Rabu, 21 Desember 2011

Ini Sekedar Nasehat di Akhir Tahun 2011

Ubah Paradigma Kuno yang Menyesatkan
Tahun 2011, tinggal hitungan hari akan berakhir. Bagi anda ini saatnya untuk mempersiapkan lebih baik lagi di tahun 2012 nanti. Baik dalam kinerja, baik dalam hati, dan baik dalam prilaku nyata. Pertanyaannya, selama tahun 2011, resolusi apa yang sudah Anda capai? Apa yang belum tercapai? Bagaimana dengan resolusi Anda di tahun baru 2012? Itu bisa jadi agenda Anda.
Sekedar untuk referensi anda agar lebih baik lagi di tahun 2012, di bawah ini ada tulisan berisi nasehat, pencerahan atau mungkin tips buat anda, anak anda atau para guru. Selamat membaca.
...............................

Pertama-tama saya hanya mau menanyakan beberapa hal yang sering sekali orangtua katakan pada anaknya. Mengapa mereka sering mengatakan, “Nak, belajar yang pintar, biar nanti gampang cari kerja.”
Sepertinya kok aneh sekali mereka bicara seperti itu. Dari kalimat tadi, ada dua tujuan yang bisa kita tangkap jelas: Belajar biar pintar.
Dua hal ini sebenarnya jelas-jelas paradigma yang dibangun kaum penjajah biar kita bisa dimanfaatkan dengan mudah.
Kenapa?
Pertama, biar pintar. Jadi kita dididik biar pintar saja, otak kita penuh dengan pelajaran-pelajaran. Kita tak dididik jadi orang yang cerdas, penuh akal, karena penjajah takut kita justru bisa mengakali mereka. Kita tak dididik jadi orang yang kritis, tanggap, dan demokratis, karena penjajah takut kita bisa memberontak seketika.
Kedua, cari kerja. Jadi kita dididik hanya untuk mencari pekerjaan, bukan untuk menciptakan pekerjaan. Penjajah hanya ingin kita bekerja untuk mereka, bukan untuk kita sendiri. Penjajah takut kita lebih maju dari mereka.
Jadi, kalau yang sampai saat ini masih menggunakan paradigma itu, maaf, Anda masih hidup dalam masa penjajahan.
Kalau hanya untuk pintar, beli buku saja di toko-toko buku sekitar kota anda tinggal. Satu minggu khatam 1 buku. Dijamin pintar. Kalau hanya cari kerja, sampah di jalanan masih banyak, menyapu di jalanan juga pekerjaan yang mulia bukan?

Introspeksi Diri
Tapi sekarang sudah terlanjur begini, apa yang bisa kita lakukan?
Gampang. Lakukan introspeksi diri. Cari hal apa yang sering bisa membuat Anda lupa makan, minum, tidur, bahkan bernafas.
Apakah editing video? Kalau iya, jadilah editor profesional. Gambar-gambar di Photoshop atau Corel? Jadi desain grafis saja. Atau menata ruang kerja anda, lebih menarik dan membangkitkan semangat bekerja mendidik anak bangsa. Guru layaknya harus punya ruang kerja, bukan hanya di sekolah tapi juga di rumah. Mungkin kamar sekaligus perpustakaan pribadi.
Jangan takut untuk beralih ke segala hal yang Anda sukai, ketika Anda berjuang untuk sesuatu yang Anda suka, seberat apapun tantangannya, pasti akan Anda hadapi dengan senang hati.
Berikutnya, fokus. Jadikan hobi sebagai fokus profesi Anda atau pelengkap aktivitas pokok. Jangan takut kalau nanti telah pensiun atau tidak dapat kerja, kerjaan itu bisa datang dari mana saja. Ketika Anda sudah menjadi profesional di bidang tertentu, pekerjaanlah yang akan mencari dan mengejar Anda.
Kalau hobimu mancing, profesional-lah di bidang mancing, lalu tunggulah pengusaha-pengusaha kolam pemancingan yang akan datang berkonsultasi tentang kolam ikannya atau pengusaha peralatan mancing yang meminta Anda menjadi kepala bidang research and development.

Ubah Paradigma Kuno
Saatnya kita tahu esensi pendidikan yang kita jalani saat ini, jangan sampai kita hanya menghambur-hamburkan uang untuk mengejar embel-embel SBI (Sekolah Berstandar Internasional), atau good will suatu universitas, bukan itu esensi pendidikan.
Seharusnya dunia pendidikan membuat yang berada di dalamnya menjadi insan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Bukan untuk menambah beban hidup orang tua atau menambah beban negara.
Cara belajar paling efektif adalah: Bekerja sambil belajar. Betapa banyak mahasiswa yang malas kalau suruh belajar? Itu karena tidak ada motivasi lain untuk belajar, kecuali untuk lulus ujian. Lihat bedanya, seorang pegawai swasta yang sangat antusias dalam mengikuti kursus brevet pajak meski begitu banyak aturan pasal-pasal dan tarifnya. Mereka sangat antusias karena mereka merasa butuh pelajaran itu untuk kehidupannya. Kehidupan nyatanya.
Di sini kita bisa lihat, dunia pendidikan seperti memiliki dunia sendiri dan tidak peduli dengan dunia nyata yang akan dihadapi oleh almamaternya. Ironis. Tapi kalau bekerja dulu sambil belajar, mana ada perusahaan yang mau nerima pegawai yang belum tahu apa-apa, dan baru mau belajar nanti kalau sudah kerja?
Hanya ada satu perusahaan yang mau menerima orang-orang seperti itu. Yaitu perusahaan Anda sendiri. Jadi, jangan takut untuk memulai untuk membangun perusahaan sendiri. Dan jangan bayangkan perusahaan itu harus yang megah, punya kantor, punya pegawai banyak, modal miliaran.
Coba tengok dulu forum Kaskus. Awalnya bukankah Kaskus ini didirikan hanya oleh 1 orang. Bang Andrew Darwish. Awalnya Kaskus hanya memiliki kantor di sebuah kosan kecil, sampai akhirnya sekarang punya kantor sendiri dan jutaan member.
Mulailah dari yang kecil, lihat sekeliling Anda, di sana banyak sekali peluang menanti. Dari sesuatu yang Anda mulai itu, bersiaplah untuk menjadi pribadi pembelajar, yang tak sadar bahwa sebenarnya Anda sedang belajar keras untuk meningkatkan kualitas diri.
Nah, jadi harusnya apa yang dipelajari di sekolah biar nyambung dengan dunia nyata?
Buang paradigma bahwa sekolah adalah tempat menimba ilmu. Sekolah seharusnya tidak hanya untuk menimba ilmu, tapi juga membangun sikap dan perilaku siswanya.
Mungkin akan lebih bijak jika sekolah SD tidak perlu memberikan pelajaran susunan pemerintahan, hukum, dan kewarganegaraan. Alangkah bijaksana jika SD hanya mengajarkan hal-hal yang nyata-nyata dibutuhkan untuk anak-anak seusianya. Mereka butuh bermain, butuh berinteraksi dengan teman-temannya. Mereka tidak membutuhkan les Matematika, les Bahasa Inggris, dan les-les lainnya.
Biarkan si anak mengutarakan keinginannya, kesukaannya. Berikan waktu yang cukup untuk mereka melakukan hobinya. Ketika sudah mulai beranjak dewasa, saatnya dunia pendidikan memberikan arahan untuk menjadi pribadi yang anggun.
Tanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas, kerjasama, gotong-royong, pantang menyerah, kreatif, kritis, atraktif. Sediakan ilmu-ilmu yang mereka butuhkan, yang mereka tanyakan kepada gurunya. Pertanyaan yang mereka dapatkan sendiri dari observasi sederhana dalam kehidupan mereka di rumah, bersama teman di lingkungannya, ataupun di lingkungan sekolahnya.
Jadikan sekolah tempat yang menyenangkan untuk berinteraksi, mencari dan menggali ilmu. Bukan menjadikan sekolah sebagai tempat untuk membuang uang, tenaga, pikiran, hanya untuk mencari titel bekal mencari pekerjaan. Lalu, kenapa mereka juga mengatakan: “Sudahlah, nggak usah mikir yang macam-macam, yang penting kuliah, belajar, pintar, terus kerja.”
Berapa banyak anak SMA/SMK yang melanjutkan ke perguruan tinggi? Banyak.
Berapa banyak lulusan perguruan tinggi yang sampai sekarang masih menganggur? Banyak.
Berapa banyak yang mengeluhkan lulusan perguruan tinggi tidak siap turun di dunia kerja? Banyak juga.
Jelas lulusan perguruan tinggi itu banyak yang tidak siap turun di dunia kerja karena memang tidak dididik untuk siap di dunia kerja. Mereka tidak dididik untuk siap dalam menghadapi problematika hidup.
Mahasiswa di perguruan tinggi itu, diajarin tentang ilmu-ilmu yang tinggi. Abstrak, tak bisa dibayangkan di dunia nyata. Sebenarnya bukan tak bisa dibayangkan, tapi tak butuh dibayangkan, karena mereka tak punya pengalaman dan juga tak butuh bagi implementasi di dunia nyata mereka untuk menganalogikan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang diterima dari kampus.
Mahasiswa itu dididik untuk selalu kritis atas pernyataan dosen. Mahasiswa itu dididik untuk siap sedia kalau mau ujian saja, sedangkan dunia kerja menuntut setiap yang kita kerjakan adalah ujian yang menentukan nasib pekerjaan kita selanjutnya. Jadi kalau mau cari kerja, bukan di perguruan tinggi tempatnya.
Di tempat kursus komputer, kursus menjahit, kursus bahasa, dan kursus-kursus lainnya yang mengasah kemampuan praktek, keterampilan, bukan hanya kemampuan otak.
Bukan berarti orang bekerja hanya butuh keterampilan dan tak butuh otak. Orang bekerja juga butuh otak, tapi bukan otak yang isinya logaritma, aljabar, statistika, manajemen keuangan, ekonomi makro, mikro. Bukan otak yang isinya hanya angan-angan tinggi. Tapi otak yang penuh akal, inspirasi, dan inovasi. Latihannya bukan dengan buku, tapi dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana menyiasati uang bulanan yang tiap tanggal 15 sudah tinggal 5 ribu perak? Bagaimana langganan internet bukan hanya untuk browsing BB+17, tapi bisa buat beli BB untuk kebutuhan dinamis. Itu yang dibutuhkan buat dunia kerja.

