Senin, 14 November 2011

Malaysia Kagumi Sikap Hormat Siswa Kita pada Guru

Para pendidik Malaysia ternyata sudah lama mengagumi sikap hormat para siswa Indonesia terhadap gurunya. Hal itu terungkap saat kunjungan 17 orang yang terdiri atas Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, pegawai Kementerian Pendidikan Malaysia dan pegawai LPMP Malaysia, ke SMPN 2 Ciamis dan SMKN 1 Ciamis, Selasa (1/11).
.....................................................

Ketika mereka melihat para siswa menyalami dan mencium tangan gurunya, mereka terkesima. Hal itu akui Penolong Kanan Pentadbiran SMK Dato’ Ahmad Arsyad, Ahmad Hourmain bin Hj. Sulai-man, salah seorang anggota rombongan saat melihat suasana sekolah di SMPN 2 Ciamis maupun di SMKN 1 Ciamis.
Lucunya, Ahmad Hourmain, malah bertanya pada Ganesha, faktor apa yang menjadikan para siswa begitu sopan pada guru maupun teman-temannya. Setahun lalu ketika SMPN 2 Ciamis kedatangan tamu dari Malaysia, pertanyaan serupa juga muncul.
“Faktor apa yang menjadikan mereka begitu hormat dan menghargai gurunya, apakah faktor agama, sosial ekonomi atau yang lainnya?” tanya Ahmad Hourmain .
Mendapat pertanyaan demikian, Ganesha sempat bingung. Pasalnya antara Malaysia dan Indonesia tak jauh berbeda dalam hal kepercayaan agama, kebiasaan dan adat istiadat masyarakatnya. Malaysia mayoritas Muslim, begitu pun dengan Indonesia. Namun rupanya rasa hormat seorang murid pada gurunya dan temannya di Malaysia tidak sekental di Indonesia.
Ganesha mencoba menjelaskan bahwa di Indonesia yang berperan mendidik siswa bukan hanya tanggungjawab sekolah semata. Tetapi juga melibatkan orang tua. Bukan karena faktor sosial ekonomi atau kesamaan agama. Tetapi memang pendidikan agama diajarkan pada para siswa sejak kecil.
“Para orang tua di rumah turut mendidik anak-anaknya dan menekankan pada mereka untuk menghormati guru. Demikian juga sebaliknya, di sekolah para guru menekankan pada siswanya untuk menghormati orang tua dan juga guru,” jelas Ganesha.
Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah mengerti atau bingung dengan penjelasan Ganesha yang menggu-nakan Bahasa Indonesia. Karena ada bebe-rapa istilah pada Bahasa Indonesia terka-dang berbeda arti dengan bahasa Melayu.
Lepas Tangan
Ahmad Hourmain mengatakan bahwa di Malaysia, para orang tua (khususnya etnis Cina) perannya hanya membayar biaya pendidikan ke sekolah. Selebihnya peran mendidik anaknya diserahkan pada sekolah. Si orang tua lepas tangan.
Karena sudah membayar sejumlah biaya pendidikan, maka hubungan orangtua dan siswa dengan sekolah seolah-olah berlaku hubungan timbal balik antara corporate dengan costumer.
Bisa dipahami bila kondisinya demikian, maka bukan tak mungkin hal-hal ‘sepele namun penting’ justru terabaikan.’ Contohnya dalam hal hubungan kemanusiaan antara guru dengan siswa, sikap hormat, kesantunan lambat laun akan diganti dengan sikap hubungan murni pihak sekolah sebagai sebuah lembaga dengan siswa dan orangtua sebagai pelanggan. Dalam hal ini materi (uang) sebagai jembatan hubungan sekolah dengan siswa serta orangtua murid, sangat berperan memberi kewenangan untuk menyatakan kepuasaan atau sebaliknya ketidakpuasaan.
“Kalau ada apa-apa pada anaknya, yang disalahkan pihak sekolah karena kita sudah bayar,” jelasnya. (Arief/Ganesha)

Tidak ada komentar: