Senin, 16 Januari 2012

Mulai 2012 ini,

Jadilah Guru yang Disukai Siswa
Sebagai seorang guru, manakah yang anda inginkan disukai siswa, ditakuti siswa, atau malah dibenci siswa? Pilihan ada pada diri Anda sendiri. Namun yang jelas semua guru pasti ingin dirinya disukai anak didiknya. Bila Anda belum merasa disukai anak didik, lakukanlah beberapa hal agar disukai mereka. Dan bila Anda sudah merasa menajadi guru favorit, jangan lengah, sebab bisa saja tahun ini predikat Anda diganti guru lain.
.................................

Walaupun ada anggapan, guru ilmu-ilmu eksakta cenderung tidak disukai para siswa, sebenarnya suka tidaknya para siswa pada guru bukan semata karena materi yang diajarkan.Atau tingkat sulit mudahnya sebuah pelajaran. Buktinya ada juga guru matematika atau fisika yang justru disayang dan dielu-elukan siswanya.
Banyak asfek yang menjadi sebab siswa bisa menyukai gurunya, diantaranya penampilan, model pembelajarannya (akting di depan siswa), dan semacamnya. Lalu bagaimana kiat-kiatnya? Ini ada beberapa hal yang sudah dilakukan berdasarkan pengalaman dan pengamatan, semoga, Anda bisa melakukan dan mengambil pelajarannya. Berikut ini tips-nya :

Pertama, ingat, guru bukan penjual kecap atau obat. Tapi guru ibarat penjual obat, maka harus pandai-pandai “menarik perhatian” calon pembeli obat (siswa).
Penyampaian materi pelajaran sangat terkait kehebatan bahasa yang Anda gunakan. Hebat bukan berarti selalu memakai bahasa ‘tinggi’ tapi bahasa yang gampang dipahami siswa sesuai tingkatan umurnya.
Di kelas, usahakan tidak monoton memperbincangkan masalah materi, namun juga masalah di sekitar kita, juga selingi dengan guyonan yang positif agar siswa tidak merasa tertekan oleh sulitnya materi pelajaran. Ketika perhatian anak mulai menurun, selipkan ‘senjata’ ini agar suasana dapat terkendali. Tak apa-apa beberapa saat keluar dari materi pokok atau kelas diisi tawa siswa. Selanjutnya siswa kembali diajak menikmati ‘dagangan’ pelajaran.

Kedua, guru merupakan “aktor/aktris” yang harus tampil sebaik mungkin di depan kelas agar penonton senang dan selalu menunggu aksinya, dalam film diibaratkan bintangnya. Namun ingat jangan sampai Anda berlaku over acting. Ingat penampilan juga harus dijaga. Guru harus memberi contoh berpakaian yang sopan dan tepat dengan situasi.
Penilaian siswa terhadap guru memang kerap diidentikkan dengan aktris sinetron atau penyanyi. Ada guru yang ganteng kalem berkacamata, dimiripkan penyanyi Afgan. Ada guru cantik, mirip artis Syahrini disukai karena memang guru yang hebat.
Tapi ingat ganteng atau cantik ternyata juga tak menjamin guru disukai siswa. Buktinya ada juga siswa yang sebel dengan gaya guru seperti artis. Lalu ada pula siswa sekolah lanjutan yang blak-blakan mengaku tidak bisa konsentrasi bila diajar oleh guru cantik bak artis.
“Habis Bu Ida cantik banget, saya sampai ngacay lihatnya! Gimana mau konsen ke pelajaran?” begitu kata seorang siswa kaki-laki.
Ini bukan bohong. Siswa SLTP di Ciamis ada yang berkata begitu. Setiap diajar guru cantik, bawaannya bengong melulu. Dan ternyata ia punya alasan yang sepintas mengada-ngada tapi sebenarnya masuk akal. Anak SLTP/SLTA sedang berkembang, baik dari segi psikologis, maupun biologis.
Artinya hati-hati, mengajar anak SD beda dengan mengajar di tingkat SLTP/SLTA. Penampilan guru, dandanan, sikap dan gerak-gerik harus terjaga dengan baik.

Ketiga, guru ibarat pelawak, maka Anda harus pandai membuat suasana penonton senantiasa tertawa sumringah. Jika pelawak itu tidak tampil, maka penonton selalu menunggu-nunggu dan ingin sekali menyaksikan aksi kocaknya, tentunya dalam batas-batas kewajaran dan situasi yang sesuai.
Masalahnya, anda punya bakat melucu? Bila punya gunakan potensi itu. Bila tidak, jangan bilang susah melawak.
Banyak cara agar siswa tertawa atau tersenyum. Anda bisa mengoleksi kumpulan joke yang lucu-lucu tapi wajar. Hapalkan dan berikan pada siswa. Atau mengumpulkan pantun lucu, tebak-tebakan, SMS lucu dan sejenisnya. Internet, buku, dan koran bisa jadi referensi humor Anda.

Keempat, guru ibarat seorang ibu yang menggendong bayinya/anak kecil, kemanapun dan apa saja yang diminta, dimaui anak berusaha untuk memenuhinya. Mampu memahami keinginan anaknya, dan selalu menunjukkan rasa kasih sayangnya.
Jika ada siswa yang ramai, usil, dan suka membuat gaduh jangan dianggap anak itu nakal, anggap saja siswa tersebut “kelebihan energi”. Tinggal gurunya pandai-pandailah mengarahkan ke hal yang fokus/baik, yaitu KBM-nya, misalkan dengan meminta seluruh siswa memperhatikan “oknum” siswa tersebut. Dia pasti akan malu sendiri.
Janganlah cepat memarahi siwa kita dari pada memujinya. Jadi cepat-cepatlah dan seringlah memuji kita, baik dia mampu atau belum mampu mengerjakan soal. Jika belum mampu mengerjakan soal, cobalah kasih pertanyaan bimbingan (pertanyaan yang mengarah ke jawaban), sehingga siswa tidak merasa malu meskipun dia tahu jika belum bisa, tetapi justru yang diharapkan siswa yan belum bisa itu adalah bimbingan guru, bukan marahnya. hindari marah sebisa mungkin.
Jika terpaksa harus marah, segera meminta ma’af dan menjelaskan alasannya kenapa guru harus marah agar siswa lebih memahaminya.
Kenali gaya/model masing-masing anak dan jangan menyamaratakan. Cobalah sering memberi hadiah (baik itu verbal/pujian maupun nonverbal). Contoh nonverbal: menepuk pundak karena anak mampu menyelesaikan tugasnya.
Akan lebih bagus lagi guru sering memberi motivasi berupa benda meskipun kecil/murah harganya atau cash-money misalnya. Ini akan memotivasi anak dan meningkatkan antusias anak. Berilah hadiah tertentu kepada siswa yang mendapatkan nilai paling bagus, atau sesuai target guru yang ditetapkan sebelumnya.
Jika ada anak yang “bodoh” cobalah didekati, diajak curhat. Jangan melukai anggota badan siswa (ini prinsip), kecuali dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika siswa kita pendiam semua, tak ada yang mau bertanya, cobalah teori berikut ini:
Seluruh siswa diminta latihan mengacungkan jari berkali-kali, ingat ini hanya latihan dan bukan bertanya. Tunjuklah salah satu siswa “pendiam” itu dan diminta mencoba bertanya “sesuatu apa saja – tidak harus berkaitan dengan topik pelajarannya,” nanti lama kelamaan dia akan berani bertanya dan terbiasa mengacungkan jari. Intinya adalah melatih keberanian siswa menanggapi sesuatu.
Pada latihan yang ketiga, cobalah tunjuk lagi seorang anak untuk menanyakan soal sesuai topik, jangan dimarahi atau diejek/dicemooh, termasuk teman kelasnya. Bagi yang nekad mengejek, tunjuk aja dia suruh bertanya. Pada latihan ke-4, coba tanyakan kepada siswa kita “Siapa yang ingin bertanya tentang pelajaran ini?” Jika tidak ada yang mengacungkan jari, cobalah guru menanyakan soal sesuai topik.
Selamat mencoba. Bila kurang setuju silakan gunakan cara sendiri-sendiri, asal jangan sampai menggunakan kekerasan dan pemaksaan. Semoga tahun ini Anda terpilih menjadi guru yang paling disukai para siswa.
(agus ponda/ganesha/nt)

