Rabu, 07 September 2011

Guru Harus Pahami Anak Berbakat

“Seorang guru harus memahami kemam-puan anak-anak didiknya, apakah ia tergo-long biasa atau malah berbakat. Jangan salah memperlakukan anak berbakat.”
.................................
Setiap anak manusia terlahir hakekatnya telah membawa ‘modal dasar’ berupa potential ability untuk perkembangan selanjutnya. Namun setiap anak sekalipun ia lahir kembar, tidak ada yang sama. Artinya pula setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Ada anak yang memiliki potensi biasa-biasa, ada pula yang membawa potensi luar biasa.
Perbedaan individual ini menyebabkan tidak mudah memberikan pelayanan yang sesuai dengan masing-masing anak. Jika perbedaan itu tidak cukup signifikan, maka pelayanan secara massal atau kolektif dapat dilakukan. Jika perbedaan itu sangat men-colok, misalnya tingkat kecerdasan, kreati-vitas, kecacatan, dan motivasi, maka pada kondisi anak-anak seperti ini, maka diperlu-kan pelayanan dan perlakuan tersendiri sesuai potensi individualnya untuk mencapai perkembangan yang optimal yang sesuai dengan kebutuhan khususnya.
Anak-anak yang memiliki kelebihan potensi individual sering diidentikkan sebagai anak berbakat. Seorang anak dikategorikan anak berbakat, tak semata-mata karena mudah memahami segala sesuatu, mempunyai daya ingat baik serta mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan cepat. Bisa jadi mereka bukan siswa yang selalu berprestasi. Namun, ada sesuatu yang membedakan dirinya dengan siswa lain di kelas, yakni kewaspadaan (alertness), kemampuan memahami (quick insights), dan keterampilan lain yang lebih hebat dari anak lain seusianya. Hal ini membuat anak mampu menunjukkan prestasi luar biasa di sekolah. Satu ciri pasti yang ditunjukkan anak berbakat umumnya adalah skor IQ-nya tinggi.
Sementara pandangan lain yaitu pandangan yang berdasarkan dari sudut pandang berdimensi ganda. Menurut pandangan ini keterbakatan tidak hanya ditinjau dari segi kecerdasan tapi juga dilihat dari segi prestasi, kreativitas, dan karakteristik pribadi/sosial lainnya; dilihat dari segi kemampuan yang bersifat potensial maupun aktual (prestasi).
Hasil penelitian dan pengamatan dari para ahli menunjukkan bahwa anak berba-kat memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda dari anak lain pada umum-nya. Karakteristik dan kebutuhan yang mencakup aspek-aspek: intelektual, akademik, kreativitas, kepemimpinan, dan sosial, seni, afeksi, sensoris fisik, intuisi, dan ekologis.
Bagaimana perasaan guru jika ada anak didiknya yang diidentifikasi sebagai anak berbakat? Takjub? Bingung? Senang? Atau malah gelisah?
Harus diingat bahwa ternyata ada perla-kuan khusus bagi anak-anak yang memiliki kelebihan potensi di negara ini. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan antara lain bahwa “warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (Pasal 5, ayat 4). Di samping itu juga dikatakan bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya” (pasal 12, ayat 1b).
Memperlakukan anak-anak berbakat menjadi tugas penting seorang guru, di samping tentu pula memperhatikan anak-anak didik lainnya dalam kategori yang bebeda. Itu sebabnya sejak awal guru harus mulai menyadari si anak akan memiliki peri-laku berbeda dengan teman-teman sebaya-nya. Semakin tinggi skor IQ anak, kian mem-buat anak menjadi tidak tipikal. Biasanya 3-5% persen anak dari populasi sekolah tergolong gifted (berbakat). Jika ada 1000 siswa, maka paling tidak ada 30-50 anak yang tergolong gifted. Jika dalam sebuah kelas ada 40 anak, maka kemungkinan ada 2-3 anak yang tergolong berbakat.
Ciri Anak Berbakat
Untuk mengidentifikasi seorang anak apakah berbakat atau tidak, tidak terlalu sulit. Para guru dapat mempelajarai ciri-ciri anak berbakat. Menurut Treffinger, anak berbakat memiliki beberapa karakteristik yaitu: rasa ingin tahu yang tinggi, berimaginasi, produktif, independen dalam berpikir dan menilai, memiliki ketekunan, bersikukuh dalam menyelesaikan masalah dan berkonsentrasi ke masa depan dan hal-hal yang belum diketahuinya.
Sementara menurut Hoyle dan Wiks mendeskripsikan bahwa anak-anak berbakat menampilkan ciri-ciri perkembangan fisik yakni memiliki kemampuan berpikir superior, berpikir abstrak, menggeneralisir fakta, memahami makna dan hubungan, memiliki hasrat ingin tahu, bersikap mudah untuk belajar, mimiliki rentan minat yang luas. Selain itu anak memiliki kecakapan bekerja secara efektif dan mandiri, anak mampu mengingat secara cepat dan mampu membaca cepat. Ciri lainnya anak memiliki imajinasi yang luar biasa, menunjukkan inisiatif dan originalitas pekerjaan intelektual dan memiliki berbagai hobi.
Apabila karakterisitik tersebut tidak tersalurkan sebagaimana mestinya maka akan muncul masalah-masalah perkembangan berupa kebosanan terhadap pelajaran reguler, kesulitan hubungan sosial dalam kelompok seusianya, dan sulit berkonformitas pada kelompok.
Soal hobi misalnya, secara umum anak berbakat suka mengoleksi hal-hal yang menjadi minatnya. Misalnya perangko, komik, stiker, gantungan kunci, kerang dan lain-lainnya. Penuhilah kebutuhannya menjadi kolektor, karena melalui koleksi yang dimilikinya, kemampuan abstraksi anak menjadi semakin berkembang. Melalui koleksi ini anak akan mencari hal-hal yang sama, misalnya warna, ukuran, tekstur, atau ciri lainnya sehingga anak belajar melakukan klasifikasi dan perbandingan.
Perbedaan
Hal yang harus dipahami para pendidik bahwa anak berbakat berbeda perkembangannya dibanding teman sebayanya. Apalagi jika tingkat kecerdasan anak semakin tinggi. Kecendrungan bahwa secara fisik anak berbakat lebih kuat, lebih besar, dan lebih sehat dari anak normal. Reaksi-reaksi fisik terjadi lebih cepat dan lebih awal dari anak-anak biasa karena secara intelektual dia lebih mampu menyerap informasi dan stimulus dari luar. Perkembangan psikomotorik dan kemampuan koordinasi anak berbakat cenderung lebih cepat dari rata-rata.
Menurut Dr. Reni Akbar Hawadi Psi, Ketua Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, perbedaan-perbedaan yang dimiliki anak berbakat akan membuatnya merasa terasing dalam perkembangannya saat dia merasa harus bermain dan membangun persahabatan dengan anak-anak lain.
Bagi anak berbakat kebutuhan sosial dan emosional ini tidak dengan serta merta diperolehnya. Dikarenakan kelangkaan dan karakteristiknya, maka anak berbakat akan dilihat sebagai orang aneh dalam kelompok sosialnya. Ini sebenarnya yang menjadi tantangan diri seorang anak berbakat sesungguhnya. Anak harus mampu membawa dirinya agar bisa diterima baik oleh anak-anak yang lain.
“Perbedaan yang dimiliki anak berbakat sudah dapat dideteksi sejak bayi, seperti bisa berjalan atau berbicara lebih dini. Perkemba-ngan anak berbakat berada di atas 30 persen anak seusianya. Anak berbakat sering kali mampu melewati kesulitan belajar lebih cepat dari teman sebayanya,” ujar Reni.
Perkembangan yang cepat pada anak berbakat membawa konsekuensi adanya kebutuhan yang berbeda pada dirinya. Sebaiknya guru dan orang tua mendukung dan merangsang anak, namun tidak dengan tuntutan berlebihan. Jangan menghambat perkembangan unik anak dengan melemah-kan keinginannya mengeksplorasi lingku-ngan. Kebanyakan orang tua baru menya-dari anaknya tergolong anak berbakat saat mulai masuk prasekolah. Agar penanganan anak tidak terhambat, Reni menyarankan agar setiap orang tua memiliki semacam buku harian mencatat setiap perkembangan anak, “Pastikan mencatat setiap kali perilaku anak yang tidak biasa (unusual),” katanya.
Bakat pada Tingkatan Usia Sekolah
Di kelas-kelas Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar anak-anak berbakat sering tidak menunjukkan prestasi yang menonjol. Sebaliknya justru menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan, misalnya: tulisannya tidak teratur, mudah bosan dengan cara guru mengajar, terlalu cepat menyelesaikan tugas tetapi kurang teliti, dan sebagainya. Yang menjadi minat dan perhatiannya kadang-kadang justru hal-hal yan gtidak diajarkan di kelas.
Tulisan anak berbakat sering kurang ter-atur karena ada perbedaan perkembangan antara perkembangan kognitif (pemahaman, pikiran) dan perkembangan motorik, dalam hal ini gerakan tangan dan jari untuk menu-lis. Perkembangan pikirannya jauh lebih cepat daripada perkembangan motoriknya. Demikian juga seringkali ada perbedaan antara perkembangan kognitif dan perkemba-ngan bahasanya, sehingga dia menjadi berbicara agak gagap karena pikirannya lebih cepat daripada alat-alat bicara di mulutnya.
Pada tingkat SLTP anak-anak berbakat dapat diidentifikasi pula. Misalnya kemam-puan inteligensi umum yang sangat tinggi, biasanya ditunjukkan dengan perolehan tes inteligensi yang sangat tinggi, misal IQ di atas 120. Atau anak memiliki bakat istimewa dalam bidang tertentu, misalnya bidang bahasa, matematika, seni, dan lain-lain. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan prestasi isti-mewa dalam bidang-bidang tersebut. Hal lain anak berkreativitas yang tinggi dalam berpi-kir, yaitu kemampuan untuk menemukan ide-ide baru. Aspek bakat anak juga dapat dilihat dari kemampuan memimpin yang menonjol, yaitu kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan harapan kelompok. Atau anak memiliki prestasi-prestasi istimewa dalam bidang seni atau bidang lain, misalnya seni musik, drama, tari, lukis, dan lain-lain.
Pertanyaannya, bila di dunia ini selalu ada anak-anak berbakat, perlukah sekolah khusus untuk anak berbakat? Tentu perlu, tapi itu bukan hal yang mudah untuk mewujudkannya. Yang jelas di setiap sekolah selalu ada anak yang berbakat, di setiap kelas selalu ada anak yang memiliki kelebihan di banding teman-temannya.
Di Indonesia hingga kini kita hanya mengenal kelas akselerasi (percepatan) untuk anak-anak berbakat (gifted children). Sesungguhnya kelas akselerasi sudah banyak ditinggalkan, anak berbakat yang paling tepat adalah masuk ke kelas inklusi. Andaikan hanya mengupayakan kelas akselerasi saja, anak ini tidak akan terdeteksi sebagai anak berbakat dan juga tidak akan menerima pendidikan sebagaimana keunikan, kesulitan, dan kebutuhannya. Kesemua ini mengancam nasibnya di kemudian hari.
Apa yang dibutuhkannya anak-anak berbakat dalam pendidikannya adalah bimbingan guru yang memahami berbagai karakteristiknya, personalitasnya, tumbuh kembangnya, gaya berpikir, dan gaya belajarnya, yang memang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya.
Mereka butuh pendekatan pembelajaran dua arah sekaligus. Pertama ke arah kesuli-tannya di mana ia membutuhkan dukungan, stimulasi, terapi, remedial teaching, dan kesabaran. Kedua, membutuhkan berbagai materi yang sesuai dengan karakteristik berpikir seorang anak berbakat yang lebih kepada materi yang penuh tantangan pengembangan kreativitas dan analisis.
Sekolah reguler sebenarnya juga mampu menerima anak-anak berbakat agar dapat mengikuti pendidikan bersama anak lainnya, sekaligus juga menerima layanan pengemba-ngan keberbakatan, namun yang lebih khu-sus lagi adalah kelas atau sekolah inklusi.
Pendek kata, dalam hal ini guru harus memperlakukan semua anak didiknya dengan adil dan bijaksana. Memang ada beberapa perlakuan yang sifatnya umum dan dapat diberlakukan untuk banyak anak, tetapi seharusnya tidak boleh mengorbankan kebutuhan individual anak termasuk untuk anak-anak berbakat.
(dari berbagai sumber/agus ponda/ganesha)

Tidak ada komentar: