Selasa, 07 Juni 2011

Emosi Guru Harus Dijaga

Siswa Kian Pintar “Mengadu”
Zaman makin canggih. Teknologi bisa membuat seseorang tersenyum gembira atau sebaliknya menangis sedih. Itu sebabnya, kita harus hati-hati mengghadapi kecanggihan teknologi, termasuk para guru. Dengan teknologi, salah-Salah guru terekspose ke publik karena ‘sebuah kelalaian’ .
......................................

Tugas guru adalah mendidik anak bangsa. Mendidik dengan sabar dan penuh tanggung jawab, namun tak jarang guru menghadapi situasi yang memaksanya emosional. Kesabaran hilang, yang ada kemarahan.
Kemarahan guru berpotensi muncul di dalam kelas atau pada saat pengajaran berlangsung. Biangnya juga tak jarang karena anak didik. Anak didik ‘nakal’ tidak mengerjakan tugas, gaduh, atau berlaku kurang sopan, ‘menggoda’ emosi guru. Bahkan, kritik atau sindiran anak didikpun bukan tak mungkin memicu retaknya emosionalitas seorang pendidik.
Bob Wall dalam bukunya berjudul “Coaching For Emotional Intelligence”, mengingatkan bahwa seseorang harus pintar mengasah emosi. Menurut Bob, langkah awal mengasah emosi dimulai dengan memahami diri sendiri. Apa saja kekuatan dan kelemahan diri sendiri adalah langkah awal dalam mengasah emosi orang lain.
“Dengan memahami diri sendiri, terutama titik-titik kelemahan yang bisa membangkitkan emosi (negatif) kita menjadi lebih siap, jika dikritik anak buah (atau dalam hal ini anak didik). Lalu reaksi apa yang kiranya muncul: malu, marah, atau defensifkah?” kata Bob.
Pemahaman ini juga perlu diikuti dengan memikirkan pengontrolan diri. Maksudnya, kalau kita tahu reaksi-reaksi yang muncul bagaimana kita mengontrol diri ketika emosi (negatif) itu muncul. Artinya, malu atau marah, itu boleh karena bersifat alami, tapi bagaimana menampilkan kemarahan atau rasa malu dengan cara yang benar.
Menurut Dewi Dewo, dalam tulisannya di aksiguru.org., selain karena faktor nakalnya anak didik, emosi guru memuncak juga bisa terjadi karena beban pekerjaan yang menggunung. Banyaknya materi pelajaran yang harus diajarkan membuat para guru seringkali merasa kehabisan waktu untuk menyelesaikan target paket yang harus diajarkan. Tapi, ini bukan alasan untuk menganggap para murid hanya sekelompok massa yang sama rata.
“Setidaknya, pasti ada satu atau dua murid yang memerlukan perhatian khusus. Anda bisa mulai dengan memperhatikan mereka yang sering menimbulkan keonaran, yang nilainya jelek, yang suka bolos. Bisa jadi, apa yang diperbuat berpangkal pada ketidak mampuan mereka mengungkapkan diri secara tepat.” Ungkap Dewi.

Hindari Kekerasan
Di kelas, emosi sering diidentikkan dengan kekerasan, baik suara (verbal) atau fisik. Ia bisa berbentuk perkataan yang keras, kasar, seronok, atau berbentuk gerak fisik yang tak terkontrol seperti menampar, memukul, menjiwir, menendang, mendorong, dan sejenisnya. Namun emosi pun sebenarnya seperti frekuensi volume suara yang bisa kita naikkan atau turunkan sesuai dengan kemauan mengendalikan omosi diri.
Sebagai seorang pendidik, hal yang sangat vital adalah memanajemen emosi menjadi daya yang positif. Jangan sampai emosi seorang pendidik menjadi bumerang bagi dirinya atau bahkan bagi dunia pendidik secara keseluruhan.
“Guru harus fokus pada tugasnya men-didik. Tapi mendidik itu jangan sampai mem-buat siswa tersiksa, tersakiti atau terani-aya,” ujar Ganjar M.Yusuf, anggota DPRD Ciamis pada media massa, baru-baru ini.
Intinya jelas, guru harus menghindarii perkataan yang bakal menyakitkan anak didik. Melukai perasaannya, atau menghindari perlakuan fisik yang melukai siswa, baik luka hati, termasuk juga luka fisik. Kontrol emosi perlu, jangan sampai maksud baik menjadi petaka karena salah cara. Jangan sampai maksud mendidik jadi salah karena kebablasan emosi.

Kian Gampang Terekspos
Guru yang sopan dan menyenangkan saat mengajar, jumlahnya sangat banyak, namun jarang terdengar ceritanya. Sebaliknya ketika ada satu dua orang guru yang lepas emosi, khilaf memarahi anak didik, sangat gampang terekspos ke publik.
Sekarang anak cenderung lebih banyak punya tempat mengadu. Bila ada masalah di sekolah, selain ke orangtua, juga mereka berani mengadu ke lembaga berwajib atau lembaga kepolisian, atau Komnas Perlindungan Anak, wakil rakyat dan lainnya.
Selain itu, saat ini para siswa sangat dekat dengan teknologi komunikasi dan informasi. Internet dan media massa, menjadi dua hal yang paling mudah digunakan atau ‘dikoneksi “ anak sekolah. Ketika ada hal yang tidak menyenangkan, menyakiti dirinya, merasa diperlakukan tidak adil, anak zaman sekarang lebih pintar ke mana ‘peristiwa atau kejadian itu’ harus dikirimkan. Terlebih mereka pun didukung alat canggih di tangannya, seperti handphone dengan berbagai fitur keren, atau laptop/neetbook, maka akses koneksi ke media menjadi hal yang enteng dilakukan.
Kita tak ingin, kepintaran anak didik kita menggunakan kecanggihan teknologi komunikasi, kian terlihat menonjol ketika ia berhasil ‘sending’ (mengirimkan) file rekaman saat guru berbuat khilap di depan mereka. Jangan sampai, “karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Hanya karena lemah mengontrol emosi, nama baik diri dan lembaga jadi tercoreng.
(apon/ganesha)

Dicari, Sekolah yang Benar-benar Berkualitas

Tahun ajaran baru segera datang. Sebagian masyarakat mulai berpikir untuk mencari dan memilih sekolah terbaik bagi anak-anaknya. Namun demikian, mencari sekolah yang baik dan bermutu bukanlah perkara gampang. Meski sudah berlebel, tetap harus hati-hati, jangan sampai salah pilih.
...................................
Untuk buah hatinya nyaman dan terjamin mendapatkan pendudikan berkualitas, akhir-akhir ini sebagian masyarakat mulai sadar soal mutu sebuah lembaga pendidikan. Tak aneh menjelang tahun ajaran baru, para orangtua terlebih dulu berani menyurvei berbagai sekolah untuk mengetahui fasilitas dan keunggulan yang ditawarkan.
Soal profil sekolah, terutama di tingkat SD, SLTP dan SLTA, masih sedikit sekolah yang berani mempublikasikan secara berimbang kondisi terakhir sekolah. Biasanya kalaupun ada publikasi ke masyarakat, yangmenonjol adalah soal kelebihan fasilitas, sementara kekurangan sisi lainnya tak pernah diketahui masyarakat.
“Untuk mendapatkan informasi detai sebuah sekolah memang sulit. Jujur saja, selama ini, publikasi mengenai sekolah yang bermutu di Indonesia memang jarang. Bahkan bisa dikatakan sama sekali tidak pernah dilakukan baik oleh instansi swasta, lembaga swadaya masyarakat, maupun oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sendiri. Dengan demikian, referensi masyarakat tentang kualitas sekolah-sekolah di Indonesia begitu minim. “ ujar HJ Sriyanto, seorang pengamat pendidikan di Yogyakarta.
Fenomena yang ada kini banyak sekali label-label sekolah, seperti SSN, SSI, SBI, sekolah plus, sekolah model, SBL dan lain sebagainya yang masih membingungkan masyarakat karena tak tahu apa arti di balik label-label tersebut dan apa yang membedakan sekolah dengan label yang satu dengan sekolah label yang lain.
Lanjut, Sriyanto, Pemerintah sebenarnya sejak tahun 2005 telah mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) tentang standar nasional pendidikan yang bisa menjadi acuan untuk menilai kualitas sebuah sekolah. Berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005 misalnya, ada delapan standar yang mesti dipenuhi dalam penyelenggaraan sekolah, yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Semestinya dengan acuan standar itu pemerintah bisa membuat penilaian terha-dap kualitas sekolah-sekolah dan mengu-mumkan ke masyarakat sehingga publik dengan mudah bisa menentukan sekolah yang dikehendaki. Selain itu, peta mutu pendidikan Tanah Air akan semakin jelas dan dengan demikian dapat diambil kebija-kan-kebijakan strategis untuk peningkatan mutu pendidikan,” kata Sriyanto.

Berkualitas Pasti Beda Biaya?
Saat ini masyarakat lebih banyak yang kenal ‘nama sebuah sekolah’, daripada kualitas sebenarnya dari sebuah sekolah. Mereka mulai terbuka bertanya sana-sini tentang sebuah sekolah, namun karena tak punya barometer penilaian yang pasti, mereka sebenarnya tidak banyak yang tahu pasti sekolah- sekolah mana saja yang telah memenuhi standar berdasarkan PP No 19/2005 tersebut. Bisa diprediksikan sekolah-sekolah yang memenuhi standar tersebut biasanya biayanya akan mahal. Ini karena, di negara ini, sekolah yang berkualitas telanjur identik dengan sekolah mahal. Namun, apakah sekolah yang bermutu selalu harus mahal? Masih adakah sekolah yang bermutu tapi tidak mahal?
Mungkin akan sulit mencari sekolah yang bermutu dengan biaya murah. Akan tetapi, dengan campur tangan, perhatian, dan dukungan berbagai pihak, bukan hal yang mustahil mewujudkan sekolah ber-mutu dengan biaya yang terjangkau. Sebagai inspirasi, ada banyak sekolah hebat yang terlahir dari keprihatinan atas situasi semacam itu. Sekolah yang dipra-karsai orang-orang yang memiliki kecintaan dan perhatian yang besar terhadap dunia pendidikan. Sriyanto mencontohkan, di Yogyakarta ada SD Mangunan yang digagas almarhum Romo Mangun, di Salatiga Bahrudin dengan Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibahnya.Sekolaah tersebut terbukti berkualitas, namun justru tidak dengan biaya mahal.

Kata ‘Gratis’ Korbankan ‘Kualitas’
Faktanya sekarang, yang menonjol adalah label sekolah gratis, bukan sekolah berkualitas. Ini tak lepas dari slogan yang terlanjur dilontarkan, yang konon tak jelas apakah dari pemerintah atau para politisi?
Para politisi dan para calon bupati/walikota dan bahkan calon gubernur kebanyakan telanjur menggunakan istilah pendidikan gratis ketika berkampanye untuk menduduki posisinya masing-masing. Pendidikan gratislah yang paling menjadi terkenal beberapa tahun terakhir ini. Dan lima tahun terakhir ini pendidikan gratis banyak dikumandangkan untuk berkampanye para politisi, bupati/walikota dan bahkan gubernur dalam rangka merebut simpati para pemilihnya.
Faktanya tak sedikit para bupati/walikota atau gubernur yang tidak menepati janji kampanyenya. Isu pendidikan gratis justru hanya membelenggu sekolah sebagai akibat minimnya pendanaan operasional di sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang menjadi sasaran wajib belajar. Mereka, para bupati/walikota dan gubernur yang masuk golongan ini hanya mengandalkan besarnya subsidi dari pemerintah pusat yang sebenarnya sejak awal didesain hanya untuk membantu pemerintah daerah.
Sekali lagi dana dari pemerintah pusat itu hanyalah bantuan. Karena hanya bantuan, maka namanya pun juga menjadi: Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Besaran BOS sebenarnya selama ini hanya cukup untuk menutup biaya operasional sekolah sebesar sepertiga saja. Kecuali, di sekolah dasar di desa-desa, memang BOS sudah bisa menutup semua biaya operasional sekolah. Namun, untuk sekolah yang berada di kota tidak cukup BOS untuk menutup semua biaya operasional sekolah.
Plt Dirjen Pendidikan Dasar Kemdiknas, Prof. Dr. Suyanto, PhD, mengatakan kelompok Pemda yang hanya mengandalkan BOS dari pemerintah pusat untuk menepati janji akan melaksanakan pendidikan dasar gratis inilah yang menjadi persoalan. Sekolah sudah telanjur tidak boleh memungut sumbangan dari masyarakat, sedang pemda sendiri tidak mengalokasikan sejumlah dana untuk membiayai biaya operasional sekolah berdampingan dengan BOS dari pemerintah pusat. “Akibatnya kualitaslah yang menjadi korban di sekolah-sekolah yang diklaim pemda harus gratis itu.” Ujar Suyanto.
Kalau sudah begini lalu bagaimana baik-nya masyarakat memilih sebuah sekolah un-tuk kelangsungan pendidikan anak-anaknya?
Mungkin ketika waktu sudah mepet, tak ada salahnya masyarakat memperhatikan beberapa faktor dari sebuah sekolah. Secara umum sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang memiliki visi dan misi yang jelas serta memiliki manajemen yang baik. Sekolah berkualitas yang mampu menghadirkan suasana yang menyenangkan bagi para peserta didiknya, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Bagaimana mendapatkan informasi ter-sebut? Di samping melalui informasi di mas-yarakat, mereka bisa mengakses melalui media informasi seperti internet, brosur-brosur, surat kabar, tabloid atau majalah, televisi, radio atau media-media lain yang ada. Kita dapat mengkaji, menganalisa, menimbang, memilih dan kemudian memutuskan memilih sebuah sekolah, jangan fokus hanya pada selogfan sekolah gratis, tapi sekolah berkuaitas.
(ganesha)

Perpisahan Sekolah Kian Mewah

MENJELANG akhir tahun ajaran 2011, semua sekolah ‘mau tak mau’ harus menggelar acara perpisahan bagi peserta didik di kelas akhir. Ini sudah mentradisi. Benarkah kini acara perpisahan cenderung jadi adu gengsi dan pertunjukan hedonisme?
........................................................................................

Tinggal sekitar sebulan lagi, mulai tingkat Pra SD, SD, SMP, hingga tingkat SMA, akan melaksanakan acara perpisahan sekolah. Event ini seolah telah wajib digelar sebab bakal tak afdol bila melepas anak kelas akhir tanpa upacara perpisahan.
“Ya tentu kesannya aneh, saat awal-awal penerimaan siswa baru ada upacara dan kegiatan penyambutan buat kita, masak ketika sudah lulus sekolah tak pakai acara pelepasan?” ujar seorang siswa SMA di Ciamis.
Pihak sekolah juga tak bisa mengelak bila anak didiknya yang hendak meninggalkan almamaternya ingin dilepas dalam sebuah acara. Perpisahan sekolah penting sebagai akhir sebuah kenangan seorang siswa menempuh pendidikan di sebuah sekolah.
“Demi kebahagiaan anak, saya setuju ada perpisahan sekolah. Masalahnya jangan sampai perpisahan sekolah membuat orangtua kerepotan bahkan susah,” kata Esih memperingatkan pihak sekolah. Esih, wali murid yang anaknya baru lulus UN SMA.
Lanjut Esih, atas nama perpisahan, biasanya yang paling risau adalah para orangtua siswa. Bukan tidak senang melihat anak gembira. Tapi persoalannya, uang perpisahan terkadang tidak sesuai kantong keluarga. Keluhan ini tak jarang dilontarkan sejumlah wali murid.
Kekhawatiran biaya sangat dirasakan para orangtua siswa di kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Menurut mereka, biaya perpisahan memang akan sangat tergantung tempat penyelenggaraan, tetapi mayoritas orangtua murid minta acara digelar di lingkungan sekolah saja, atau paling tidak masih di wilayah sekitar sekolah. “Kalau di luar kota harus mengeluarkan biaya ratusan ribu rupiah. Jadi, cukup di lingkungan sekolah agar tidak memberatkan beban orangtua khususnya orangtua tidak mampu,” kata Purwanto, orangtua murid yang anaknya bersekolah di SMP negeri di kawasan Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Tak pelak, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo diminta supaya melarang sekolah mengadakan perpisahan di luar kota supaya tidak menimbulkan kecemburuan sosial dengan siswa sekolah lainnya.
“Untuk biaya hidup sehari-hari saja kini makin berat, terutama harga-harga sembako yang menggila. Padahal penghasilan kami justru tidak naik,” kata Purwanto.
Kendati belum menerima acara perpisahan putri sulungnya, Purwanto maupun orangtua peserta didik lainnya amat berharap pihak sekolah dan komite sekolah bersikap arif dengan kondisi sekarang yang makin terjepit. Dengan kata lain, janganlah hanya sekedar gengsi atau untuk menaikkan pamor sekolah perpisahan dipaksakan di luar kota. “Kalau acaranya (perpisahan) di luar kota gratis sih nggak apa-apa, tapi biasanya orangtua terpaksa harus merogoh kocek,” jelasnya.

Sebenarnya Tidak Wajib
Dari Sumatera Barat, Kadis Pendidikan Solok Selatan, Hamudis menegaskan bahwa acara perpisahan sekolah boleh saja dilakukan, sepanjang memperhatikan sedikitnya tiga hal. Pertama, tidak ada paksaan kepada siswa, kedua tidak memberatkan orangtua siswa, dan ketiga, apabila acara perpisahan ke luar daerah harus ada yang bertanggung jawab penuh.
“Untuk acara perpisahan ke luar daerah, juga mesti mengajukan izin kepada Disdik. Dinas akan memberi rekomendasi, sepanjang izin yang diajukan juga melampirkan persetujuan orangtua siswa,” tegas Hamudis.
Menurut Hamudis, acara perpisahan yang paling memberatkan orangtua siswa, yaitu bila digelar di luar daerah. Terhadap hal itu, ia mengimbau dan me-warning pihak sekolah agar tidak terlalu memaksakan dilaksanakannya acara tersebut. “Acara perpisahan sebenarnya hal yang tidak wajib. Jadi jangan diwajibkan. Kecuali kalau para orangtua siswa tidak merasa keberatan,” ujarnya.

Tren Terus Bergeser
Mansyur Semma, seorang observer gaya hidup dan dosen Universitas Hasanuddin Makasar, melihat secara nasional, perpisahan sekolah terus mengalami pergeseran tren. Dari awalnya sederhana namun sakral, berubah ke mewah namun berbalut konsumtif dan hedonis.
“Kian hari gaya hidup metropolis yang konsumtif dan hedonis, memang terus meracuni institusi pendidikan. Padahal gaya hidup tersebut sangat kapitalistik dan cenderung mengadopsi gaya hidup yang liberal. Salah satu buktinya fenomena tersebut dengan mudah diamati pada acara perpisahan sekolah yang kerap dilakukan setiap akhir tahun ajaran,” ujar Semma.
Memang tidak semua sekolah mampu menyelenggarakan acara perpisahan yang mewah, mahal, dan bergaya kapitalis. Ada sekolah yang menyelenggarakan acara perpisahan sangat sederhana. Dilakukan di sekolah, tidak menyewa gedung, tidak mendatangkan artis, serta hanya ditutup dengan doa, nasihat-nasihat perpisahan, dan hiburan kreasi orisinil siswa. Atau menampilkan seni tradisi lokal.
Sayangnya, ada anggapan sekolah-sekolah yang menyelenggarakan acara perpisahan yang sederhana tersebut adalah sekolah-sekolah yang bukan sekolah favorit, bukan sekolah model atau unggulan. Pada umumnya mereka berada di pinggiran kota dan pedesaan.
Sebaliknya sekolah-sekolah yang sudah terjebak gaya metropolis adalah sekolah-sekolah favorit yang ada di perkotaan. Di Jakarta dan Bandung misalnya, ada sekolah-sekolah favorit menyelenggarakan acara perpisahan di hotel dan gedung-gedung mewah, mengundang artis dan menampilkan berbagai acara hiburan serta acara-acara yang cenderung bebas dan glamor. Salah satu acara yang relatif glamour adalah acara prom night.
“Dalam acara prom night tersebut, siswa datang dengan dress code yang sudah ditentukan, wajib membawa pasangan, lalu dalam puncak acara ada penentuan `raja dan ratu prom’,” kata Semma.
Kata Semma, acara ini merupakan tradisi anak-anak sekolah di Barat yang liberal dan kapitalis, tentu sangat bertentangan dengan kesahajaan nilai-nilai budaya ketimuran Indonesia yang normatif dan religius. Acara seperti ini kian marak diadopsi di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. “Bukan tidak menutup kemungkinan acara seperti itu sudah diadopsi di beberapa kabupaten/kota. Hebatnya, acara tersebut tidak hanya dilakukan oleh siswa SMA, tapi juga sudah diadopsi oleh siswa-siswa SMP. Dapat dibayangkan bila siswa-siswi SMP bergaun dewasa dan harus ada pasangan. Apakah mereka tidak dipaksa dewasa dan terlalu dini mempraktekkan gaya hedonis?” kata Semma gundah.
Apakah rangkaian acara glamor tersebut direstui oleh kepala sekolah dan guru-guru? Menurut Semma, diperkirakan ada kepala sekolah yang mengetahui tapi tidak merestui, dan rangkaian acara tersebut berlangsung tanpa kehadiran guru-guru.
Selain itu, ada acara perpisahan sekolah yang dilakukan di luar kota hingga ke luar negeri. Ada SD favorit yang menyelenggarakan acara perpisahan di pulau Bali. Semua murid wajib ikut dan boleh ditemani oleh orang tua, sepanjang orang tua mampu mengeluarkan biaya ekstra. Agenda perjalanan mereka diatur oleh biro perjalanan tertentu.
“Ada seorang anak yang mengaku sangat menikmati perjalanan tersebut. Tubuhnya dipenuhi tato sebagai simbol dan bukti bahwa ia pernah ke Bali. Syukurlah, tato tersebut bukan tato permanen karena akan memudar dalam beberapa minggu,” kata Semma.
Lanjut Semma, ada pula siswa sekolah-sekolah favorit di ibukota melengkapi acara perpisahan dengan berlibur ke pulau Batam lalu menyeberang ke Singapura. Bahkan ada yang melanjutkan hingga ke Australia dan negara-negara lainnya. Seolah tamat sekolah merupakan awal untuk pelesiran dan bersenang-senang menikmati kekayaan orang tua. Patutkah ditiru?
(ap/ganesha/berbagai sumber)

Kamis, 19 Mei 2011

OSN Bukti Kerasnya Daya Saing Siswa

Dalam satu bulan terakhir ini di seluruh Indonesia, marak dilangsungkan kegiatan Olimpiade Sains Nasional (OSN). Para siswa bersaing menjadi yang terbaik, di tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Benarkah nilai plus dari kegiatan ini luar biasa?
..................................................
Tak terkecuali di Priangan Timur. Tepatnya di Kabupaten Ciamis. Disdik Kab. Ciamis baru-baru ini menggelar Olimpiade Sains Nasional (OSN). OSN untuk tingkat SLTA, bertempat di SMA Negeri 2 Ciamis.
Menurut Kasi Kurikulum SMA/SMK Dinas Kabupaten Ciamis, Dra. Laela Maya Nurhayati, M.Sc., kegiatan OSN ini sebagai salah satu upaya meningkatkan daya saing siswa dalam menyongsong masa depan bangsa.
“OSN tujuannya memotivasi siswa SMA untuk berkreasi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai minat dan bakatnya.” ujar Laela.
Laela melanjutkan, Kegiatan Olimpiade Sains Nasional merupakan program Kemendiknas yang dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, tingkat Provinsi sampai tingkat Nasional. Di ajang inilah akan terlihat betapa kerasnya persaingan para siswa meraih tempat terbaik di daerahnya.
Kegiatan lomba ini menurut Laela, berlangsung selama 2 hari, dengan materi lomba, program studi IPA (Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi) dan program materi IPS (Komputer, Ekonomi, Astronomi dan Kebumiaan).
“Lomba OSN ini melibatkan 29 sekolah tingkat SMA, dengan jumlah peserta lomba untuk program studi IPA 162 orang dan program studi IPS 164 orang”terang Laela.
Sementara itu dalam sambutannya Kasi SMA, Drs. H. Dede Hermawan, MM, mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kab. Ciamis, menyambut baik kegiatan OSN dan mengucapkan selamat melaksanakan seleksi. “Semoga dengan terselenggaranya kegiatan lomba OSN ini dapat memacu meningkatkan semangat belajar anak didik sehingga lebih berprestasi” ungkapnya. Hadir pada pembukaan lomba OSN ketua MKPS dan jajaran pengawas Disdik Kab. Ciamis.

Bikin Bangga
Sejarah telah mencatat bahwa lewat ajang OSN telah melahirkan juara-juara sains Indonesia yang mampu menjadi juara di tingkat internasional untuk bidang Fisika, Matematika, Biologi, Kimia, Geosains dan Komputer.
Konon kegiatan OSN merupakan implementasi salah satu kebijakan pendidikan nasional yaitu peningkatan mutu, relevansi pendidikan dan peningkatan daya saing serta bertujuan untuk menjaring siswa-siswa yang unggul dibidang sains, menumbuh-kembangkan sikap kompetitif yang sehat di kalangan siswa dan memacu peningkatan mutu pendidikan di bidang sains dan teknologi. Melalui OSN diharapkan pula terbangun keseimbangan antara ilmu dan moral sehingga siswa memiliki integritas dan moral yang terbangun dari nilai kejujuran, kerja keras dan saling menghargai dalam setiap perlombaan.
Sementara itu Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar Menengah (Mandikdasmen), Prof. Suyanto, pernah mengatakan bahwa OSN ini merupakan event besar yang dilaksanakan Depdiknas. "OSN ini luar biasa. OSN sangat dibanggakan oleh sekolah dan pelajarnya. Bahkan orang tua pun ikut bangga karena anak-anaknya ikut dalam OSN," jelasnya.

Perlu Dukungan Pemerintah Daerah
OSN saat ini bukan sekedar ajang kompetesi prestasi semata tetapi telah menjadi sebuah pertarungan prestise (kebanggaan) dari siswa, sekolah, dan daerah/propinsi. Prestasi yang dicapai di OSN berdampak luas, antara lain menjadi motivasi bagi siswa lain untuk lebih meningkatkan prestasi belajarnya, citra sekolah di mata masyarakat lebih meningkat, lebih prestisius dan tercipta budaya mutu untuk lebih meningkatkan kinerja dan prestasi sekolah. Prestise Dinas pendikan propinsi juga diperoleh lewat prestasi yang dicapai di OSN bahkan menjadi nilai plus dari sebuah keberhasilan kinerja dan proses pembinaan. Pada saat yang sama image daerah pun dengan sendirinya akan meningkat dan ini akan berdampak dalam peningkan kinerja di daerah.
Namun yang harus diperhatikan adalah komitmen dan good will dari semua pihak pada OSN ini. Bila ada dukungan penuh dari pemerintah daerah, tentu akan memberikan kontribusi yang berarti bagi pencapaian prestasi dan prestise daerah itu sendiri, sebaliknya, bila OSN murni hanya hajat dinas pendidikan/kemdiknas, tanpa dukungan pemerintah daerah, jangan banyak berharap hasilnya akan lebih optimal mengangkat nama daerah.
(nung/ap/gns)

Rabu, 11 Mei 2011

Guru Perempuan Kurang Berambisi Memimpin Sekolah

Yayasan Edukasia Plus baru-baru ini mengadakan Seminar dan Lokakarya, di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Jabar. Dalam kegiatan tersebut salah satunya terungkap bahwa mayoritas tenaga guru di Indonesia terdiri dari kaum Hawa. Namun sayang mereka dinilai lemah dalam hal kepemimpinan. Bahkan hampir tak berambisi tampil menjadi pemimpin di lembaga pendidikan.
……………………………..

Masih dalam rangka memeriahkan hari Kartini dan Hardiknas, seminar dan lokakarya ini digelar. Tak tanggung-tanggung, narasumber seminar dan lokakarya ini menghadirkan, Ellin Rozana dari Institut Perempuan, Iwan Hermawan, S.Pd, MM dari FGII, Prof. Dr. K.H Miftah Faridl, Ketua MUI Jabar, dan Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP anggota DPR RRI Komisi X, dengan mengambil tema “Dampak Partisipasi Perempuan di Ruang Public dan Politik Terhadap Kualitas Peradaban Bangsa”. Acara seminar ini di hadiri kalangan mahasiswa PLS UPI Bandung, LSM, Guru Paud dan organisasi Islam.
Menurut satu pengurus Yayasan Edukasia Plus, Dra. Lilis Hasanah, kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan perempuan yang berkualitas serta memberikan pemahaman kepada perempuan yang berkiprah di dunia kerja, termasuk mereka yang disebut sebagai pendidik.
“Bagaimanapun perempuan itu, ada plus dan minusnya dalam kiprahnya sebagai wanita pekerja tetapi yang penting perempuan ketika memilih berkiprah di luar rumah supaya tidak melepaskan kodratnya sebagai perempuan,” jelas Lilis.
Menurut Lilis, bagi perempuan sekarang menjadi satu kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Tidak ketinggalan pula ibu-ibu lansia dalam menghadapi tantangan globalisasi sekarang ini, tentu saja dengan kemampuan yang relative mereka miliki, perempuan bebas mengaktualisasikan dirinya.”Ketika perempuan berkualitas ,diharapkan menyiapkan anak-anak yang berkualitas pula”, terang Lilis.

Tak Ada Larangan Bekerja
K.H.Miftah Farid, menyoroti tentang eksistensi perempuan di segala bidang. Menurutnya setiap Allah berfirman selalu di dahului dengan kata-kata “hai orang-orang yang beriman” dan bahkan ketika turun perintah berjihad. Oleh karena itu yang mulia di sisi Allah adalah orang beriman baik perempuan atau laki-laki. Pria dan wanita harus maju tapi tidak keluar dari aturan karena Islam mempunyai aturan khusus bagi wanita dan laki-laki, bahkan bagi perempuan sangat diistimewakan.
“Kalau perempuan punya kemampuan yang lebih sesuai dengan disiplin ilmunya kenapa tidak diberikan jabatan kepadanya karena barang siapa menyerahkan pada sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuannya tidak pantas, maka tunggulah kehancurannya”,papar K.H. Miftah Farid.
Menurut K.H.Miftah Farid, banyak tokoh-tokoh pejuang Islam berasal dari kaum perempuan. Jadi tidak ada larangan khusus untuk seorang perempuan bekerja atau berniaga. Kalaupun tidak, perempuan itu bisa menjadi pendorong semangat buat suami dalam menunaikan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarganya, atau mendidik anak-anaknya supaya menjadikan generasi yang unggul.
Sementara itu Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, memaparkan tentang estetika pembangunan. Menurut Hetifah, pembangunan itu untuk apa dan untuk siapa. Kalau tujuan pembangunan berperspektif perempuan berarti meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan perempuan, meningkatkan peranan perempuan dalam berbagai bidang pembangunan, memenuhi hak-hak dasar perempuan juga melindungi perempuan dari berbagai tindakan diskriminasi dan kekerasan.
Pemerintah pun mempunyai kebijakan untuk perempuan, yaitu dari peraturan perundangan berupa (UU, Kepres, NSPK, Permen, Kepmen) dari Kelembagaan (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Komnas perempuan, Komisi perlindungan anak Indonesia dan P2TP2A), dari Penganggaran (Anggaran berspektif gender) dan Pendataan (penyediaan data terpilah).
Tapi pada kenyataannya masih kita jumpai perlakuan tak ramah pada perempuan di lapangan, sebagai contoh penyiksaan TKI Perempuan yang banyak terjadi di luar negeri. Di kantor perempuan belum banyak mendapatkan posisi strategis, dan di ranah politik pun perempuan masih di kotak-kotakan kaum pria. “Meskipun di sisi representasi ada peningkatan, di sini kita dilihat dari kematangan politik bukan gelar yang di ke depankan,” papar Hetifah.
Hetifah memberikan motivasi kepada perempuan untuk meningkatkan kualitas dirinya sehingga bisa menyaingi kemampuan para pria untuk bersama-sama bekerja demi kemajuan bangsa.

Di Ruang Publik & Politik
Sedangkan dari Institut Perempuan Ellin Rozana, menyampaikan mengenai peran perempuan merambah ruang publik dan politik. Menurut Ellin, awal mula peran perempuan di ranah politik adalah pada tahun 1928, ketika sekitar 30 organisasi perempuan mengikuti kongres perempuan di Yogyakarta yang di prakarsai oleh tiga tokoh perempuan Ibu Suwardi (Nyi Hajar Dewantara), Ni Suyatin dan Ny. Sukonto.
Menurut Ellin R.A. Kartini adalah pelopor idealisme. “Perlu kita hargai karena pada saat itu beliau sudah bisa membaca dan menulis bahkan mempunyai link teman-temannya di Belanda.” Kata Ellin.
Kata Ellin, latar belakang mengapa perempuan merambah ranah publik dan politik, tak lain agar mereka mampu mendorong program-program perempuan, mendorong lahirnya kebijakan yang melindungi perempuan dan menghormati HAM perempuan dan lainnya yang mengarah pada kemajuan dan penghargaan pada perempuan.
Namun sayang, lanjut Ellin, selama ini banyak hambatan atas partisipasi perempuan, diantaranya nilai-nilai patriarkis, pentafsiran ajaran yang bias patriarki, aturan hukum yang bias gender serta kendala-kendala kelembagaan yang masih menghalangi akses perempuan di ranah publik dan politik. Selain itu, juga banyak lagi kendala lainnya.

Mayoritas Guru, Perempuan
Dari Forum Guru Independen Indonesia, Iwan, menyampaikan permasalahan guru perempuan di Indonesia, menurut Iwan guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
“Jumlah guru yang dimiliki pemerintah sebanyak 2,7 juta guru dan 59%-nya adalah perempuan. Saat ini kalaupun masih ada diskriminasi pada guru perempuan lebih disebabkan karena faktor internal dan eksternal dari guru perempuan itu sendiri”, terang Iwan.
Iwan melanjutkan, dari sisi internal adanya paradigma berpikir yang konservatif atau masa bodoh dengan apa yang terjadi di lingkungan sekolah. Kurangnya mempelajari regulasi keguruan maupun pendidikan sehingga tidak mempunyai alasan untuk menuntut haknya, dan kurang adanya motivasi untuk berorganisasi. Dari eksternal adanya tata nilai agama, sosial budaya yang umumnya lebih mengutamakan laki-laki dari pada perempuan. Adanya bias budaya yang seolah-olah perempuan bukan sebagai pencari nafkah dan dilihat dari kemampuan fisik bahwa kaum wanita adalah kaum yang lemah. “Padahal dalam PP 74 tahun 2008, Guru mempunyai kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan, dalam artian guru di sini guru laki-laki dan perempuan sama haknya,” ujar Iwan.
Akhirnya Iwan menyarankan kepada guru perempuan harus, memiliki paradigma berpikir kritis, menguasai regulasi keguruan dan pendidikan, harus mempunyai motivasi dalam berorganisasi dan berambisi merebut kepemimpinan di sekolah.
(nung/ganesha)