Alhamdulillah... Tahun Ini Gaji Guru Takkan Dipangkas

Tahun 2011 sudah usai. Memasuki tahun baru 2011 seharusnya ada kabar sangat baik buat guru: gaji naik lagi! Tapi ternyata belum ada kabar soal itu. Yang ada kabar: gaji guru takkan dipangkas. Masih terhitung kabar baik juga kan? Daripada gaji dikurangi pemerintah?!?!
....................................................
Ini masih kabar baik bagi para guru. Pemerintah menjanjikan tidak akan pernah mengurangi gaji guru meskipun sejumlah pihak menilai gaji guru menyedot banyak anggaran di APBN setiap tahunnya. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, gaji guru yang layak sudah merupakan kewajiban negara yang harus diberikan kepada para guru.
"Gaji guru itu jangan dikurangi, karena akan merusak hak guru. Pemerintah tidak apa-apa harus membayar dengan jumlah yang besar, asal diimbangi dengan kinerja yang bagus dari para guru," ungkap Nuh kepada pers di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Kamis lalu.
Nuh menjelaskan, pemerintah punya cara tersendiri untuk dapat mengoptimalkan gaji guru yang telah disalurkan. Yakni dengan cara membenahi jumlah rasio guru. Disebutkan, saat ini rasio guru dan murid di Indonesia adalah 1 : 14. Sedangkan yang ditargetkan adalah 1 : 24.
"Bagaimana caranya? Caranya, para guru harus bisa multi grade teaching. Jadi, satu guru jangan hanya mampu mengajar satu mata pelajaran, tetapi minimal bisa mengajar 2 mata pelajaran. Toh waktu di S1-nya kan tidak diajarkan satu pelajaran saja toh? Kan ada matematikanya dan lainnya," jelas Nuh
Nuh mengatakan, jika cara optimasi guru itu bisa dilakukan, maka jumlah guru di Indonesia bisa direduksi hingga 50 persen. Maka populasi guru pun juga bisa ditahan. "Begitu bisa ditahan, maka gaji guru di dalam APBN tidak terus membengkak. Sehingga, kenaikan anggaran di APBN 20 persen tidak harus disedot ke gaji guru terus," tandasnya.
Seperti diketahui, APBN 2012 sebesar sekitar Rp 1.436 triliun, sedangkan anggaran untuk fungsi pendidikan dialokasikan sekitar Rp 289 triliun. Dari anggaran tersebut dirincikan, anggaran pendidikan di pemerintah pusat sekitar Rp 102 triliun, anggaran di pemerintah daerah sebesar Rp 186 triliun, dan dana abadi sebesar Rp 1 triliun.

55% dari Anggaran Pendidikan
Dari APBN 2012 yang mengalokasikan Rp 286,6 triliun untuk pendidikan, dana sebesar itu setara dengan 20 persen dari total APBN. Sayang, sebagian besar dana itu habis untuk gaji dan tunjangan guru.
Penggunaan dana pendidikan dibagi menjadi beberapa bagian. Di antaranya untuk tunjangan profesi guru PNS daerah yang belum lulus sertifikasi mencapai Rp 30,6 triliun. Dari anggaran di pemerintah daerah yang mencapai angka Rp 186 triliun, pemerintah mengalokasikan untuk gaji guru mencapai Rp 130 triliun, anggaran untuk Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan sebesar Rp 10 triliun , anggaran untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp 23,6 triliun dan sisanya untuk kebutuhan lainnya.
Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo menuturkan, komposisi atau porsi anggaran gaji dan tunjangan guru mencapai 55 persen dari total anggaran pendidikan.
“Sisanya baru untuk peningkatan mutu pendidikan dan dibagi lagi dengan proyek-proyek pembangunan,’’ terangnya.
Pria yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Provinsi Jawa Tengah itu menjelaskan, pernyataan Presiden SBY saat gebyar Hari Guru Nasional beberapa waktu lalu perlu dikoreksi. Menurut Sulistyo, pernyataan SBY bahwa anggaran pendidikan tahun 2012 naik adalah tidak tepat. Pemerintah harus memecah anggaran gaji dan tunjangan guru dari pos anggaran fungsi pendidikan.
Sulistyo lantas merujuk ayat 1 pasal 49 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Sudah jelas, dalam undang-undang itu dinyatakan bahwa anggaran pendidikan minimal 20 persen di luar gaji serta tunjangan guru dan pendidikan kedinasan,’’ tuturnya.
Dia lantas menceritakan, semula gaji dan tunjangan guru masuk dalam struktur anggaran fungsi pendidikan. Ketetapan ini diambil pada 2007 lalu. Tepatnya, setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memenangkan gugatan bahwa gaji guru termasuk dalam anggaran pendidikan.
Dengan melekatnya gaji dan tunjangan guru dalam struktur fungsi pendidikan, Sulistyo memperkirakan anggaran yang benar-benar untuk meningkatkan kualitas pendidikan hanya 10 persen dari APBN. “Bahkan, di beberapa daerah, anggaran pendidikan semakin kecil setelah dipotong gaji dan tunjangan guru,’’ ucap Sulistyo.
Organisasi profesi guru tertua itu berharap, pemerintah mengkaji lagi sistem pengucuran anggaran fungsi pendidikan. Sulistyo mengatakan, sikap PGRI masih tegas supaya gaji dan tunjangan guru dipisahkan dari anggaran fungsi pendidikan. Dengan demikian, pengembangan kualitas pendidikan bisa lebih meningkat.
Dia juga mengkritik kecende-rungan instansi-instansi pendidi-kan. Termasuk di antaranya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hingga dinas pendidikan provinsi, kota, dan kabupaten. Sulistyo menjelaskan, instansi-instansi ini kerap menggenjot penggunaan anggaran menjelang tutup tahun. Kecenderungan itu membuktikan bahwa anggaran fungsi pendidikan yang disalurkan belum sampai ke tingkat satuan pendidikan secara optimal. (gns/jps/nt)

Jumlah Guru Perempuan Masih Dominan

Wow, 335 Sekolah Dipimpin Kepsek Perempuan!
Setiap tanggal 22 Desember bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu. Berkenaan dengan peringatan Hari Ibu, Tabloid Ganesha menurunkan tulisan tentang guru perempuan dan tenaga kependidikan lainnya di Kabupaten Ciamis. Wawancara pun dilakukan dengan Kasubag Kepegawaian dan Umum Disdik Kabupaten Ciamis, Drs. U. Sukiman. Pejabat yang paling paham urusan kepegawaain, termasuk pegawai kaum hawa itu bertutur soal guru perempuan. Berikut liputannya.
....................................

Menurut data yang ada, di Kabupaten Ciamis guru perempuan lebih banyak jumlahnya dari pada guru laki-laki. Dari sekitar 13 ribu guru, lebih dari setengahnya adalah perempuan.
Saat ini guru perempuan banyak terse-bar di berbagai tingkatan sekolah mulai dari guru TK sebanyak 375, SD 7922, SMP 2008, SMA 772, dan SMK 330 orang sehingga totalnya mencapai 11.407 orang. Dari jum-lah itu, sekitar 335 guru perempuan berani mengambil pilihan menjadi kepala sekolah mulai dari tingkat dasar hingga SLTA.
Hal ini dikemukakan oleh Kasubag Kepegawaian dan Umum Disdik Kabupaten Ciamis, Drs. U. Sukiman, ketika ditemui di Ganesha di ruang kerjanya baru-baru ini. Menurut U. Sukiman, banyaknya guru perempuan bisa disebabkan jumlah pendu-duk di Indonesia kebanyakan kaum perem-puan. Komposisi ini berpengaruh pada jumlah guru perempuan termasuk di Tatar Galuh. Sukiman juga yakin, secara faktual, minat kaum perempuan menjadi guru cukup tinggi, bahkan cenderung meningkat.
“Itu bisa kita lihat datanya. Angka melanjutkan menurut data yang ada di FKIP beberapa perguruan tinggi di Ciamis, juga mencatat banyaknya jumlah perempuan yang meneruskan studinya di program keguruan dan ilmu kependidikan,” ujar Sukiman.
Ini menandakan di tengah makin baiknya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru, masyarakat pun banyak yang berpikiran bahwa profesi guru sangat cocok dijalani kaum perempuan.