Hanya 10 %
Sudah banyak orang bilang, kalau ilmu yang kita terima di sekolah/kampus hanya terpakai 10% saja di dunia kerja. Tapi kenapa kita masih bela mati-matian sampai setengah mati berusaha dapat yang cuma 10% itu dengan beratus-ratus ribu hanya untuk beli formulirnya? Berjuta-juta untuk dapat topi yang ada gantungannya? Padahal itu cuman 10%!
Katanya, yang 90% itu EQ dan SQ. So, apa iya berteman itu bayar? Sejak kapan sholat harus bayar? Kenapa kita tak mati-matian melatih inovasi, kreatifitas, dan kejujuran? Apa orang jujur harus bayar juga? Apa belajar inovasi dan kreatifitas juga harus bayar? Bukannya inovasi dan kreatifitas yang membuat kita berusaha untuk memperoleh segala sesuatu dengan gratis? Kenapa coba bisa begitu? Konyol kan? Mencari burung rajawali yang terbang tinggi, padahal di depan mata ada merpati dalam sangkar.
Masih bangga dengan pendidikan tinggi?
Kalau bisa dikagumi tanpa harus berpendidikan tinggi, kenapa tidak? Zaman dulu it’s ok! Tapi sekarang pendidikan tinggi bukan sebuah kebanggaan semata!
Sekarang yang patut dibanggakan bukan pendidikan yang tinggi, tapi seberapa bermanfaatnya kita buat orang banyak. Sekarang jarang ada orang yang bermanfaat buat orang banyak. Sekarang isinya cuma berlomba memenuhi kantong sendiri buat anak istri cuma berlomba baca buku yang banyak biar nilainya bagus.
Lihat Bill Gates, Bob Sadino, apa yang dibanggakan dari mereka? Pintar? Sekolahnya pun tidak tamat. Yang dibanggakan dari mereka, betapa hebatnya manfaat yang mereka berikan untuk orang lain.
Jadi, zaman sekarang orang lebih kagum kalau melihat orang yang bisa memberikan manfaat buat orang banyak.
Maka jangan heran ada yang protes, anak-anak kita. “Mah, Pah, Bu, Pak, Ayah, Bunda, please... Ini bukan zamanmu lagi. Jangan paksa aku harus pintar. Aku tak bisa kalau harus dapat nilai 9 terus, tak bisa kalau harus IPK di atas 3 terus. Sekarang itu semua itu tak terlalu penting!”
“Aku ingin bermanfaat buat orang banyak! Biarkan aku melakukan hal kecil yang sederhana, yang penting bermanfaat buat orang banyak! Aku tak butuh ilmu yang macam-macam. Aku butuh ilmu yang bisa dipakai buat banyak orang!”
“Aku ingin membahagiakan kalian. Tapi apa engkau bahagia melihatku tersiksa? Aku tahu, kalian orang tua yang sangat menyayangiku. So, please let me do what i love. Bukankah ketika aku bahagia, kalian juga bahagia? Biarkan aku menjalani hidup dengan paradigma zjamanku sekarang, bukan paradigma zamanmu dulu!”
Bukan maksud hati sok tahu, orang tua tetap lebih berpengalaman, tapi pengalaman mereka adalah pengalaman zaman dulu. Sudah banyak berbeda dengan zaman sekarang. Tak ada alasan kalau kuliah tujuannya cuma membahagiakan orang tua. Terbalik! Orang tua menguliahkanmu biar bahagia. Kalau kamu ternyata tak bahagia kuliah, berarti selama ini cuma buang-buang uang, tenaga, pikiran, dan umur.
Kejarlah pendidikan yang memiliki tujuan untuk bekal hidup bahagia dunia akhirat.
Benar kan Mah, Pah, Ayah, Bunda?
(agus ponda/fimadani)

Tidak ada komentar: