan yang berskala massive.
Sudah barang tentu kepemimpinan seperti ini tidak efektif. Arah program dan kualitas pembelajaran di sekolah tidak akan terfokus pada tujuan yang seharusnya ditetapkan dengan cermat.
Meski demikian, tipe kepemimpinan seperti ini bukan tidak ada gunanya. Kepemimpinan semacam ini biasanya dibutuhkan untuk kepentingan jangka pendek. Para pemimpin semacam ini biasanya dibutuhkan oleh para politisi, tapi bukan sekolahan.
Mereka mampu memobilisasi massa, seperti menggerakkan demonstrasi atau dukung mendukung pejabat. Pada tingkat tertentu mereka mampu memanipulasi emosi banyak orang hingga tanpa berfikir panjang tergerak mendukung atau menentang sesuatu.

4. Tipe Gambar/Simbol
Ini adalah tipe kepemimpinan paling buruk, tetapi banyak juga sekolah yang dipimpin oleh pemimpin semacam ini. Pemimpin hanya berperan sebagai gambar atau simbol belaka.
Keberadaannya seolah hanya sebagai syarat kelengkapan saja. Kepemimpinan semacam ini dapat dijumpai pada kepala sekolah dengan ciri-ciri,  seperti jarang berbicara mengenai urusan riil di sekolah, karena tidak memiliki konsep pengelolaan sekolah (zero vision) dan fokus pemikirannya tidak ke sekolah.
Tipe ini juga ditandai dengan pekerjaan ‘tanda tangan saja, karena secara riil tidak menguasai tugasnya, baik edukatif, managerial hingga administratif.
“Pada dasarnya tipe kepsek ini lebih nyaman berada di luar sekolah, dan merasa kurang hidup saat berada di sekolah. Ini aneh sekali bagi kami,” aku seorang guru SD di Kabupaten Ciamis.
Kepsek simbol ini, cenderung pasrah dan biasa mewakilkan tugas sepenuhnya pada orang lain. Dan yang paling sering dilakukannya adalah menghindari supervisi, evaluasi dan kurang suka ikut pelatihan (managamen, administrasi dan pembelajaran).
Ciri lain, ia kurang suka melakukan rapat dan evaluasi dengan guru, pegawai maupun stake holder sekolah yang lain, karena tidak tahu apa yang harus dibahas. Bahkan akhirnya ia jarang berinteraksi dengan siswa secara langsung, karena visi edukatifnya lemah.
Ia juga sering menunda-nunda pekerjaan, mencari-cari alasan, menyalahkan situasi, aturan atau orang lain karena pada dasarnya tidak mampu melaksanakan tugas, juga tidak berani mengatasi keadaan.
Sudah pasti, ini bukan tipe kepala sekolah yang ideal, sebab pada dasarnya pemimpin semacam ini adalah orang yang tidak siap memimpin.
Secara mental, mereka tidak memiliki kemampuan dan keberanian seorang pemimpin. Selain tidak efektif, pemimpin simbol menjadikan suasana sekolah cenderung tidak kondusif.
Itulah secara singkat empat tipe kepala sekolah. Kepsek di sekolah Anda termasuk tipe yang mana? Silahkan cocokan saja.
(ganesha/ausaid/nt)

Inilah Empat Tipe Guru Terbaik

Kualitas bangsa tergantung dari generasi penerus. Kualitas generasi penerus tergantung dari guru yang membinanya. Sebagus apapun sistem yang dibuat, namun ketika guru tidak mau memberikan yang terbaik maka sistem yang baik tadi sia-sia belaka. Metode pembelajaran, sistem pengajaran, metode pengajaran atau apapun itu, tanpa peran serta guru sebagai garis depan pembinaan negeri, tentu juga akan sia-sia.
...........................................
Lalu, bagaimana supaya kita bisa menjadi guru terbaik? Mengutip tulisan Dhony Firmansyah, seorang motivator Biologi di Indonesia (BioMotivator),  ada empat tipe guru yang bisa dikatakan sebagai tipe terbaik.

Pertama
Tipe guru yang baik, yaitu guru yang menjelaskan. Tipe guru seperti ini dimiliki oleh hampir semua sekolah di negeri kita. Tipe guru pertama ini mementingkan penyampaian ilmu, selesainya materi, namun tidak memperdalam sehingga dirinya tidak mengetahui secara pasti apakah siswa paham atau tidak. Karena dia hanya sekedar menjelaskan. Akhirnya, ilmu yang disampaikan hanya sekedar pengetahuan. Tidak berdampak pada kehidupan nyata.
Akibatnya, ilmu agama sebatas pengeta-huan. Departemen Agama misalnya, pernah diklaim sebagai departemen dengan tingkat korupsi tertinggi. Padahal di dalamnya penuh dengan orang yang mengerti agama. Namun sayang, karena agama hanya sekedar pengeta-huan, walhasil agama tidak dipraktikkan.

Kedua
Tipe guru yang lebih baik, yaitu guru yang mempraktikkan. Apa-apa yang diajarkan tidak hanya dijelaskan, namun juga diwujudkan dalam kehidupan nyata. Jika dirinya mengatakan, “Jangan membuang sampah sembarangan.” Dirinya adalah orang yang pertama melakukan. Jadi apa yang disampaikan sama dengan apa yang diperbuat.
Pelajaran bukan sekedar pengetahuan, namun juga harus dipraktikkan. Nah, tentu Anda pernah mendengar istilah pendidikan karakter, bukan. Pendidikan karakter ini berusaha mempraktikkan apa-apa yang disampaikan guru sebagai kebajikan dalam kehidupan.

Ketiga
Guru yang terbaik, guru yang terbaik adalah guru yang menginspirasi. Bukan hanya menjelaskan, mempraktikkan, namun ingin keadaan yang lebih baik. Bukan hanya ingin negeri ini bebas korupsi, namun ingin bagaimana masyarakatnya saling berbagi kebaikan. Dia ingin kehidupan yang lebih sukses, lebih hebat, lebih mulia dan lebih manfaat. Tipe guru seperti inilah yang bisa mengubah wajah negeri. Tipe guru inilah yang saat ini dinanti.

Keempat,  Sabar Menghadapi Murid
Seorang guru yang dicintai oleh anak didiknya adalah yang sabar dalam menghadapi mereka pada saat proses belajar mengajar. Kesabaran seorang guru akan membuat anak didik merasa nyaman dalam belajar. Tidak saja merasa nyaman, kesabaran seorang guru juga membuat anak didik mempunyai waktu yang cukup untuk lebih bisa memahami pelajaran yang dihadapinya. Inilah kunci yang sangat penting dalam meraih keberhasilan di dunia pendidikan.
Sabar seringkali dipahami dengan tidak tepat. Oleh karena itu, sebelum memahami persoalan sabar dalam mengajar ini, ada baiknya bagi kita untuk memahami arti sabar itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sabar mempunyai dua makna, yakni (1) tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; (2) tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu.
Berangkat dari pemahaman sabar berdasarkan kamus tersebut, seorang guru yang bisa sabar dalam mengajar ia melakukan dua hal penting yakni:
Tahan dalam Segala Keadaan
Menghadapi sikap anak didik yang tidak sesuai dengan harapan, tidak sedikit dari guru yang menunjukkan sikap tidak sabar. Sikap dari anak didik yang tidak sesuai dengan harapan itu bisa jadi berupa perilaku anak didik yang tidak memerhatikan pelajaran, melanggar kesepakatan, tidak mengerjakan tugas, atau bahkan tidak segera bisa menangkap pelajaran yang telah disampaikannya. Tidak sabar yang demikian biasanya ditunjukkan dengan sikap jengkel atau bahkan amarah. Inilah sesungguhnya tipe guru yang tidak tahan dalam menghadapi keadaan muid-muridnya.
Namun, bagi seorang guru yang bisa bersabar tentu akan mendapatkan hasil yang menyenangkan. Hal ini disebabkan para guru yang sabar mempunyai keyakinan bahwa hal yang tidak diinginkan dan yang terjadi pada anak didiknya tidaklah kekal. Cepat atau lambat perilaku anak didik yang tidak diinginkan tersebut pasti akan berubah. Apa yang terjadi pada anak didik sekarang tentu tidak akan terus-menerus terjadi dalam keadaan demikian, apalagi seiring dengan masa tumbuh dan berkembang anak didik. Apalagi, sang guru secara terus-menerus pula mendampingi anak didiknya dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, diyakini bahwa setiap anak didik sedang menjalani proses untuk menjadi lebih baik.
Di samping itu, tahan dalam segala keadaan atau sabar sangat diperlukan bagi seorang guru saat mendampingi anak didiknya karena dipercaya bisa menimbulkan energi positif. Hal ini bisa terjadi karena pada saat seorang guru membangun sifat kesabaran, ada proses harapan atau doa agar anak didiknya berubah menjadi lebih baik. Tentu akan berbeda jika seorang guru telah kehilangan kesabarannya, yang terjadi adalah rasa marah, apalagi bercampur aduk rasa jengkel, dan yang lebih menyedihkan adalah sang guru diam-diam mengumpat di dalam hati. Bila sudah begini, bukan lebih baik yang terjadi, malah semakin parah.
Di sinilah sesungguhnya sifat sabar dari seorang guru menjadi mutlak untuk dimiliki dalam mendampingi anak didiknya. Bukan sekadar ia akan menjadi guru yang akan dicintai oleh para muridnya. Akan tetapi, lebih dari itu, hal ini penting dalam rangka mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar.

Tenang atau Tidak Tergesa-gesa
Seorang guru yang mempunyai sifat sabar dalam mendampingi anak didiknya tentu akan bersikap tenang atau tidak tergesa-gesa. Hal ini penting sekali agar anak didik dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Sebab, daya tangkap setiap anak didik ketika mendengar penjelasan dari sang guru tentu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada anak didik yang hanya diterangkan dengan beberapa kalimat saja langsung sudah bisa memahami apa yang telah disampaikan oleh gurunya. Namun, ada juga anak didik yang membutuhkan waktu agak lama dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Anak didik yang agak lambat dalam menangkap dan memahami pelajaran ini tentu harus diperhatikan pula oleh guru. Pada saat yang seperti ini seorang guru dibutuhkan kesabarannya untuk menjelaskan dengan beberapa kalimat tambahan atau bahkan pengulangan kepada anak didiknya.
Setiap guru memang mempunyai target agar setiap dari pertemuan yang dilakukannya bersama anak didiknya dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Hal ini memang sudah seharusnya. Sebab, tanpa target untuk mencapai keberhasilan dalam belajar mengajar tentu apa yang dilakukan oleh seorang guru menjadi asal-asalan dan tidak terarah. Namun, dalam rangka untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar tentu dibutuhkan ketenangan dalam diri seorang guru agar proses belajar mengajar itu pun dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini, seorang guru tidak boleh tergesa-gesa. Justru ketergesaan yang dilakukan oleh seorang guru biasanya malah mengacaukan rencana yang sudah dirangcang dengan baik dalam rangka mencapai keberhasilan tujuan belajar mengajar.
Seorang guru yang selalu tergesa-gesa akan membuat anak didiknya tidak nyaman dalam mengikuti proses belajar mengajar. Ia merasa seperti dikejar-kejar untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang satu untuk menuju pekerjaan yang lain. Apalagi, pada saat yang seperti ini sang guru malah berkomentar, misalnya, "Mengerjakan begitu saja lambat amat, sih." Komentar yang seperti ini sungguh akan dirasakan tidak nyaman bagi anak didik.
Mengerjakan segala sesuatu dengan tenang atau tidak tergesa-gesa bukan berarti selalu lambat dalam melakukan pekerjaan. Tenang yang dimaksudkan di sini lebih kepada membangun kesabaran dalam proses yang sedang dijalaninya. Maka, seorang guru yang bisa tenang dalam proses belajar mengajar akan bisa memimpin jalannya belajar mengajar dengan baik. Anak didik pun dapat belajar dengan lebih berkonsentrasi. Dengan demikian, guru dan anak didik sama-sama bisa fokus untuk mencapai keberhasilan dalam belajarnya.
Itu dua hal penting yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam rangka membangun kesabaran ketika bersama anak didiknya. Ini adalah kunci yang penting agar seorang guru bisa lebih menikmati dan merasakan bahagia dalam menjalankan tugasnya. Hal ini bisa terjadi karena guru yang sabar bisa tenang dan menikmati proses belajar mengajar dengan baik. Sebaliknya, tanpa kesabaran seorang guru akan banyak mengeluh mengenai anak didiknya.
"Jika sudah begini, rasa optimisme pun tak bisa terbangun dengan baik," ujar seorang guru yang juga penulis, Akhmad Muhaimin Azzet.
Mengaitkan kesabaran dan rasa optimisme ini sebagaimana pemaparan di atas, jelas diketahui bahwa kesabaran yang dibangun oleh seorang guru adalah kesabaran dalam arti yang benar. Bukan kesabaran dalam arti mudah menyerah dan mengalah. Melainkan kesabaran yang dinamis dalam menyikapi segala persoalan dengan cara pandang dan berpikir yang positif. Tipe guru bersikap demikian, ia akan mendapatkan banyak sekali manfaat, yakni di samping akan dicintai anak didiknya, bahkan tak jarang hingga mereka lulus sekolah, juga sangat mendukung dalam meraih keberhasilan mencapai tujuan belajar mengajar.
Apakah Anda salah satunya?
(agus ponda/dnt)