Hardiknas Pecahkan Rekor MURI

Peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) pada tanggal 2 Mei 2011 terbilang istimewa. Pasalnya pada peringatan tersebut sekitar 12.250 beasiswa diberikan PT Jamsostek kepada pelajar berprestasi. Pemberian beasiswa sebesar ini akan memecahkan rekor MURI.
...............................................
"Kami membagikan sebanyak 12.250 beasiswa serentak di seluruh Indonesia pada peringatan Hardiknas kepada para pelajar berprestasi tingkat SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi," kata Sekjen Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Dodi Nandika, saat jumpa pers di Gedung Kemdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta.
Dodi menjelaskan usai upacara peringatan Hardiknas ada MoU Kemendiknas dengan Microsoft dan Intel, penyerahan bantuan PT Proton Edar Indonesia ke SMK, di samping penyerahan beasiswa PT. Jamsostek.
Ia memastikan bahwa secara keselutuhan rangkaian kegiatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini melibatkan peran swasta.
Selain itu, acara dengan tema 'Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa' ini pun mengangkat duta-duta pendidikan nasional guna memajukan dunia pendidikan di Indonesia.
"Mendiknas Mohammad Nuh juga menyerahkan arsip Kemdiknas ke arsip Nasional, dan pengukuhan duta-duta pendidikan. Orang-orang tersebut tidak harus dari public figure, tapi yang paling penting harus punya komitmen yang jelas terhadap jalannya pendidikan informal maupun informal. Serta kami akan memberikan apresiasi terhadap institusi yang memajukan dunia pendidikan," kata pria berkaca mata ini.
Rangkaian kegiatan lainnya adalah penyerahan Ensiklopedia Penerbangan PT Garuda Indonesia, peluncuran Sabak Elektronik PT Balai Pustaka.
Kata Dodi, tujuan peringatan, adalah memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan tentang pentingnya/strategisnya pendidikan bagi peradaban dan daya saing bangsa. Selain itu, sebagai pencanangan pendidikan karakter dan Gerakan Pendidikan Anak Usia Dini dalam rangka mempersiapkan 100 Tahun Indonesia Merdeka (2045).
"Tujuan lainnya untuk mengkomunikasikan atau mensosialisasikan kebijakan dan hasil-hasil pembangunan pendidikan nasional."
Menurut Dodi, Hardiknas yang diperingati setiap tanggal 2 Mei tidak semata dimaksudkan untuk mengenang hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, selaku Bapak Perintis Pendidikan Nasional. Namun lebih merupakan sebuah momentum untuk makin memperkokoh kesadaran dan komitmen bangsa akan pentingnya pendidikan bermutu bagi masa depan bangsa.
"Jadi tidak sekedar memperingati tokoh, itu sekedar pijakan awal, tetapi lebih penting upaya kita mengingatkan pentingnya pendidikan bermutu bagi bangsa," katanya.
Dodi menjelaskan, peringatan Hardiknas di lingkungan Kemdiknas dilangsungkan pada 2 Mei 2011 pukul 7.30-9.00 WIB. Kegiatan dirangkai dengan pemberian Satya Lencana Karya Satya kepada 84 pegawai di lingkungan Kemdiknas, yang berdedikasi mengabdikan diri dengan masa kerja 10,20, dan 30 tahun.
Untuk memeriahkan acara tersebut, berbagai acara akan digelar. Diantaranya lomba-lomba ilmiah serta pameran pendidikan.
"Ada juga nyekar ke Makam Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta," tutupnya.
Selain itu Mendiknas menghimbau agar Gubernur/Bupati/Walikota juga berkenan melakukan ziarah ke taman makam pahlawan di wilayah masing-masing.

Pendidikan Karakter
Sementara itu menurut Mendiknas, Muhammad Nuh, Pendidikan karakter menjadi tema peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini.
“Tema peringatan Hardiknas tahun ini adalah Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa. "Subtema adalah Raih Prestasi, Junjung Tinggi Budi Pekerti,” kata Nuh.
Mendiknas mengatakan, pendidikan karakter tidak hanya untuk membangun karakter pribadi berbasis kemuliaan semata, tetapi secara bersamaan juga bertujuan membangun karakter kemuliaan sebagai bangsa, yang bertumpu pada kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara.
Dengan tema tersebut, peringatan Hardiknas diharapkan tidak hanya sebagai kegiatan seremonial seperti biasanya, tetapi harus diwujudkan dalam kegiatan nyata.
Ditambahkan Mendiknas, Hardiknas adalah upaya mengampanyekan pentingnya pendidikan bermutu bagi kejayaan bangsa. "Mudah-mudahan, segala upaya dunia pendidikan menjadi bagian dari masyarakat luas," kata M.Nuh.
Selain itu, peringatan Hardiknas tahun ini juga bertujuan untuk menggugah komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk mencanangkan pendidikan karakter. Kemdiknas mencanangkan pendidikan karakter melalui gerakan pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai persiapan menyambut 100 tahun kemerdekaan Indonesia serta mengomunikasikan kebijakan dari hasil pembangunan pendidikan nasional. Acara puncak peringatan tersebut akan dilaksanakan pada 20 Mei mendatang di JICC Expo, Kemayoran, dan rencananya akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
(gns/dari berbagai sumber)

Kelas Ribut? Jangan Melulu Salahkan Siswa!

Tak jarang terjadi, saat jam pelajaran berlangsung suasana kelas malah ribut. Siswa banyak bicara atau bergerak tak sesuai tujuan pengajaran. Guru jengkel, siswa pun disalahkan.
.....................................
DALAM konsep pembelajaran dikenal prinsip bahwa semua pengajaran pasti bertujuan. Ini berarti bahwa dalam proses pembelajaran harus diupayakan agar semuanya bertujuan bagi terselenggaranya pembelajaran yang efektif, baik yang terkait dengan komunikasi maupun benda-benda di kelas.
Masalah timbul ketika didapat siswa ribut di dalam kelas. Guru harus bijaksana, mungkin siswa ribut biasanya ada sesuatu yang tidak beres dengan proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru. Atau, ada sesuatu yang lebih menarik bagi siswa dibanding proses pembelajaran. Itu sebabnya, maka hal yang membuat siswa lebih tertarik itu harus didayagunakan untuk mendukung proses pembelajaran.
“Guru harus mampu membaca suasana hati siswa ketika mengajar, kemudian menyesuaikan aktivitas pembelajaran dengan suasana hati siswa. Ini penting, agar proses pembelajaran berlangsung mulus,” ujar Heni, seorang guru Ciamis saat dimintai pendapat.
Menurut Heni, idealnya, guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan suasana hati setiap siswa di kelas. Namun ini agaknya tidak mungkin. Oleh karena itu cukuplah jika guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan suasana hati sebagian besar siswa di kelas.

Manajemen Kelas Ala Carolyn
Berkaitan dengan ‘tidak beresnya’ sebuah kelas, pakar manajemen kelas, Carolyn Evertson, membedakan antara intervensi minor dan moderasi dalam menangani perilaku siswa bermasalah.
Menurut Carolyn, beberapa masalah hanya membutuhkan intervensi minor atau kecil. Masalah-masalah yang kerap muncul biasanya mengganggu aktifitas belajar di kelas. Misalnya, murid mungkin ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin, bercanda sendiri, memainkan HP, atau memakan permen di kelas.
“Strategi yang efektif antara lain guru harus menggunakan isyarat non verbal.
Jalin kontak mata dengan siswa. Kemudian beri isyarat dengan meletakkan telunjuk jari di bibir anda, menggeleng kepala, atau menggunakan isyarat tangan untuk menghentikan perilaku tersebut,” kata Carolyn.
Dalam kondisi itu guru harus terus melanjutkan aktifitas belajar.
Lanjut Carolyn, biasanya terjadi suatu jeda dalam transisi aktifitas dalam kegiatan belajar mengajar, di mana pada jeda tersebut murid tidak melakukan apa-apa. Pada situasi ini, siswa mungkin akan meninggalkan tempat duduknya, mengobrol, bercanda, dan mulai ribut. “Strategi yang baik adalah bukan mengkoreksi tindakan mereka, tetapi segera melangsungkan aktifitas baru berikutnya,” pesannya.
Fenomena yang paling sering dilakukan guru adalah mendekati siswa yang ribut.
Saat siswa mulai bertindak menyimpang. Guru cukup mendekatinya, maka biasanya dia akan diam.
Penting pula guru terus mengarahkan perilaku siswa. Jika siswa mengabaikan tugas yang diperintahkan guru, sebaiknya siswa diingatkan tentang kewajiban itu. Guru bisa berkata, “Baiklah, ingat, semua harus menyelesaikan soal matematika ini.”
Suasana ribut juga bisa muncul ketika siswa melakukan kesalahan kecil saat tidak memahami cara mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya guru harus memantau siswa dan memberi petunjuk jika dibutuhkan.
Selanjutnya, Carolyn pun memberi tips yang agak tegas. Para guru bisa menyuruh siswa berhenti dengan nada tegas dan langsung menjalin kotak mata dengan murid, dan bersikap asertif agar siswa menghentikan tindakannya.
“Buat pernyataan, singkat dan pantau situasi sampai murid patuh. Strategi ini bisa dilakukan dengan mengkombinasikan strategi mengarahkan perilaku murid. Penting pula siswa diberi pilihan. Berilah siswa tanggung jawab dengan memilih dua pilihan, bertindak benar atau menerima konsekuensi negatif. Beri tahu siswa apa tindakan benar itu dan apa konsekuensi bila melanggar,” kata Carolyn.
Carolyn mengingatkan, situasi “lebih gawat” bisa terjadi di dalam kelas. Untuk itu guru harus melakukan intervensi moderat. Beberapa perilaku siswa yang salah membutuhkan intervensi yang lebih kuat ketimbang yang baru saja dideskripsikan pada intervensi minor di atas, misalnya, ketika siswa menyalahgunakan aktifitasnya, mengganggu, cabut dari kelas, mengganggu pelajaran, atau mengganggu pekerjaan murid lainnya.
“Strategi yang bisa dilakukan, banyak pilihan, misalnya jangan memberi privilege atau aktifitas yang mereka inginkan. Bila guru memperbolehkan murid untuk berkeliling kelas atau mengerjakan tugas dengan siswa lain dan ia malah menyalahgunakan privilege yang guru berikan atau mengganggu pekerjaan temannya, maka guru bisa mencabut privilege-nya,” kata Carolyn.
Selain itu guru dan siswa dapat membuat perjanjian behavioral. Atau membuat perjanjian yang bisa disepakati oleh semua siswa. Perjanjian ini harus merefleksikan masukan dari kedua belah pihak, yaitu guru dan siswa. Jika muncul problem dan siswa tetap keras kepala, guru bisa merujuk pada kesepakatan bersama yang telah dibuat.
“Bila cara-cara tadi belum juga ampuh, pisahkan atau keluarkan siswa dari kelas. Ini dapat dilakukan bila siswa tidak mengindahkan peringatan, “Anda bisa memisahkan ia dari siswa di sekitarnya ataupun mengeluarkannya dari dalam kelas,” kata Carolyn. Cara ampuh lainnya, mengenakan hukuman atau sanksi. Namun ia mengingatkan, menggunakan hukuman sebaiknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tetapi bisa dilakukan dengan memberikan tugas mengerjakan soal atau menulis halaman tambahan.

Trik Lain
Dalam sebuah tulisan di www.gurusukses.com, ada beberapa trik lain bagaimana mengatasi keributan yang tak diinginkan di dalam kelas. Pertama, masukilah dunia siswa. Guru dapat memasuki dunia siswa dalam pembelajaran melalui pertanyaan pancingan yang mengarah pada sesuatu yang sedang menjadi topik perbincangan siswa. Atau, guru mencermati apa yang sedang menarik perhatian siswa, kemudian membicarakan sesuatu yang menarik dari apa yang diperhatikan siswa tersebut. Sebentar saja. Tujuannya adalah untuk membawa siswa kepada pelajaran.
Selanjutnya, mencari hubungan apa yang diperbincangkan tadi dengan materi pelajaran, sehingga siswa memberikan perhatian kepada pelajaran. Namun jangan dipaksakan! Jika sebentar saja perhatian siswa kembali ke hal di luar pelajaran, maka berarti pelajaran hari itu memang tidak menarik bagi siswa.
Dalam situasi seperti ini guru harus cerdas dan kreatif untuk mengubah pelajaran yang tidak menarik itu menjadi menarik bagi siswa. Guru harus menemukan, apakah karena metode yang tidak tepat, materi yang terlalu sulit, komunikasi yang monoton tidak menginspirasi, atau karena tidak digunakannya media pembelajaran yang sesuai?
Apabila sudah ditemukan penyebab tidak menariknya pelajaran bagi siswa (kalah menarik dibandingkan dengan situasi di luar kelas), maka segera temukan solusinya, dan terapkan dalam pembelajaran. Guru akan menemukan bahwa sebenarnya tidak sulit mengelola situasi di kelas agar fokus pada pembelajaran ketika seorang guru memang sudah mencintai pekerjaannya, mencintai murid-muridnya, dan berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan dan keberhasilan murid-muridnya. Selamat mencoba!
(gns/dari berbagai sumber/nt)