Sama dengan Laki-laki
Terkait dominannya jumlah guru perempuan, Sukiman mengaku, tak ada perbedaan perlakukan pada guru perempuan dibanding guru laki-laki.
Contohnya dalam hal dalam pemenuhan kewajiban kerja sama saja. Beban kerja guru terutama guru PNS tidak berdasarkan perbedaan gender.
“Meskipun kebanyakan guru dari kalangan perempuan tetapi untuk pemenuhan kewajiban tugas pokoknya sama dengan laki-laki. Apalagi saat ini setiap guru dituntut untuk 24 jam tatap muka dan itu berlaku bagi guru perempuan maupun laki-laki,” ujar Sukiman.
Lebih lanjut Sukiman menuturkan dalam karier kepangkatan, guru perempuan juga tidak kalah dibanding dengan laki-laki. Hal ini bisa terlihat dari data yang ada bahwa-sannya dari 1046 SD, 330 orang diantaranya dipimpin oleh kepala sekolah perempuan, dan dari 110 SMP 4 diantaranya dipimpin oleh kepsek perempuan, sementara kepala sekolah SMK baru 1 orang dari kalangan perempuan. Artinya lebih dari 30% sekolah di Kabupaten Ciamis dinakhodai seorang guru perempuan.

Tertinggal di Struktural & Akademik
Sukiman menilai kepemimpinan guru perempuan di sekolah cukup baik dan secara umum sangat mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Ciamis. Namun jumlah tersebut ternyata tidak dibarengi peningkatan jumlah pegawai di tingat struktural. Di struktural sendiri khususnya di lingkungan dinas pendidikan, jumlah perempuan yang memangku posisi tinggi sangat rendah.
“Untuk struktural sendiri khususnya di lingkungan dinas pendidikan baru 2 orang yang menjabat kepala seksi dari perempuan, yaitu Kasi Kurikulum SMA/SMK dan Kasi PAUD,” imbuhnya.
Namun disinggung mengenai kualifikasi pendidikan, guru perempuan masih terting-gal dibanding guru laki-laki. Terlebih untuk kualifikasi akademik setara S2, Sukiman me-ngungkapkan baru beberapa persen saja guru perempuan yang sudah berkualifikasi S2. “Saat ini yang sudah berkualifikasi S2 baru 68 orang, tersebar di kepala sekolah SD sebanyak 11 orang, guru kelas 5 orang, 19 orang SMP, 15 orang SMA, 7 orang SMK dan 11 orang pengawas sekolah. Untuk melanjutkan ke jenjang S2 kebanyakan guru perempuan itu banyak pertimbangannya,” terangnya.

KUPTD Pendidikan Kosong
Selain itu, lanjut Sukiman, sampai saat ini belum ada perempuan yang menjabat seba-gai kepala UPTD. “Ini bukan berarti perem-puan tidak mampu, tetapi potensi ke arah sana ada. Hal ini terbukti dengan masuknya berkas-berkas untuk pengajuan penyelek-sian calon kepala UPTD. Dan dalam hal ini kami tidak membeda-bedakan gender, berkas yang masuk asal sesuai dengan kriteria akan kami ikutsertakan dalam seleksi calon kepala UPTD,” ungkap Sukiman.
Begitu pula dalam penempatan suatu jabatan, lanjut Sukiman, tidak membeda-bedakan gender, tetapi dilihat dari kemam-puannya. “Perempuan juga bisa menempati jabatan apapun sesuai dengan kemampuan-nya, di samping mampu juga harus ada kemauan untuk bisa menyelesaikan tugas-tugasnya. Dan yang terpenting harus mau membaca peraturan perubahan yang ada. Terus terang kami juga bangga karena memiliki trainer atau assesor PK Guru dari kalangan perempuan,” ujar Sukiman.
Menutup pembicaraan, Sukiman berharap guru perempuan tidak boleh manja. “Dalam segala hal guru perempuan harus bisa mandiri, jangan hanya ingin dilayani segala sesuatu-nya. Begitupun dalam peningkatan kualifikasi pendidikan untuk mendukung kualitas pendidikan jangan hanya asal-asalan saja. Karena bagaimana pun kita merasa bangga dengan peran ganda guru perempuan, selain mendidik siswa juga mendidik anak-anaknya di rumah,” pungkasnya. (ayu/agus ponda/ganesha)